Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Sunday, August 26, 2018

288 ㅡ ♕ Lantas, untuk apa aku tetap mengukir kisah dengan mampir yang berulang kali kujadikan hampir?

MAMPIR ☓ HAMPIR: TERAKHIR
Aku, menyatakan kehilangan, kepergian, dan berpulangnya hati ke tempat semula
Ditulis oleh Vanny | 606 kata

Terakhir kalinya,
aku mengulum senyum,
menebar harum,
berharap kau maklum,
karena,
melalui bibir ranum,
aku berkata,
tak akan lagi tersenyum.





Aku rindu dia;
yang selalu membuatku penuh tanya,
yang bahagia tanpa aku di sisinya,
yang tak menjadikanku kesayangannya.

Bintang di langit;
sampaikan salamku padanya,
bisakah kau menjaganya,
karena aku akan berhenti untuk selamanya.


Di sebuah kedai, dengan secangkir kopi, sang puan ditemani sunyi. Puluhan persona berjalan ke sana kemari demi mencari sebuah tempat yang nyaman ditinggali. Berbeda dari mereka, aku menatap keluar jendela, menghela napas berat, mengusap kembali hati yang teramat rapat, memanggilmu dengan bahasa isyarat, berharap kau mampu merasakan kerinduanku yang tersirat. 






Aku berdiri;
di tengah keramaian,
tak berusaha mencari aman,
hanya ingin menemukan kedamaian.

Aku berada;
di lingkungan yang riskan,
merasa tersingkirkan,
karena tidak dipedulikan.


Melalui mata, aku mencoba mengeluarkan suara, walau paham betul, tak mungkin sampai ke sana. Melalui tarikan napas, aku menghempas keraguan, menyuarakan keputusan, tak akan lagi dilingkupi tangisan. Melalui hati yang mulai tertutup, aku menutup segala kemungkinan, tak berusaha menginginkan, pun tak akan menyulitkan. Semua sudah kujadikan putusan, walau masih berniat melepas tanya, tentang kau dan hiruk pikuk kota, di manakah engkau gerangan, di saat aku cemas kau berada di titik mengkhawatirkan? Tak usah bertanya, siapakah aku ini, yang hanya berdiri di sini, mana mampu menemani, dirimu yang bahkan tak ingin ditemani? Aku, menyatakan kehilangan, kepergian, dan berpulangnya hati ke tempat semula. Aku sudah memulai, tetapi tak sesuai. Bukan membuai, malah terbuai. Alhasil, aku tak akan berpegang lagi padamu yang entah berniat menjaga, atau hanya mencoba. 


Tetapi;
ini menyenangkan,
juga menyedihkan,
biar jadi pengalaman.

Maka;
tak lagi memanggil sayang,
hanya ingin mencipta kenang,
berusaha mengubah masa tayang.


Aku teringat. Kala itu, kau datang, hanya bertandang, berniat menyambang, merasa tak butuh tambang, tak ada maksud memiliki lambang telah berhasil datang. Aku bernyanyi dengan suara sumbang, yang kuyakini bisa membuatmu terbang, tetapi malah menyisakan lubang, di hati terdalam, hanya karena sebuah salam. Aku yang terlalu suka hingga lupa, kau bisa saja membawa luka, pada akhirnya. Maka dari itu, aku tak akan lagi merasa butuh dan mengeluh, bila kau tak luluh, karena aku yang melulu merasa perlu untuk mengabarkanmu. Tentangku yang tak pernah terbesit dalam pikiranmu, tentangku yang tak juga hadir dalam mimpimu, tentangku yang tak mampu membuatmu ingin mengunjungiku, biar itu kau simpan dalam kotak kenangan, karena aku tak akan lagi berpegangan, pada sebuah kepalsuan akan kasih yang mungkin kau berikan.



Aku;
ditemani sepi,
dilingkupi sunyi,
seorang diri.

Aku;
berada di keramaian,
tinggal aku sendirian,
sebab kau bepergian.


Waktu untuk melepasmu sudah mampir, karena sejak awal memang hanya hampir, tetapi kali ini, yang terakhir. Meski aku menggebu, kau menempatkanku dalam kelabu, dan tak berniat berlabuh. Lantas, untuk apa aku tetap mengukir kisah dengan mampir yang berulang kali kujadikan hampir? Tak ingin kupaksakan, memang tak bisa mengatakan, tetapi aku akan meluruskan. Aku bukan perempuan, yang bisa memanggilmu tuan, hanya karena kau berikan umpan. Aku tidak sama seperti mereka, yang bisa menerka, apakah engkau suka. Aku tahu butuh waktu, tetapi bukan berarti, mencariku hanya karena butuh. Aku tidak sempurna, tak secantik purnama, tetapi aku punya nama, yang bisa menunggumu lama, bila kau berhati sama. 


Harum kopi menguar,
memanggilku keluar,
agar pikiranku tak lagi liar,
karena mataku berpendar,
mencari dia yang tanpa sadar,
menempatkanku di luar radar.

Pahit seperti kopi,
perihnya hati,
yang tak sengaja tersakiti,
oleh dia yang hanya meneliti,
bukan ingin menempati,
dan tak minat untuk berjanji.


Hanya itu yang aku punya. Tak ingin lagi dimanja, semua hanya pura-pura, menggunakan permainan kata. Iya, bukan? Oleh karena itu, sudahi saja. Selamat tinggal, lembayung senja.

Friday, August 24, 2018

286 ㅡ ♕ Apakah itu arti kebahagiaan? Tentang perasaan, pengabdian, penghargaan, kebebasan, atau harapan?

SONG JINHEE ☓ SONG JAEHEE
Life hurts a lot, so please burn my sad days
Written by Vanny | 1,106 words


Tidak membandingkan, 
pun tidak ditulis demi mencari hidup siapa yang lebih menyedihkan.
Murni hanya ingin mengetahui, 
siapa yang lebih banyak berjuang, 
memperjuangkan kebahagiaan yang mereka katakan ada,
 tetapi sebenarnya di mana?



Ini adalah sebuah kisah dua saudara: Jinhee dan Jaehee.


