Showing posts with label bebe. Show all posts
Showing posts with label bebe. Show all posts

Thursday, April 9, 2015

108 ㅡ ♕ Ketika Mimpi Berakhir.

Kenyataan telah bertemu dengan sang akhir, lalu mengapa tak kau akhiri juga mimpimu yang hanyalah sebuah angan-angan semata? Kini kau tak tahu bagaimana cara membedakan sebuah mimpi dan sebuah kenyataan. Mengapa? Terlalu sering bermimpi dalam diam.



Ahn Youngyi meletakkan kedua telapak tangannya yang mungkin dapat dikatakan mungil itu di atas kedua kelopak matanya yang sipit, ya kecil. Ia menutup matanya dan menata pikirannya yang selama ini terlalu bising. Ahn mencoba mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa dari dirinya yang baru pulang sekolah itu untuk menghela napas panjang. Mengapa menghela napas? Ahn berusaha membuat dirinya benar-benar merasa lelah, sangat lelah.

Terlalu lelah...hingga tak kuat membuka kedua bola matanya. Terlalu lelah hingga tak sanggup membuka satu mata hatinya. Terlalu lelah untuk mulai melihat orang-orang yang silih berganti hadir dalam hidupnya. Terlalu lelah untuk tersenyum menatap sesuatu itu yang hambar dalam hidupnya. Terlalu lelah untuk kembali menitikkan air mata hati. Terlalu lelah untuk kembali berjalan menuju sesuatu di ujung sana. Karena kau lelah, mengapa tak kau beristirahat dulu sekarang? Meskipun kau tak akan pernah kembali berjalan lagi untuk waktu yang cukup lama, kini kau dapat berhenti berusaha berjalan karena kaki mu sudah cukup lelah berlari. Garis finish sudah dilewati. Meskipun tak kau dapati medali emas, mengapa tak kau berhenti berlari? Garis akhir telah kau temui. Kini saatnya kau oleskan penahan sakit bagi kakimu yang memar. Tak masalah kau beli dan oleskan sendiri. Siapa yang membutuhkan orang lain untuk melakukan itu ketika kau memiliki kedua tangan yang dapat kau gunakan? Sendiri, tak apa. Kau memang selalu begitu bukan? Tak masalah. Dulu sebelum  kau mulai berlari dalam keceriaan melangkahkan kakimu yang mungil, kau tetap dan selalu sendiri bukan? Jadi sekarang setelah kau temui garis akhir itu, tak apa kembali kepada tempatmu berada sebelumnya.

Terlalu cepat...rasanya semua terlalu cepat berlalu. Baru kemarin rasanya mengakhiri masa-masa tingkat dua. Ketika bunga baru mulai bermekaran. Ketika perasaan tak lagi beku. Ketika perasaan sakit mulai menemui penyembuh luka lama yang berbekas. Ketika perasaan berusaha menghilangkan bekas luka yang memang sampai kapanpun tak dapat hilang. Perasaan senang berada dalam ruangan tingkat tiga yang sama. Perasaan takut jujur pada diri sendiri bahwa rasa itu ada. Perasaan gugup bercerita pada kedua sahabat. Perasaan tak percaya yang terlukis di wajah mereka di sekeliling yang mulai bertanya tentang kalian. Perasaan tenang berhasil duduk bersama denganya berjam-jam. Perasaan bahagia dapat bercanda kecil dengannya. Semua terasa begitu cepat. Semua terasa seperti baru terjadi kemarin. Tak tau kini semua hampir berakhir, uh-oh...sudah berakhir.

