Showing posts with label about time. Show all posts
Showing posts with label about time. Show all posts

Wednesday, August 22, 2018

284 ㅡ ♕ Tak perlu kau kembalikan, hati yang kuberikan, sebab aku yang memanggilmu di tengah keramaian.







Rinai hujan menyadarkanku akan arti dari sebuah pengharapan, di mana aku menjadikanmu tujuan, tanpa adanya persetujuan.
Terik mentari mengajarkanku bahwa aku membutuhkanmu, meski tak bertemu, kau menghantuiku.
Lembayung senja memberiku kesan tentang indahnya merah jingga, yang bangga, menjaga setiap rasa.
Kelamnya malam membuatku tahu akan gelap gulita, yang membuatku berpinta, jadikan aku selamanya.







Titik air mata, hanya untuk melepas kepedihan semata, karena kau tak tahu apa arti menjaga.
Salahku memang, menduga kau akan datang, membawa bintang, tanpa perasaan bimbang.
Kau bahkan tak meminta, hati yang kuberikan sebagai hadiah, karena aku suka, sejak awal pertama.
Aku mengira kau sama, menunggu bulan purnama, meski lama, bersama menciptakan panorama.





Ternyata, selama ini semua begitu nyata, hanya aku yang terlalu percaya, langkah membawamu menuju di mana aku berada.
Ternyata, hanya aku yang meminta, untuk dijadikan yang pertama, meski nyatanya aku bukan siapa-siapa.
Ternyata, aku tidak berhak mencinta, karena aku tak diperbolehkan berpinta, semua yang kuduga, berakhir sia-sia.
Ternyata, lagi-lagi aku sendiri, seperti tak pernah ditemani, dilingkupi sunyi, menyembunyikan diri.






Aku tidak bisa lagi melangkah, bisakah kau berhenti menjelajah?
Aku tidak menyukai kata mampir, karena itu sama saja dengan hampir.
Aku tidak bisa lagi percaya, maukah kau yang lebih dulu membuka?
Aku tidak berani sudahi saja, karena itu sama saja seperti aku tak pernah berusaha.








Malam ini, aku kembali berpikir, jikalau aku berhenti, apakah kau akan bersenang hati?
Sejak pagi, aku sudah termenung, menjadikan hariku mendung, apakah kau tetap berlindung?
Senja tiba, aku tidak memiliki apa-apa, hanya sapa dan tawa, apakah kau akan setia?
Tengah malam, aku putuskan, tak perlu kau kembalikan, hati yang kuberikan, sebab aku yang memanggilmu di tengah keramaian.

Tuesday, August 21, 2018

283 ㅡ ♕ Berteman sepi, bersama puisi, tanpa kau di sisi.

Berteman sepi, bersama puisi, tanpa kau di sisi.
Dirundung pilu, menangis tersedu, merindu melalui lagu.
Dihujani air mata, mengingat hari bercengkrama, saat kau membuatku tertawa.
Berharap kau datang, membawa bintang, mengajakku terbang.

Mungkin bukan saatnya, belum waktunya, tak untuk selamanya.
Perasaan semu, bersamamu, benarkah itu?
Terasa begitu nyata, walau tak kasat mata, hati ini bertanya:
Maukah kau simpan, hati yang berdetak pelan untukmu, Angan?



Monday, August 20, 2018

282 ㅡ ♕ Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, aku...

Untuk pertama kalinya, aku kembali merasa, berlindung di balik asa, membuatku terbang ke angkasa.
Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, aku lagi-lagi berpikir sama, kau dan aku satu irama.
Untuk pertama kalinya, perasaan ini berbeda, terasa begitu nyata, membuatku terlena.

Tetapi... untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, aku...

Untuk pertama kalinya, patah, jatuh, hingga titik terendah.
Untuk pertama kalinya, hancur, melebur, tak ingin dihibur.
Untuk pertama kalinya, ingin sendiri, menyendiri, seorang diri.


Sunday, August 19, 2018

281 ㅡ ♕ Biar aku yang jatuh, meski tak lagi utuh, setidaknya... hatiku untukmu, menyeluruh.