Di dekat jendela, seorang anak perempuan duduk dengan tenang. Mengeluarkan sebuah buku harian, ingin menghiasi kertas yang masih bersih dengan tinta hitam. Titik-titik air mulai membasahi jendela karena Sang Langit tengah menangis, menjadikan hari itu penuh tangis bagi dia yang tengah menuliskan kisah hidupnya seorang diri. 


Namanya Jinhee. Rambutnya tak lagi pendek di atas bahu, sebab katanya, perempuan lebih cantik, jika berambut panjang. Maka, berniat untuk tampil berbeda dari biasanya, mahkotanya sudah panjang melebihi bahu sampai ke punggung, dan hari itu, surai kemerahan itu dibiarkan tergerai. Wajahnya oval dengan sepasang intan kecokelatan yang apabila kedua sudut bibir terangkat ke atas membuat kelopak mata berperan penting; membuat mata ikut tersenyum. Sipit, keturunan memang. Sudah begitu sejak lahir. Pipi pun tak tinggi, tetapi cukup naik ketika ia tersenyum sepenuh hati. Giginya tak sebaik yang disangka, alhasil pengikat besi dipasang agar benar adanya sang dara bisa menjadi apa yang mereka katakan dengan: cantik.

Suatu hari, ia berandai, apabila suatu hari nanti, ia bisa terbang bebas, keluar dari sangkar emas. Berteman dengan semua yang bisa membuatnya tertawa, disenangi banyak orang, dijadikan seseorang yang berarti, dan terlebih, ada yang menanyakan seberapa pedih hatinya, walaupun asal.

Putih. Warna yang membuat sosok Jinhee mengenal arti sebuah perasaan yang menghangatkan sanubari. Putih, mewakili sebuah awal. Tahu betul, kala itu, ia terbang; senang, meski tak bahagia, karena saat itu, mana ada yang tahu apa arti dari kebahagiaan. Bahkan, tak berapa lama, sayapnya patah, menyisakan luka, yang membekas, meski tak ada penyesalan.

Abu-abu, mewakili awal dari segala penderitaan. Abu-abu, mewarnai dunianya. Keputusan diambil. Bukan dari hati, melainkan dari mereka. Tidak apa, meski ada kekecewaan pada diri, ketika tak mampu mengikuti lingkungan berjuang mati-matian. Tidak apa, meski ada kesedihan pada diri, yang tidak menyukai pekerjaan yang dilakukan. Tidak apa, meski ada tangis dan air mata, tetapi setidaknya sudah berusaha. Dua, tidak, hampir tiga tahun berlalu begitu saja. Tanpa melakukan kegiatan menyenangkan, tak berada dalam lingkup manapun, tak bisa lagi mengembalikan waktu, dan keseharian dihabiskan berperan menjadi orang lain, tanpa sepengetahuan siapa pun. Jangan tanya, apakah lelah menghampiri, karena ia pasti lari, ingin kabur dari hari, menyisakan perih bagi kedua pemberi.

Tidak bisa menyuarakan isi hati tak menyukai yang dilakukan, sebab kaki belum bisa berdiri sendiri. Tak mampu menolak, sebab tak ada pilihan lain. Kau tahu? Bagaimana rasanya dibiarkan memilih, tetapi pilihan sudah ada di depan mata? Walaupun pilihan kau ambil, pada akhirnya, mereka yang memiliki andil. Setidaknya, dari situ, ia mengenal hidup.

Terkadang, hanya setetes air mata yang mampu ia berikan sebagai kasih yang diperuntukkan bagi diri. Menahan kekecewaan, meminta raga untuk bertahan, memantapkan hati untuk terus maju. Tak peduli badai, ia tetap akan berdamai. Tak perlu tahu tujuan, hanya ingin membanggakan. 

Tetapi, satu kali setiap hari, rasanya selalu ada yang hilang dalam dada. Sebuah pertanyaan kembali muncul tanpa aba-aba. 

Inikah hidup? 

Lalu, satu lagi. 

Apakah dirimu bahagia?

Jawaban yang diberikan bukanlah sebuah pernyataan, melainkan pertanyaan yang tidak sama sekali diketahui apa jawabannya.

Apakah itu kebahagiaan?

Mencoba melakukan banyak hal demi membanggakan orang lain. Apakah itu termasuk bahagia?
Mengerjakan hal-hal tak disukai demi kesenangan orang lain. Apakah itu termasuk bahagia?
Menjadi seseorang yang diinginkan orang lain. Apakah itu termasuk bahagia?

Sesungguhnya, semua masih abu-abu. Terasa abu-abu, dan memang abu-abu.

Banyak hal dilakukannya demi orang lain, hingga kini, ia lupa bagaimana caranya membahagiakan diri sendiri. Benar memang, kata mereka. Bahagia itu sederhana. Tetapi, apakah arti dari kebahagiaan itu sendiri? Ia tidak paham. Tak ada yang mengajari, karena hidup untuk orang lain.

Tidak ada yang berani mendekat. Mana ada yang terpikat. Bukan soal apa, hanya terkadang pikiran melayang terbang, mencari jawaban atas segala pertanyaan. Apa itu kebahagiaan? 

Sudah dan selalu bersyukur, tidak menyesal karena sejak tiga tahun lalu memilih kehidupan yang diinginkan orang lain. Meski pedih, tetap hati berjuang menahan dan melawan segala yang menghadang, demi memperjuangkan sebuah kertas yang menyatakan diri siap terjun ke masyarakat. 

Hanya saja, lagi-lagi, satu kali setiap hari, ia termenung, membayangkan hidupnya di kemudian hari. Terlalu lelah berjuang, pundak terasa berat. Ingin melepas, namun masih belum bisa bebas. Ingin sesekali dihibur, tetapi lebih memilih kabur, dan berakhir menjadikan tangis sebagai penghibur. 

Tidak pernah ada iri, karena tahu diri. Bersyukur selalu, karena tahu semuanya akan berlalu. Hanya saja, satu kali setiap hari, ia menitikkan air mata, meminta ditunjukkan kebahagiaan selamanya, bukan yang fana, dan hanya kepalsuan semata. 

Kembali lagi. 

Apakah itu arti kebahagiaan? 
Tentang perasaan, pengabdian, penghargaan, kebebasan, atau harapan?




Jaehee, yang membuat orang lain terpana, jatuh cinta, dan ingin menyapa.