Terlalu pedih...rasanya terlalu pedih. Pedih. Kau tau bukan rasa pedih ketika sebuah luka kembali mendapat luka. Tak sakit lagi. Memang tak sakit lagi. Hanya pedih. Terlalu pedih sampai kau tak dapat menitikkan air mata lagi. Terlalu pedih sampai kau tak ingin menatap matanya. Terlalu pedih sampai kau tak mampu menatap bayangannya yang lewat begitu saja, tak perdulikanmu. Terlalu pedih sampai tak ingin kau dengar semua tentang dirinya kembali. Bukan, bukan dia yang memberimu luka. Dirimu sendiri lah yang menyebabkan sebuah goresan kecil berarti itu tergores pedih sebagai luka. Siapa yang menyuruhmu terjatuh? Siapa yang menyuruhmu menetapkan hati untuk jatuh sedalam-dalamnya? Jangan...jangan terjatuh, sakit. Jangan...jangan jatuh terlalu dalam, tak ada yang rela mengulurkan tangan untuk menarikmu dari lumpur kotor. Tak hati-hati kau berjalan, begitulah pasti kata mereka. Kalau kau tau kau akan merasakan kepedihan yang luar biasa....kau tak akan pernah membuka pintu dan berjalan keluar rumah...sehingga kau tak akan terjatuh dalam lubang yang dalam. Begitulah pikiran semua orang...begitu juga pikirmu. Maka dari itu, jangan kau salahkan dirimu karena terjatuh dalam lubang kotor nan dalam. Jangan kau bohongi dirimu untuk tetap menunggu seseorang membantumu bangkit. Jangan kau lukai kembali luka yang belum kau bersihkan itu untuk mulai memandang orang lain dalam tatapan meminta bantuan. Jangan kau lewati hari-hari sepi mu dengan rasa sedih. Jangan kau tampakkan rasa pedih itu. Kau harus mencari cara tercepat untuk keluar dari lubang itu karena semakin lama kau disana....semakin dalam tempat itu menarikmu jatuh.

Terlalu lama...tak boleh kau terlalu lama. Tak boleh kau terlalu lama berharap seseorang yang sudah lewat namun tak memberikan tangannya untuk menarikmu keluar dari situ. Tak boleh kau terlalu lama memikirkan seseorang lain yang akan menarikmu kembali bangkit. Tak boleh kau terlalu lama berharap dalam kepalsuan akan mimpi yang kau buat nyata karena semua mimpi hanyalah angan-angan tanpa malu. Tak boleh kau terlalu lama berharap dalam ketidakpastian akan sebuah kenyataan yang adalah mimpi dalam mimpi berjalanmu...sleepwalking. Berjalan dalam mimpi. Ya, semua terasa nyata. Namun, sadarkan dirimu karena itu masih hanyalah sebuah mimpi yang kau buat nyata.

Terlalu jauh...tak boleh kau terlalu jauh masuk ke dalam mimpimu yang tak lain hanyalah sebuah kisah karanganmu. Kini kau telah mendapatkan akhir dari kenyataan hidupmu. Mengapa tak kau jadikan itu sebagai akhir bagi mimpimu? Kenyataan adalah mimpi. Mimpi adalah kenyataan. Dua hal itu kau buat sama, itulah mengapa harapan itu selalu ada di tempat yang sama selama ini. Kisah nyata telah menemui akhir. Sepertinya....tiba saatnya kisah mimpi menemui akhir. Kau takut untuk bermimpi lagi? Ya, aku mengerti. Kalau begitu....jangan pernah tertidur untuk bermimpi. Kalau begitu....jangan pernah terbangun untuk kenyataan. Tutup pintu dan diamlah di dalam...jangan keluar dari sana karena apabila kau melangkah keluar, kau akan bertemu dengan banyak orang dan kau tak dapat beristirahat dalam diam bagi dirimu sendiri. Tutuplah pintu rapat-rapat, hati.

Terlalu banyak...hal yang terjadi selama ini yang hanya dapat dijadikan kenangan bagi dirimu seorang. Terlalu banyak hingga kau tak mampu menghitung ulang. Terlalu banyak sampai rasanya dirinya tak dapat mengingat satu pun. Tak ingin mengingat, bisa jadi. Tak akan mengingat, pasti. Terlalu banyak sampai kau kini tak ingin menuliskan dirinya kembali dalam lembaran kertas berwarna. Terlalu banyak bagian-bagian kecil dari pajangan hati yang kau berikan untuknya sebagai puzzle emas. Terlalu besar pajangan hati yang kau berikan padanya sebagai sebuah hadiah perasaan. Tak tau, ternyata ia tak lain adalah seorang pemecah kaca. Tak menerima pajangan kaca. Terima memang namun sebagai pemecah kaca, ia harus menunjukkan tenagannya untuk memecahkan pajangan kaca hati itu dan membuatnya menjadi sebuah kaca yang baru. "Aku tak dapat menjual kaca hati ini padanya karena aku tak dapat memberikan pajangan hati ini seperti aku memberikan pajangan yang sama dulu kepada seseorang yang lain." Begitu katanya pada seorang pelanggan berbadan besar, sangar terlihat namun hati hangat. "Oh begitu...aku sudah tau." Kata Ahn Youngyi ketika seorang berbadan besar yang tak lain bernama Bebe, teman Ahn menjelaskan ungkapan seseorang itu ketika Bebe bertanya tentang Ahn Youngyi kemarin. Youngyi berusaha tersenyum tipis, "Ya...aku sudah menebaknya dan sudahlah tak apa. Tak sakit, lihat saja air mata pedih tak mampu keluar." Ahn menerima setiap kata demi kata yang keluar dari bibir Bebe yang berbisik itu dengan sangat pedih. Kembali rasanya terlalu pedih, sampai-sampai rasa itu mati dalam kebekuan detak jantung. Tak apa...terlalu pedih. Tak apa...memang kuat, tak apa. Mungkin kuat...tak apa.