Aku ingin menjadi pagi yang membangunkanmu dari mimpi.
Aku ingin menjadi senja yang selalu kau rindukan kehadirannya.
Aku ingin menjadi malam yang membuatmu tenggelam dalam kelam.
Aku ingin menjadi dunia yang kau perjuangkan seutuhnya.

Kembali menorehkan tinta berwarna di atas kertas putih, memberanikan diri untuk menulis isi hati. Pertanda baik, keadaan hati mulai membaik, meski bukan yang terbaik. Walau nyeri masih terasa, kehancuran berkeping-keping tak lagi menjadi masalah. Sudah menerima, lebih tepatnya, sejak awal semua memang fana. Tercekat, karena tak mampu memikat, untuk mengingat. Sudah lupa, anggap saja sudah pergi jauh, entah ke mana. Bukan apa, demi siapa perasaan ini mekar bak bunga mawar? Bukan siapa-siapa, memang engkau sendiri siapa?






Aku, yang berusaha menerima.
Aku, yang berharap kau menoleh.
Aku, yang berjuang agar kau tak sendiri.
Aku dan kau, yang tak pernah nyata.

Tak tahu arah, mengalah, demi kepala yang diharapkan tertoleh ke belakang. Tak tentu arah, mencoba marah ketika hati lelah, karena kau jauh di sana, tak tahu apa-apa. Tak ingin mencari, namun kau seolah menari, membuat diri tak berhenti berpikir indahnya sanubari yang terisi akan semua tentangku. Tahu betul, mana mungkin dari sebuah kebetulan menjadi harapan? Tahu pasti, mana mampu menggerakkan hati yang telah lama mati? Atau, nyatanya tak pernah sepenuh hati melihat diri ini tersenyum penuh arti. Semua sama, pikirmu demikian, bukan? Boleh, pikirmu bisa melelehkan hatiku. Sudah, usai kau lakukan, pun aku tak butuh pertanggungjawaban. Hati tak pernah menyangka, kau akan menjadi penjaga. Hati tak pernah memaksa, aku dan kau, berakhir sama. Hati ini berdetak untukmu walau tak paham di mana letak milikmu, dan yakin, mana mungkin kau menghentakkan kaki berjalan ke arah di mana aku berada. Perlahan, aku paham. Permainan yang melibatkan hati, selalu mengundang perih. Aku mengangkat tangan, tak mau ikut ambil bagian. Sejak dulu sudah aku sampaikan, aku tidak akan memulai semuanya lagi, sebab luka yang diberikan, tak pandang buluh. Menyerangku seakan aku mudah untuk ditaklukkan. Aku sempat ketakutan, membayangkan perasaan yang tak pernah berakhir sesuai harapan, kembali ke permukaan. Lantas, untuk apa engkau berkunjung, membiarkan balon harapan yang namamu kusematkan di dalamnya, terbang ke angkasa, jika kau tak berujung ingin tinggal, membuatku mempertanyakan akal yang selama ini kupergunakan untuk membuatmu terpingkal-pingkal?






Aku tidak bisa menentukan akhir.
Bisa jadi, aku dan kau tak memiliki akhir.
Berjalan berdampingan walau tak menentu di akhir.
Alangkah indahnya, aku dan kau bersama menentukan akhir.