Semua mata yang memandangnya selalu mengatakan bahwa ia cantik. Kulitnya putih. Ia menarik hati dan menawan. Mana ada lawan. Singkat cerita, semua orang menyukai Jaehee. Lebih senang bercengkrama dengannya, dibandingkan dia yang tidak pandai bicara.

Sejak putih abu-abu, banyak mata tertuju hanya kepadanya. Lawan jenis, apalagi. Banyak barang, banyak pengharapan diarahkan padanya. Sebuah pertanda, ia dianggap yang terbaik, pada masa itu. Bahkan, pergumulan yang dilaku masih ada yang berjalan hingga sekarang. Ia begitu disenangi hampir oleh semua orang yang ditemuinya. Berbeda sekali dengan yang tak pernah dianggap dan dicari hanya karena presensinya dibutuhkan untuk mendengar celotehan.

Menaiki tingkat selanjutnya, ia diperbolehkan memilih jalan sendiri. Mencari jati diri, dibiarkan pergi memutuskan. Hal itu membuat hingga akhir, ia selalu ingin kembali menuntut ilmu demi kesenangan dan kebahagiaannya. Berbeda dari dia yang tak mampu angkat bicara, tak bersuara, hanya mengikuti apa kata mereka.

Surat untuk menjadi bagian dari masyarakat telah didapat di tangan. Kebahagiaan lengkap sudah ketika sosok baru hadir ke dalam hidupnya. Ingin berdekatan, berusaha meminangnya. Inilah hidup, kata yang lebih tua. Menjalankan hari sesuai hati, menemukan tujuan dari segala jalan, membuat kebahagiaan sendiri nyata. Sosok baru yang di dalam kedua bola matanya terlukis potret wajah yang terkasih, membuat ingin memiliki kekasih. 

Bersyukurlah, sebab membuat orang lain jatuh hati, tak semudah membalikkan telapak tangan. Kata Jinhee, dalam hati. Maka, nikmati, hargai, dan jagalah cinta yang diberikan dia yang memandangmu dengan penuh kasih sayang; menjadikanmu kebahagiaan dalam hidupnya.



Hanya mampu berdiri di belakang, tersenyum hambar. 

Sudahi saja, sebab jika dilihat lebih dalam, maka kau pun akan ikut tenggelam dalam kepedihan hidup dia yang terlupakan kebahagiaannya. Padahal, hanya satu harapannya, ingin bisa menjadi orang terkasih bagi yang dikasihi. Hanya satu impiannya, ingin menjadi dia yang diimpikan seseorang yang dijadikan impian baginya. Namun, banyak hal membuat ia hanya mampu berkhayal. Pantas, ia tak ayal bahagia. 

Siapa pula yang berani bahagia? 
Dia, yang tidak mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya.


Saturday, August 11, 2018

273 ㅡ ♕ Selamanya di hati, sepenuhnya dalam jiwa.

GLENDA ☓ BRENDA
Two hearts are better than one
Written by Vanny | 3,139 words


It's alright, if you run out of breath,
no one will blame you.
It's okay to make mistakes sometimes,
because anyone can do.


Titik-titik bintang begitu cantiknya menghiasi malam. Sudah saatnya bagi para warga Negeri Ginseng untuk terlelap. Banyak dari mereka sudah terlelap, dan hal itu terlihat dari bagaimana keadaan lalu lintas sudah tak begitu menimbulkan bunyi mesin kendaraan yang menderu. Namun, terlepas dari seharusnya para warga sudah terlelap karena waktu menunjukkan saatnya untuk beristirahat telah tiba, seorang gadis terlihat masih duduk di meja kerja. Kedua netra sang dara terfokus pada sebuah komputer dengan layar yang masih menyala. Tampaknya, ia sedang mengerjakan sesuatu. Lebih tepatnya, menulis sesuatu.

Seulas senyum terukir pada paras ayu milik Glenda Phopy Gentiana, yang sejak kepindahannya ke Korea Selatan akrab disapa Brenda. Ia melepas kacamata baca, lalu mengelus pelan tulang hidungnya. Otot-otot di bagian pundak pun dilemaskan, dan punggung bersandar ke belakang pada kursi. Perlahan, Brenda menutup sepasang netra berbentuk almond miliknya, dan berakhir terlelap.

Sebuah kisah tentang kehidupan seorang dara yang melangkah maju dengan menggunakan nama saudara sendiri akan dimulai. Sang pemilik kehidupan tengah terlelap, dan seketika, memori hitam bak kopi pahit yang melambangkan kelamnya malam dan kentalnya sebuah penyesalan, kembali menyapa tanpa permisi. Melalui bunga tidur, kehidupan di alur waktu yang lain, terbangun.


✦.“Kenyataan yang tak terduga, mimpi yang kau buat nyata.”

ㅡ Victoria Hills, Beijing, China
ㅡ UTC + 08.00
ㅡ February 13th, 2011


Kehidupan di bawah langit kota Beijing yang biasanya diramaikan oleh warga kota, hari itu terlihat berbeda. Jalanan sepi, para warga tampak menutup diri.

Hujan?
Tidak juga, hanya sedikit berawan. 

Akan hujan?
Tidak juga, hanya saja gumpalan awan begitu dekat, berpegangan tangan dengan erat.

Mentari di ufuk timur membagi kasih kepada para warga bermata sipit tanpa maaf. Kasih yang sejati dari Sang Surya begitu dalam sampai bulir keringat nyaris selalu jatuh dari pelupuk mata. Awan-awan kapas mengitari mentari bagai selimut malam walau hari masih pagi. Ingin memeluk erat, awan ingin bersama mentari. Tak ingin, hendak melepaskan diri, mentari memberontak. Sang Surya tak sanggup melepaskan diri dari dekapan awan-awan yang mencoba menyelimutinya karena terlalu lelah. Akhirnya, Sang Surya terlelap dan pergi beristirahat.

Titik air turun. Hujan menghantam negeri tirai bambu dengan jeritan yang meledak-ledak. Petir menyambar, membuat siapa saja terkejut, dan mungkin takut. Embusan angin menembus daging, menusuk tulang.