Terlalu takut....apa yang Ahn Youngyi takutkan selama ini menjadi kenyataan. Apa yang selama ini Youngyi katakan pada dirinya hanya menjadi bumerang baginya. Ia terlalu bahagia karena dapat berada dekat dengannya sehingga tak sadar lampu itu tak pernah berubah hijau. Agustus...September...April...lampu itu tak pernah berubah warna sekalipun. Ahn terlalu senang tak tertabrak mobil ketika melewati lampu merah tanda berhenti itu dengan menari. Lucky...beruntung mungkin untuk pertama kali. Tak ada mobil yang lewat....untuk kedua kali. Dan kini tabrakan maut terjadi dan Ahn baru sadar ia harus menjauhi jalan raya itu ketika kecelakaan terjadi di depan matanya. Bukan dirinya yang tertabrak mobil yang lewat. Bukan dirinya melainkan bayangannya yang selalu menari di depan. Tertabrak duluan. Ia kini sadar bahwa selama ini lampu itu tak pernah hijau, lampu bagi pejalan kaki itu selalu merah. Setidaknya, ia sadar ia pernah diberikan kesempatan untuk merasa aman dan nyaman untuk berjalan ketika lampu sedang merah tanpa harus terluka. Kalau kau mau tau, kini Ahn Youngyi terluka pedih karena bayangannya mengalami kecelakaan hebat dalam batin. Bayangannya kehilangan banyak hal. Kaki untuk melangkah maju menuju rasa bahagia. Tangan untuk meraba sesuatu yang ada di depan. Mata untuk melihat mereka di sekeliling. Hati untuk memandang lurus dalam diam, spesies yang berbeda. Mimpi untuk memulai semua kisah. Kenyataan untuk kembali hidup. Ahn kini tak tau apa perbedaan mimpi dan kenyataan. Ahn kehilangan rasa kecap, kebas. Ahn kehilangan keahlian dalam warna, buta. Ahn takut berjalan karena memang tak dapat berlari pergi. Ahn takut meraba karena tak dapat merasakan benda hidup bernapas. Ahn takut melihat karena mata kini hitam gelap. Ahn takut memandang lurus karena hati kini telah beku. Ahn takut bermimpi karena takut terjatuh dari tempat tidur yang empuk. Ahn takut pada kenyataan karena semua itu hanyalah mimpi yang tak berujung. Ahn sangat takut, terlalu takut. Banyak hal hilang dalam dirinya. Namun satu yang pasti....ia tau kini bagaimana rasanya benar-benar jatuh dan bagaimana rasanya benar-benar terluka karena kecelakaan bayangan diri. Ia tak benci seseorang itu, mana mampu. Mengapa tak kau tabrak bayangannya lebih awal? Mengapa kau menjaganya dari kecelakaan yang harusnya terjadi padanya? Mengapa tak dari awal kau katakan padanya bahwa lampu sedang merah bagi pejalan kaki? Mengapa....? Sehingga Ahn Youngyi tak perlu terlalu sering menari. Sehingga Ahn youngyi tak perlu terlalu senang menari. Sehingga Ahn Youngyi tak perlu terlalu mencintai sebuah tarian. Sehingga Ahn youngyi dapat berperilaku seperti layaknya seorang pejalan kaki.