Mempertanyakan kebahagiaanku, mereka tertawa bagai aku tidak berarti, karena tak ada siapa pun di sisi yang ingin berbagi kasih. Suatu hari nanti, kau akan bertemu dengan pemuja yang sesungguhnya, kata mereka. Menjadikanmu putri, tak peduli bagaimana, siapa, apa, dan di mana. Nanti, suatu hari nanti, bukan sekarang, gadis malang. Untuk kali ini, bersabar menunggu yang terkasih datang, hingga nanti mendapatkan dia yang menyuarakan isi hati dengan lantang: hanya kau satu-satunya penguasa hati. Aku menantikan kehadiranmu di dalam kediamanku yang terasa semu. Sudah lama aku berhenti merasa. Kuputuskan untuk berhenti menciptakan mimpi yang kuanggap nyata demi membahagiakan hati. Saat kau datang, aku tertantang, membuatku mulai ingin dan berani melihat masa depan yang terbentang, memanggilku terbang untuk bertemu dengan titik terang. Sungguh, aku tidak pernah ingin menyelipkan harapan, tetapi entah mengapa, aku selalu menjadikanmu angan. Bukan salahmu, pun juga bukan masalahmu. Aku yang kalah, mengalah karena lelah sudah terlalu mudah memberi. Maka dari itu, aku akan menjaga hati ini seorang diri. Tidak perlu takut, aku tak akan menyikut, dan membuatmu ikut tenggelam dalam laut kelam nan dalam yang kuciptakan untuk bersembunyi. Kubiarkan kau pergi, membawa hati yang tak sepenuhnya pernah kumiliki. Kubiarkan engkau berjalan, lagian, aku tak pernah benar-benar menjadi bagian dalam kehidupanmu yang nyaman, bukan?



Biar aku yang tenggelam, berteman kelam, dipeluk malam.
Biar aku yang merindu, menyisakan candu, melepas bayangmu.
Biar aku yang merasa, hingga putus asa, dihempas masa.
Biar aku yang jatuh, meski tak lagi utuh, setidaknya... hatiku untukmu, menyeluruh.

Saturday, August 18, 2018

280 ㅡ ♕ 난 여기 있는데... 소리치는데... 그대는 들리지 않죠?

한마디 떼어내기 너무 힘들죠? 난 여기 있는데... 기다리는데... 그대는 보이지 않죠? 날 바라보던 그대의 차가운 눈빛이 난 너무 낯설게 느껴져요. 더는 어쩔 수 없는 걸 알죠? 어두워진 밤하늘이 참 나와 닮아서 내 맘과 같아서. 흐려진 그대 마음을 잡을 순 없나요. 가끔 한 번씩 그냥 내 얘길 들어줘요. 내 마음 속 깊이 간직했던 얘길 들려주고 싶어요. 좀 더 멀어져도 괜찮아요. 날 밀어내도 괜찮아요. 나 항상 제자리에서 바보처럼 그대를 보며 기다릴 수 있죠...

얼룩진 그대가 너무 미웠죠... 난 여기 있는데... 소리치는데... 그대는 들리지 않죠? 날 감싸 안던 우리의 소중한 추억이 이제 끝이라는게 느껴져요. 다만 이렇게 끝내긴 싫어. 떨어지는 저 별들이 참 시려 보여서 내 맘도 그래서. 차가워진 그대 등을 돌릴 순 없겠죠...

그대 왜 나를 떠나가나요? 진심이었던 적 있었나요? 솔직하게 말해줘요... 정말 우린 끝난 건가요? 돌아갈 순 없나요? 돌아와 줘요. 항상 내 옆에 있어줘요. 입 밖에 꺼내지 못했었던 너무도 하고 싶었던 말. 좀 더 멀어지기 싫어요 난... 날 밀어내지 말아줘요. 나 기다릴 수 있어요...

It’s hard to take back what I said. I’m here waiting. But I don’t see you. You looked at me with your cold gaze. I feel really strange. I know I can’t help it anymore. The night sky darkens like me, like my heart. It dims, can I have your heart? Just this once. Listen to what I have to say. From deep inside my heart, I want you to listen to me. We’re a bit more distant, but it’s okay. I push you away, but it’s okay. I’m always here. Like a fool, I wait to see you.

I really hate how stained you are... I’m here shouting, but you don’t hear me. You wrapped me up and held me. I feel like our precious memories are over now, but I hate ending it like this. Those stars disappear. It looks sad, but my heart’s okay. I won’t turn my back on you.

Why are you leaving me? Have I ever been this honest? Let me tell you honestly. If this is the end for us, will you ever come back? Please come back. Always stay by my side. I couldn’t get the words out of my mouth, but I really wanted to tell you. I hate how we’ve become a bit more distant. Please don’t push me away. I’ll wait for you...