Victoria HillsㅡKomplek perumahan ternama di Beijing menjadi sorotan. Seorang gadis bersurai brunette menatap ke luar jendela kamarnya dengan tatapan hampa. Kedua bola mata hitam tak menunjukkan tanda-tanda adanya kehidupan terpancar di sana. Sepasang mata yang terlihat mampu menandang dunia, ternyata tak nyata adanya. 

“Glenda ...” Suara lirih dari sopran seorang wanita yang mungkin berusia sekitar 45 tahun terdengar. Datang secara tiba-tiba, mengusik keheningan hujan yang sedang menghibur hati seorang dara bersurai brunette.

Tak bergerak, tak bereaksi. Terdiam membisu, tak ingin berkata apa pun. Gadis yang dipanggil Glenda oleh wanita yang tak lain dan tak bukan adalah ibunya sendiri, tak memberikan reaksi khusus. Glenda memilih diam, dan hanya memandang titik-titik air yang membasahi bagian luar jendela kamar.

Sentuhan lembut tangan keriput ibunda, menggelitik geli pundak sang anak. Namun, terlalu geli sampai rasanya seluruh tubuh si bungsu Gentiana menjadi kebal. Niat untuk menyingkirkan tangan tersebut pun tak timbul. Glenda masih terdiam.

Sopran yang sudah menjadi bagian dari hidup gadis bernama Glenda itu sejak kecil, kembali menghantam gendang telinga. “Apa kau baik-baik saja?” tanya ibu dengan nada penuh kecemasan sengaja diperdengarkan.

Gadis bersurai brunette dengan kedua bola mata yang cantik serta hidung yang mancung pun akhirnya bersuara, “Aku tak butuh mata ini!”

“Aku tidak butuh!” Ia mengulangi dengan penekanan di setiap kata yang terucap. 

Bersama dengan titik air yang mengalir membasahi kedua pipi, ia berkata lirih, “Biarkan aku buta!”

Dada begitu perih seperti tertusuk duri, walau tak berdarah. Menangis tersendu, ia tak butuh apa yang didapatnya sebagai hadiah dari seorang saudara. Raungan terdengar, kedua tungkai menjadi lemas tak bertenaga. Perih, sedih. Ia menitikkan air mata kala mengenang sesuatu yang pedih dalam tangis pilu.

Glenda Gentianaㅡadik dari Brenda Gentiana. Tidak, bukan hanya adik. Mereka adalah saudara kembar identik yang lahir di Beijing pada hari Senin, tepat pukul delapan pagi waktu setempat. Pada tanggal 1 Maret 1998, kedua bayi kecil yang akrab dipanggil Gentiana Twin Sister oleh kerabat-kerabat dekat merekaㅡmenangis dalam kebahagiaan penuh rasa syukur. Kelahiran kedua bayi Gentiana memberikan sebuah harapan bagi kedua orang tua. Akhirnya, setelah menanti dan menunggu sekian lama, kehidupan sepasang suami-istri pun lengkap sudah. Menikah di usia yang terbilang terlambat selalu membuat pasangan suami-istri tersebut bermimpi buruk setiap malam. Namun, tertanda tanggal 1 Maret 1998, dua penerus lahir bersama bagai kelopak Bunga Gentiana yang mulai bermekaran. Brenda dan Glenda hidup dalam keluarga yang sangat berkecukupan, bahkan berkelimpahan. Bukan hanya menjalani hidup yang baik dari segi keuangan saja, kedua bayi kecil keluarga Xú tumbuh dewasa menjadi dua gadis yang cantik dan berwibawa. Mereka juga cerdas dalam pendidikan, dan menjadi penerus dari sebuah perusahaan otomotif ternama di Beijing, bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah takdir.

BG Automotive CompanyㅡPerusahaan kendaraan roda dua dan empat terbesar dan ternama di Beijing. Bekerja sama dengan berbagai negara di dunia membuat perusahaan ini tak lekang oleh waktu.


Pernyataan yang menjadi sebuah takdir hidup, diperdengarkan sulung Gentiana kepada adiknya. “Glenda ... aku tak mau menjadi penerus.”

Kakak dari saudara kembar keluarga Xú, yaitu Brenda, mengatakan isi hatinya ketika sedang mengobrol dengan sang adik sebelum beristirahat. Kala itu, langit penuh bintang. 

Kedua netra membulat sempurna dan sontak, sang adik bertanya, “... Kenapa?”

“Aku sudah menemukan seseorang yang ingin kuajak hidup bersama. Aku mencintainya, dan aku akan membangun sebuah keluarga yang sederhana bersamanya.” Brenda menjawab dengan santai, dan senyum menghiasi parasnya yang menawan. Terdengar sebuah keyakinan yang pasti dalam setiap ucapan kalimat yang lolos dari bibir si sulung. Namun, di sisi lain, hal itu justru membuat Glenda khawatir bukan main.

Glenda menaikkan sebelah alisㅡseakan penuh tanya, dan tak percaya dengan apa yang baru saja tertangkap indera pendengarannya. Ia memberikan reaksi, “Apa...? Kau bercanda, ’kan?”

Setelah mempertanyakan keseriusan sang kakak, dan dijawab dengan anggukan singkat oleh si sulung Gentiana itu, Glenda pun kembali bersuara. “... Aku tidak terima anggukan saja. Cepat katakan padaku kalau kau sedang bercanda, atau … kau memang serius. Cepatlah! Aku tak paham.”

“Aku serius, Glenda.”

Mengerjapkan kedua netra, Glenda mencoba mencerna sendiri keseriusan sang kakak yang diperlihatkan melalui nada bicara yang tenang, namun penuh keyakinan. Sedikit gila. Ah, tidak. Sangat gila.

“Jadi ... kau serius...?” Glenda masih tak percaya. Ia mana mampu percaya. Oleh karena itu, cepat-cepat ia menyuarakan isi hatinya. “Aku juga tak mau menjadi penerus. Jika kau tak mau, aku juga tak mau!”

Brenda menarik napas dalam-dalam sebelum meraih tangan adiknya dengan sorotan mata penuh permintaan, “Aku mohon, jangan beritahu mama. Aku akan mengatakannya sendiri, danㅡ” ia memberi jeda singkat sebelum melanjutkan, “ㅡaku minta maaf karena sudah menempatkanmu di posisi yang sulit. Papa pasti akan menjadikanmu penerus keluarga. Aku minta maaf, Glenda ....”