Terima kasih untuk hari-hari yang kau ciptakan bagiku untuk bermimpi. Mungkin banyak hal yang tak dapat kau percaya dalam hidup ini, tapi percayalah bahwa kau pernah menjadi cinta pertama seseorang. 

Tuesday, March 24, 2015

95 ㅡ ♕ Jika aku bukan diriku.

"Cobalah jadi diriku sekali saja. Cobalah dan lihatlah bagaimana aku ini sekarang. Seberapa kencang duniaku berputar sekarang. Kau bukanlah dirimu. Aku mohon cobalah kau jadi diriku. Kau bukanlah dirimu, Youngyi-ah..."

Ahn berfikir keras menatap langit penuh awan kelabu. "Jika aku bukanlah diriku. Jika aku dirinya. Apa yang aku lakukan?" Kata demi kata. Kalimat demi kalimat beruntaian menghujani langit Ahn Youngyi, mendung. "Jika aku menjadi dirinya. Satu hal yang kutahu...aku akan melakukan hal yang sama." Perempuan itu tersenyum sendiri, gelitik terasa di sekujur tubuhnya. "Aku akan dihujat. Aku akan dimaki. Aku tau itu. Namun aku memilih untuk bahagia dengan jalanku sendiri. Aku memilih untuk terus melangkah. Dapat tak dapatkan tak masalah. Aku hanya ingin berjuang. Aku akan berusaha meraih. Aku tak mau membohongi diriku sendiri. Aku mau berusaha." Ahn asik dengan dirinya sendiri sampai-sampai tak terasa seseorang membisikan sesuatu di telinganya. "Kau tak masalah melakukan itu. Mereka justru akan menyemangatimu. Mereka akan menganggapmu hebat. Perasaan melebihi segala-galanya. Well...it's fine for your kind. Tapi, bagaimana dengan aku?" Ahn termenung dibuatnya, berhenti sejenak tanpa suara lalu membalas, "Kau hebat. Kau akan selalu hebat ketika kau tak menyesali pilihan yang kau ambil. Cukup aku berkata." Youngyi menepuk pundak seseorang itu dengan harapan aura semangat dapat pindah ke pundaknya.

"Aku adalah dirimu. Dirimu adalah aku. Kau bertanya apa yang kulakukan? Aku melangkahkan kakiku meski tak tau arah. Namun, satu hal yang kutahu....aku bahagia melakukannya. Aku bahagia dengan air mata. Aku tertawa dengan harapan, mimpi tak sepahit kenyataan. Aku tak pernah menyesal, aku bertahan."

Good luck.

Monday, March 23, 2015

94 ㅡ ♕ Kiri atau Kanan.


Can i lay by your side...next to you.


Langit memang tak secerah kemarin-kemarin. Burung-burung tak berkicau sejak kemarin. Hari ini lebih tepat seperti hari kemarin, bukan hari-hari kemarin. Tepat seperti hari kemarin. Hujan jatuh tanpa pemberitahuan. Bintang pun tak mengulurkan lengan manis penuh gema. Sendirian. Tertinggal dari yang lain. Tak tau apa yang harus diperbuat. Tak tau apa yang harus dilakukan. Termenung bagai serpihan kecil batuan dunia. Tak mau lepaskan tangan. Bintang berlari, pagi hampir datang. Kesunyian pagi menyentuh bintang yang begitu tak berdaya. Sebentar saja. Sebentar bintang terbawa pergi. Pagi tak sadari sinarnya menghangatkan bintang yang begitu menggigit gigi. Sesosok pagi yang cerah penuh warna tak tau membuat bintang tak bergerak. Tak kuasa menahan tangis. Tak kuasa menahan tombak yang menusuk. Dentuman keras berputar di sekeliling dunia. Hancur. It's broken down...my life, your life, everyone's life at the moment. 


You'd say "I love you but not in that way."

Panggilan kiri dan kanan menghantui langkah. Titik air melewati bukit kecil yang lunak bernapas. Titik yang harus dihapus dengan tepukan pundak, tak apa. Lain hal, penglihatan tak bertenaga jelas memandang tak sadari apa yang direkam.  Kedua bola memang mengembang. Dunia berputar dengan kecepatan khusus, tak tau bagaimana menghentikan. Pertanyaan demi pertanyaan terlempar tak henti menikam pundak. Pernyataan demi pernyataan terlepas tak mau lepaskan pundak. Langit gusar. Burung-burung pergi. Bintang tak jatuh lagi. Namun, pagi secerah biasanya. Meskipun hujan turun. Titik air tergenang. Seulas tarikan bibir seperti tak akan pernah hidup kembali. Pundak, lakukan sesuatu. Bukan hujatan yang diguncang. Permohonan tolong terdengar. Jelas. 