Glenda menggelengkan kepalanya. Ia menolak, tak setuju dengan keputusan sepihak yang dibuat oleh sang kakak. Namun, tak ada suara yang keluar dari bilah bibir. Kedua netra mulai terlihat memerah dengan titik-titik air yang perlahan membasahi kelopak. 

Walau sang adik sedang terbawa perasaan akan fakta yang baru saja didengar serta kenyataan yang tak pernah terbayangkan dapat terjadi, nyatanya cepat atau lambat bisa saja terjadi, Brenda mencoba menjelaskan situasi yang ia alami dengan penuh perhatian, “Pria ini bekerja di dunia hiburan, dan ... memang hidupnya tak berkelimpahan seperti kita.”

Mendengar penuturan dari sang kakak yang lahir lebih dulu beberapa detik darinya, Glenda yang saat itu sedang berusaha menghentikkan air mata yang mengalir, tak mampu melakukan keinginannya karena titik-titik air masih terus berlinangan membasahi kedua sisi bukit pipi. 

Glenda menambahkan, “Aku juga akan menjadi seorang idola di Korea Selatan, dan akan selalu mendukungnya.”

Si bungsu keluarga Xú yang masih belum dapat menghentikkan air mata yang mengalir, memberanikan diri untuk memandang lurus ke dalam kedua bola mata sang kakak. Namun, tak didapati kegetiran di sana, melainkan sebuah keseriusan yang begitu mantap dirasakan. Brenda begitu serius dengan keinginannya sehingga sebagai kembaran, Glenda, pasti akan membantu Brenda untuk mewujudkan impiannya.

“Ah ... kau benar-benar sudah jatuh cinta ...,” gumam Glenda sebelum menghembuskan napas dengan kasar, dengan harapan kakaknya merasa terbebani.

“Jangan khawatir, Glenda. Aku akan hidup dengan baik.” Kalimat tersebut lolos dari bibir seorang gadis yang belum genap berusia tiga belas tahun, dan kenyataan bahwa Brenda akan meninggalkan Glenda, adiknya, sungguh membuat sang adik merasa sangat cemas dan takut.

Glenda hanya terdiam membisu. Ia kembali mencerna apa yang dituturkan sang kakak dalam keheningan. Sungguh mengagetkan, ia bahkan tak mampu berkata-kata untuk memberikan tanggapan atas impian yang disampaikan kakaknya. Ya, berbeda dengan Brenda, Glenda tak memiliki impian yang ingin ia perjuangkan. Mungkin belum. Ia masih belum paham akan arti dari sebuah cita-cita meski usia sudah mengharuskan dirinya untuk mulai berpikir. Glenda sangat berbeda dengan Brenda. Mereka berbeda, meski terlahir bersama. Brenda selalu penuh semangat dalam menjalankan segala hal, seperti dalam pelajaran di sekolah, dalam pertemananㅡBrenda sangat berpotensi untuk menjadi penerus perusahaan keluarga. Namun, karena hubungan kedua gadis kembar itu sangat dekat, adik juga tak pernah merasa sedih dengan terpilihnya sang kakak sebagai penerus perusahaan keluarga.

“Tapi ...,” bantah Glenda sebelum kakaknya menambahkan kalimat lain yang dapat membuat dirinya kembali menangis.

Dengan cepat, Brenda meyakinkan sang adik, “Tidak ada tapi-tapian, Glenda, karena semua akan baik-baik saja. Aku akan mengurus hidupku sendiri, dan ... semuanya ... akan baik-baik saja.”

Glenda hanya mampu menarik napas panjang, dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia mulai mencoba untuk memahami keadaan sang kakak. Ia mencoba untuk percaya bahwa semua akan baik-baik saja sesuai dengan apa yang dikatakan si sulung Gentiana. Ya, semua akan baik-baik saja. Dengan penuh harapan bahwa esok hari akan datang dan kehidupan tetap akan berlangsung dengan baik seperti biasanya, kedua gadis berparas serupa penyandang nama keluarga Xú pun terlelap dalam gelapnya malam bersama dengan bintang-bintang yang menerangi.


Mentari yang terlelap bersama dengan seluruh persona di Cina, terbangun karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Pagi yang seharusnya datang dengan tenang, tak terjadi pada keluarga Xú hari itu. Suara pecahan kaca menggema dalam rumah, suara-suara gemuruh berteman dekat dengan suara pecahan kaca sebelumnya.

“BRENDA!” 

Teriakan seorang wanita yang adalah ibunda dari si kembar Gentiana terdengar begitu memekakkan telinga karena yang dipanggil tengah melempar beberapa vas bunga ke arah kaca di ujung ruangan. Ruang kantor ibunda dan ayahanda berubah rusuh dan semua ricuh ketika Brenda mulai melakukan tingkahnya. Glenda berdiri di tengah keramaian dengan perasaan bingung. Hendaknya ia ikut memberontak—menunjukkan bahwa ia berpihak pada sang kakak bagaimanapun caranya. Tetapi, diri engga bergerak karena terlalu takut. Tak suka, Glenda tak pernah suka keributan. Para penjaga rumah dan beberapa asisten rumah tangga ikut meramaikan suasana pagi yang ribut. Masih pagi, namun tak berarti.

Glenda tak tahu harus berbuat apa. Ia mengerutkan dahinya sambil menggigit bibir bawah. Dalam hati, ia bersuara, ‘Bagaimana ini …? Apa yang harus aku lakukan …?’

“Mama, aku ingin bersama dengannya! Biarkan aku pergi!”

Brenda menangis. Ia meraung-raung dengan dua vas bunga yang masih dalam genggaman tangannya. Hari itu, semua yang dikatakan si sulung Gentiana sungguh tentang sebuah kejujuran yang sudah sekian lama tersimpan dalam hati. Akhirnya, hari dimana ia dapat mengatakan semuanya pun datang. Brenda hanya ingin menjalani hidup yang sederhana bersama dengan pria yang ia cintai. Namun, pasangan suami-istri yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan menjadi kedua orang tua dari si gadis, tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Brenda dan Glenda berada dalam sangkar emas setiap harinya. Tak suka, memang tak pernah bahagia meski senyum menghiasi paras ayu si kembar. Glenda tak pernah memberontak, namun bukan berarti ingin hidup dalam kotak yang dikendalikan oleh kedua orang tua. Brenda sedang memberontak, namun bukan berarti tak memiliki otak untuk berpikir akan konsekuensi apa yang nanti ia terima usai mengatakan isi hati.

Entah mengapa, Glenda yang mendengar kalimat Brenda sungguh tak dapat berkata apa pun. Ia menitikkan air mata dalam diam. 

Melihat adiknya tersendu, Brenda menghampiri Glenda yang langsung menatap sang kakak. Brenda menggenggam tangan Glenda dengan erat sambil berkata dengan lirih, “Tolong aku, Glenda ….”

Sebenarnya, semalam keduanya telah merencanakan sesuatu ketika keadaan seperti ini datang. Namun, tak pernah terbayangkan hari dimana kejujuran yang berada di atas segalanya, tak diterima kedua orang tua—datang begitu cepat. Brenda berencana untuk melarikan diri dari kastil emas yang dingin, dan tentu saja, Glenda menyetujui hal itu. Glenda pasti akan menjadi perisai yang membantu sang kakak melawan segala halangan dan membantu sang kakak menemui kebahagiaannya. Ya, Glenda mengiyakan permintaan Brenda.

“Brenda, jangan buat masalah ….” Tetapi, rasanya tidak secepat ini, bukan? Tidak secepat ini, Glenda harus berpisah dengan Brenda, meski ia tentu ingin Brenda bahagia bersama seseorang yang dicintainya.

“Glenda, ayo!” Brenda mengajak Glenda untuk segera membantunya meninggalkan rumah yang tak akan menjadi kediamanan baginya lagi. “Kita tidak punya banyak waktu. Ayo! Kau sudah janji padaku akan hal ini. Jadi, ayo!”

Pada akhirnya, Glenda tak mampu menolak permintaan sang kakak. Dalam hitungan detik, ketika sinyal mata dari Brenda diterima dengan baik oleh Glenda, keduanya memulai aksi mereka. Lari. Hal itu merupakan satu-satunya hal yang mampu terpikirkan. Ya, untuk saat itu. Keduanya berlari berdampingan. Berpegangan tangan, jemari bertautan, menggenggam erat, dan tak ingin lepas. Lincah, dua gadis yang pandai dalam bidang olahraga itu membuat keduanya mampu melewati rintangan yang ada di depan mata. Tak mungkin ayah dan ibu diam saja ketika melihat kedua buah hati mereka berusaha melarikan diri. Para penjaga rumah mengejar bersama dengan asisten rumah tangga yang saat itu, jika dikumpulkan nyaris berjumlah sekitar lima puluh orang. 

TINNNNNN!!!!

Klakson mobil terdengar di jalan raya yang tak biasanya ramai kendaraan roda empat. Tebasan hebat menyentuh tubuh seorang dari dua saudara yang tengah berusaha melarikan diri—kabur dari sangkar emas. Seseorang dari kedua peserta lari maraton yang tak ada ujungnya itu mendorong peserta lainnya untuk pergi menjauh dari maut yang datang tak diundang. Titik air mata tak mampu keluar, tangisan tertahan dalam dada. Lumuran cat merah menghujani tubuh salah satu dari si kembar Gentiana. Tidak. Ketika itu, mereka tak sedang bermain dengan cat untuk melukis sesuatu. Namun, Tuhan menorehkan warna yang berbeda pada hidup keduanya. 

Kaget, bimbang, cemas dan takut. Itu yang dirasakan bagi Glenda saat itu. Tubuhnya terasa kaku, ia terjatuh di sebelah sang kakak yang terbaring tak berdaya dengan sepasang netra yang hampir tertutup. Oleh karena itu, Glenda memanggil nama kakaknya di tengah raungan hebat, “BRENDAAAA!!! BRENDA—BREN ….”

Brenda tersenyum ketika embusan napas terakhir ia loloskan. Sulung Gentiana berada dalam pelukan erat sang adik kala Tuhan merenggut nyawa insan kesayangan Glenda. Meraung-raung dalam tangis yang tak kunjung usai, Glenda menutup matanya dengan harapan semua akan baik-baik saja ketika mata terbuka nantinya.

Beberapa penjaga baru datang sesaat kemudian. Namun, tak ada gunanya. Napas panjang Brenda sudah lepas dari tubuh gadis menyedihkan itu. Brenda hanya ingin bahagia, tetapi kejadian tragis yang ia dapat. Sungguh, jika diperbolehkan memutar balik waktu, Glenda tak akan menyetujui permintaan Brenda untuk membantunya melarikan diri hari itu. Tak akan.

“Tak ada gunanya kalian datang!” Lelah menangis, meskipun titik air belum berhenti, Glenda menghardik para penjaga, suruhan ayah dan ibunya. “Semua sudah terjadi ….”

Begitulah bagaimana Glenda kehilangan kakak kembarnya, Brenda Gentiana. Mengenaskan dan menyedihkan, tak ingin dibayangkan meskipun hanya dalam mimpi. Brenda, hanya tinggal kenangan. Memori bersama dengan kakaknya yang terkasih, hanya akan selamanya tersimpan dalam kotak kenangan dalam hati. Beberapa bulan dijalani Glenda dengan berat. Tak ada senyum terlukis pada parasnya, tak ada gelak tawa menemani hari, dan yang ada hanya tatapan mata yang kosong. Ia hidup, tetapi seperti mati.


Suatu hari di hari Natal pada tahun 2012, Glenda berkata dengan tegas, “Aku akan hidup sebagai Brenda.” Ia angkat bicara ketika makan malam hari Natal dilakukannya bersama dengan kedua orang tua. “Aku akan ke Korea Selatan, dan menjadi seorang idola.”

Ibu yang duduk di sampingnya tak bersuara, mana berani. Suasana hening mengisi kekosongan hari karena anggota keluarga hilang satu. Hari itu adalah natal pertama tanpa Brenda.

“Aku akan membuat Brenda menjadi seorang idola. Aku akan mewujudkan impiannya.” 