You will never know that feeling, you will never see through this eyes...

Terdiam, mungkin sempat tertidur menyukai kehidupan jauh dari kebersamaan. Pertanyaan perbandingan terlempar. Tertangkap sih, jawaban terserah pundak. Kiri atau kanan. Kanan atau kiri. Tak tau arah mana yang harus dijalani. Bukan. Bukan begitu. Kiri tak jelas. Kanan tak tau. Biasa saja, mungkin itu. Tak tau harus bagaimana menghadapi? Jalani saja. Lihat yang berdiri di garis finish.

right.

right of left




Sunday, March 22, 2015

93 ㅡ ♕ Pilihan adalah sebuah takdir.

Hati yang tergerak karena senggolan kecil hanyalah sebuah bentuk gerakan lembut yang sangat bermakna.

Memilih untuk menerima gerakan kecil tersebut adalah sebuah pilihan. Pilihan bisa saja membawa kita kepada kebahagiaan hati dan bisa saja membawa kita kepada sebuah harapan kosong. Namun, jangan menyesali sebuah pilihan. Jalani pilihan itu dengan baik dan kau akan menghasilkan sesuatu yang baik. Ketika pilihan itu membawamu kepada tangis luka sendu, maka jangan menangis. Jangan kau sekali-kali menyesali pilihan itu. Kau harus menerimanya, karena itu adalah pilihanmu. Pilihan adalah sesuatu yang sangat kau inginkan. Pilihan membawamu kepada sesuatu yang sangat kau inginkan. Pilihan adalah kebahagiaan. Meskipun terkadang ada yang tersakiti. Meskipun terkadang hatimu terluka. Ketika kau menyesali sebuah pilihan karena itu memberimu luka, maka kau menyalahkan keadaan yang ada. Kau menyalahkan sebuah pilihan yang memang harus terjadi padamu, terjadi dalam hidupmu.

Jika kau tau hal yang menyakitkan akan terjadi padamu, mungkinah kau masih memilih pilihan itu? Itulah pertanyaan dan pernyataan yang akan dan selalu keluar dari bibirmu. Aku tau. Pilihan adalah sebuah pilihan. Kau dihadapkan kepada beberapa pilihan dan kau takut kau memilih pilihan yang salah. Namun, semua pilihan itu tetaplah pilihan yang tepat. Semua pilihan itu adalah jalan yang memang harus kau lalui. Salah atau benarnya sebuah pilihan adalah permainan pikiran. Jika kau menyebut sebuah pilihan itu dengan sebutan kesalahan maka semua yang terjadi merupakan sebuah kesalahan dalam hidupmu dan kau hanya akan merasa hancur. Namun, jika kau menyebut dalam hatimu bahwa semua itu memang sudah seharusnya terjadi padamu dan kau tak pernah menyesali pernah memilih jalan tersebut....maka semua kesedihan dapat kau terima dengan bahagia, semua kehancuran tak akan memporak-porandakan hidupmu dan semua kekecewaan tak akan menjatuhkanmu. Dan hal itu membawamu kepada kehidupan tanpa penyesalan. Penyesalan hanya membawamu pada kesedihan dan kehancuran. Jadi mulailah mencoba menerima dan jalani pilihamu dengan baik dan tulus.

Kunci dari semua pernyataan dan jawaban dari semua pertanyaan yang ada adalah fate. Kau tak dapat menghindari sebuah takdir. Takdir ada di dalam sebuah pilihan. Takdir menuntunmu untuk memilih. Takdir adalah sebuah pilihan. Takdir membawamu pada sebuah pilihan yang tepat. Namun, pikiranmulah yang membuat kebenaran itu menjadi sebuah kesalahan dan hanya memberikan hidupmu sebuah penyesalan. Jika pilihan yang kau pilih memberikan air mata, maka kau dihadapkan kembali kepada keputusan untuk menyesali atau tidak menyesalinya. Sebenarnya, penyesalan bukanlah sebuah pilihan melainkan sebuah mindset. Seperti yang telah kukatakan, tak ada pilihan yang salah. Yang ada hanyalah sebuah ketulusan dalam memilih. Ketulusan yang menuntunmu menuju kebenaran jalan bahagia...bagi dirimu sendiri.