Sangat disayangkan, Brenda menghembuskan napas terakhirnya begitu saja dengan sangat mengenaskan. Tragis. Namun, tabrakan singkat itu tak hanya merenggut nyawa salah satu gadis Gentiana, tetapi nyaris keduanya akan diambil pulang oleh Tuhan. Glenda mengalami gangguan saraf dan hampir buta. Pada hari yang sama, tabrakan maut nyaris merenggut nyawa kedua anak, tentu orang tua menjadi panic dan takut. Brenda kehilangan nyawa, dan Glenda kehilangan mata. Tetapi, pasangan Xú tidak menginginkan hal tersebut. Jangan sampai terjadi, piker mereka. Oleh karena itu, ibu bertanya pada dokter perihal bisa atau tidak kedua mata Brenda didonorkan untuk Glenda, kembarannya, dan tragisnya lagi, kini Glenda hidup dengan menggunakan kedua netra Brenda. Bisa kau bayangkan seberapa berat beban yang berada pada pundak Glenda? Ingin menangis, ingin berkata tidak ketika ia tahu bahwa matanya adalah milik Brenda yang telah tiada. Kembali lagi, ia tak berdaya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Kegiatan ‘tak melakukan apa pun, dan hanya mengunci diri di kamar’ diselesaikan Glenda pada hari Natal tahun 2012. Glenda adalah Brenda sekarang, dan kakaknya, Brenda, akan selalu dikenang dalam hati sang adik. Sorot mata Brenda yang lembut, kini menjadi milik Glenda seutuhnya dan selamanya. Oleh karena itu, Glenda bertekad untuk hidup lebih baik dengan menggunakan nama Brenda. Ia pun ingin memperlihatkan banyak pemandangan dan hal indah kepada Brenda dengan bertemu dengan teman-teman yang baik, dan pergi wisata ke tempat-tempat yang indah. Glenda, sebagai Brenda, akan mulai mempertaruhkan hidupnya. Dengan meninggalkan segala kekayaan materi yang begitu berlimpah dan popularitasnya sebagai seorang penerus BG Automotive Company, Glenda Gentiana yang sejak hari itu mengaku bernama Brenda Gentiana bertekad bulat untuk memulai hidup barunya di Korea Selatan. 

✦.“Selamanya di hati, sepenuhnya dalam jiwa.”

ㅡ Flashback end


Kehidupan di negeri orang tak semulus yang dipikirkan. Meskipun ia diterima sebagai seorang trainee di sebuah agensi entertainment ternama, jatuh dan bangun menimpa diri Glenda yang saat itu sudah hidup sebagai Brenda. Ia terpaksa mengundurkan diri karena kesehatannya terganggu akibat terlalu lelah berlatih. Ternyata, menjadi seorang trainee, tak semudah yang ia bayangkan. Sempat ingin menyerah, namun tidak sekarang. Alhasil, kini Glenda berada di tahun kedua dirinya mengenyam pendidikan di Seoul National University dengan Performing Arts of Communication sebagai jurusan pilihannya. Ia berharap setelah lulus nanti, ia dapat dengan mudah menjalin koneksi dengan entertainment ternama sehingga dapat dengan cepat menjadi idola. Ya, ia ingin secepatnya mewujudkan impian Brenda agar sang kakak tenang di alam sana. Oleh karena itu, setiap hari, tak ada absen satu kali pun, Glenda berdoa untuk kakaknya.

Suara alarm membangunkan Glenda yang terbaring lemas di atas kasur. Sudah saatnya untuk bangun dan bersiap untuk pindah ke sebuah apartemen di Gang-nam. Waktu menunjukkan belum saatnya warga Korea Selatan untuk bangun. Namun, ia yang mendapatkan jadwal untuk pindah pada malam hari harus membuka kedua netra dan melangkahkan sepasang tungkai ke Apartemen Daechi. Berpakaian kasual, Glenda meninggalkan kamar asrama universitasnya dan segera pergi menuju ke tempat tujuan dengan menggunakan kendaraan umum berupa bus. Sudah malam, tetapi tak cemas dan takut pergi kemana pun karena kakaknya, Brenda, akan selalu menemani.















Sunday, August 5, 2018

267 ㅡ ♕ Sesekali, ia juga ingin berusaha membahagiakan kakaknya.

AARON LEE ☓ MUSIC
Where words fail, music speaks
Written by Vanny | 1,219 words


I’m lost right now,
I'm in the same place,
waiting for you to hold my hand.


  1. Calm. You called me, about to cry. I, pathetic, gained courage. I said you and him don’t work. I pretended I was busy, said I had something to do and that I had to sleep. I said “I should go now” at first I only wished for misfortune now, you and the snob. No, since he’s doing well. I hope I can sleep well at night. I got it. ㅡ Swings (Swings feat. Jay Park, I’ll be there)
  2. Loyal. What I really mean to tell you is, even if you call me while drunk it’s okay. Even if you scream and talk about the past, it’s okay. I whisper in your ear. I’ll let you know about this song. If I’m anxious, I’ll fly towards fire, like a moth. You plan to forget me so you clean your memories, but don’t ever forget what I’m telling you right now. Lean on me, my dear. Even though now we’re far from each other, I’ll always be there. ㅡ Swings (Swings feat. Jay Park, I’ll be there)
  3. Possessive. I don’t like those other guys next to you. Who am I? A killer who only protects you. Just like that, I kill it! I’ll hold you in my arms and be on alert. But, throw your worries to the basement. Whatever we do, we are one now. ㅡ Daniel & Woojin (WANNA ONE, Energetic)
  4. Caring. You can count on me like 1, 2, 3 and I’ll be there. If you’re tossin’ and you’re turnin’ and you just can’t fall asleep, I’ll sing a song beside you. If you ever forget how much you really mean to me, every day I’ll remind you. You’ll always have my shoulder when you want to cry because that’s what friends are supposed to do. ㅡ Bruno Mars (Bruno Mars, Count on me)
  5. Rebellious. In 2010, I changed car tires and shook in the cold in the middle of winter. In 2014, I set up AOMG and girls shake when they see me. Live how you want, be a loyal man, don’t chase after money. My future is paved in gold, always do just what you feel. ㅡ Jay Park (Jay Park feat. Gray, Evolution)
  6. Positive. Always be free, but have sense and mind your manners too. You’re still gonna hate on me? Guess you’re all bored, you all have nothing to do. I sing, and everyone goes crazy while you leave comments in the PC cafe. I go overseas to throw shows and you just touch your keyboard at home. When you’re wasting time like a fool, the female celebrities you like are giving me looks. The winning side always laughs. I have something to say. The world hasn’t ended yet so I said all you mothafuckas, this world is mine, let’s go! ㅡ Jay Park (Jay Park feat. Gray, Evolution)
  7. Flirty. You better wear that dress I like. It’s a special kinda night. Imma take you for a ride. Hop in, Driver, you can take your time. Put that classic R&B on, pour you something you can sip on because we gonna get it on tonight. ㅡ Jay Park (Jay Park feat. KRNFX, Limousine)
  8. Playful. I drink and drink, but I don’t care about anything right now, even if tomorrow gets wasted. I’m not jealous of couples. Handsome men, pretty girls are all looking nice. Their bodies won’t separate as if glued together. Youth only comes once so you can’t waste a single day. The ecstasy you can only feel from here. Enjoy, enjoy, enjoy, enjoy! ㅡ Jay Park (Jay Park feat. Loco, NaNa)


Aaron Lee—lahir di salah satu rumah sakit negara Singapura pada tanggal 10 Mei 1997. Kelahiran bayi mungil Lee ini sudah sangat ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya yang sangat mendambakan kelahiran seorang anak laki-laki. Kini, lengkap sudah keluarga Lee karena penantian panjang sudah berakhir dan akhirnya, momongan dengan gender laki-laki hadir melengkapi keturunan keluarga. Bayi laki-laki membuat mereka berdua semakin bersemangat. Penerus perusahaan sudah ditakdirkan hadir dalam hidup mereka. MAXIME COMPANY adalah perusahaan shopping center terbesar di Seoul. Aaron lahir ke dunia dengan takdir yang sudah pasti ditentukan ada di depan matanya. Hidup dalam keluarga yang berkelimpahan harta membuat sang adam sedikit sombong dengan kekayaannya, dan sering kali memamerkan harta benda miliknya. Selain itu, dia juga tumbuh besar dalam keluarga yang penuh dengan cinta kasih sehingga laki-laki ini cukup dapat terbilang manja dan tidak mandiri. Terlebih, kakak perempuannya, Anna Lee, begitu menyayanginya serta selalu memberikan perhatian kepada si adik yang selalu senang mencari perhatian.

Di usia Aaron yang sudah mencapai dua belas tahun, MAXIME COMPANY mengalami keadaan sulit. Perusahaan terancam bangkrut. Aaron sebagai anak lelaki yang mana nantinya akan menjadi penerus perusahaan masih sangat kecil untuk terjun ke dalam dunia bisnis sehingga kakak perempuannya, Anna, yang diminta untuk membantu perusahaan. Kediaman keluarga Lee menjadi sepi setiap harinya. Bahkan, selama nyaris dua minggu Aaron hanya bertemu dengan para pengurus atau asisten rumah tangga saja. Alhasil, dia sering menghabiskan waktu luangnya bersama dengan seorang pengawal yang akan menjadi sekretarisnya kelak. Aaron yang tumbuh menjadi sosok pemuda yang ceria, pemberani, dan selalu tersenyum, pada saat-saat ini berubah menjadi lelaki yang pendiam dan senang menyendiri. Terkadang dia akan bermain sendiri atau berulah agar kedua orang tua memedulikan keberadaannya dengan mengajak seluruh pengurus rumah untuk bermain basket bersama di lapangan samping kediaman Lee. Beberapa kali Aaron melakukan hal tersebut, dan akhirnya, apa yang diinginkannya pun didapat. Memang bukan kedua orang tua yang datang menghampirinya dan memberikan pelukan hangat, tetapi rasanya apa yang diinginkan sudah tercapai. Anna yang selalu menyayangi sang adik memeluk si bungsu dengan hangat dan berkata, “Semua akan baik-baik saja.”

Sejak MAXIME COMPANY berhasil bangkit dari keterpurukan, hubungan kedua orang tua Aaron menjadi renggang dengan anak bungsu lelaki mereka itu. Aaron lebih menghormati keinginan dan keputusan Anna dibandingkan dengan milik kedua orang tuanya. Si bungsu Lee pun menjadi seorang laki-laki yang pemalas dan lebih suka bermain daripada belajar. Menjadi penerus perusahaan bukanlah keinginannya sehingga tak usah dipedulikan saja. Ya, begitulah isi kepala Aaron yang saat itu berusia sekitar tujuh belas tahun. Namun, bagi kedua orang tua, kedudukan tertinggi perusahaan tentu dan pasti akan diberikan kepada Aaron. Oleh karena itu, paksaan diberikan Ayah Aaron kepada sang anak lelaki calon penerus perusahaan. Tetapi, Aaron yang keras kepala mengatakan dengan jelas bahwa dirinya tak ingin terjun ke dalam dunia bisnis. 

Aaron ingin bermusik. Lagi dan lagi harus dikatakan bahwa terlahir dalam keluarga yang berkelimpahan harta tak menjamin sebuah kebahagiaan karena uang bukanlah segalanya. Kedua orang tua Aaron harus berterima kasih kepada Anna sebab Anna lah yang membuat Aaron mengesampingkan impiannya menjadi seorang musisi dan berusaha untuk menyenangkan kedua orang tua dengan menerima tawaran sang ayahanda. Aaron tidak perlu melanjutkan pendidikan—cukup sampai di sekolah menengah atas saja—dan boleh bermusik sebagai kegiatan sampingan, tetapi adam itu harus mulai belajar memimpin perusahaan dengan datang ke MAXIME DEPARTMENT STORE setiap harinya. Meskipun sedikit berat untuk menentukan pilihan; untuk mengesampingkan impian, tetapi demi Anna, Aaron rela melakukan apapun. Dia tak ingin kakak perempuan satu-satunya itu berkorban untuknya. Sesekali, Aaron juga ingin berusaha membahagiakan kakaknya. Semoga saja keputusan yang diambilnya ini benar.