Jangan takut untuk memilih.

Ketulusan yang diungkapkan dengan tulus akan terdengar dengan baik oleh seseorang disana. Aku memilih untuk bahagia. Semua pilihan yang kupilih tak akan pernah salah di mataku. Mungkin orang-orang menertawaiku karena terlalu bodoh untuk memilih mengungkapkan ketulusanku padanya. Namun, aku memilih untuk tulus pada perasaanku. Aku memilih untuk tak pernah menyesal akan semua yang kulakukan. Aku membuat pikirkanku menulis indah di atas kertas putih hidupku. Bahwa pilihan yang kupilih adalah pilihan yang tepat, sehingga semua yang kulakukan benar-benar membuatku bahagia dan tak pernah ada penyesalan terlukis dalam benakku. Aku tak mengharapkan diriku menjadi salah satu pilihan dalam hidupnya. Aku tak mengharapkan ia menjadikanku sebuah pilihan. Aku memilih untuk bahagia bersama tangis. Aku memilih untuk tertawa dengan air mata. Aku memang tak memilih untuk terjatuh dan kecewa, namun aku memilih untuk berlari dan tersenyum.

Good luck!

it's sad it ends.
it's okay it hurts.
time heals pains.
love heals broken hearts.

#nowplaying: Shannon - 20inch

Thursday, March 12, 2015

86 ㅡ ♕ Inikah Ketakutanmu, Youngyi-ah?

"Kau kenapa hari ini Pandae? Aneh sekali tingkahmu..." Ahn yang duduk tepat di hadapan seorang laki-laki tinggi, tanpa lemak dengan kacamata ala korean boy menghiasi wajah yang sedikit menarik itu menatapnya heran. "Wah...makanan ini enak sekali!" Laki-laki bernama Pandae itu tertawa sendiri, tak menghiraukan Ahn yang sedang menatapnya lekat. "Oh! Galau Syndrome detected." Ahn menyeringai, kemudian menyantap tali panjang berkuah yang tersedia di atas meja.

"Kita tak boleh dihujani masa lalu." Lubuk hati menyentuh pikiran sendu Ahn.


************************************
Masa lalu ada di belakang kita, cinta ada di depan dan di sekeliling kita.
- Emme Woodhull-Bache

************************************

Pandae yang sedari tadi memang bertingkah aneh tiba-tiba melingkarkan lengannya yang panjang di bahu Park Bom. Ya, Park Bom selalu ada kemanapun Youngyi pergi. Ini aneh? tidak juga. Ya sudahlah. Ahn Youngyi tersenyum lembut menatap keduanya yang sedang tertawa, bermain. 
"Oh ya, kalau dilihat-lihat yang paling anteng-anteng saja hanya kau, Youngyi. Aku tak pernah melihatmu dengan pria, Youngyi-ah." Sebuah suara berat terdengar membuyarkan lamunan Youngyi akan keinginan diperlakukan seperti Park Bom disana. "Hmm...? Pria?" Ahn tertegun. "Yoondo? Youngyi pernah dengan Yoondo bukan ketika ia masih menjadi Song Joohee." Park Bom mengambil alih keadaan untuk menjawab sambil terkekeh kecil. "Wah wah, lihatlah temanmu yang satu ini. Mengapa kau membawa masa lalu? Tidakkah harusnya kita melihat masa sekarang?" Laki-laki dibelakang kemudi yang tadi bertanya kini menambahkan pertanyaan lagi dan lagi. Ia, Bebe. "Maksudku, aku tak pernah melihat Youngyi bersama dengan seorang laki-laki." Bebe menambahkan sambil memutar setir mobil menuju ke kafe yang dituju. "Ya...kita tetap harus menerima masa lalu untuk masa depan yang lebih baik." Youngyi terdiam dan hanya bisa tersenyum menanggapi semua pertanyaan dan pernyataan yang tertubi-tubi menghantam kepala dingin dan hati panas Youngyi. Bebe dan Bom mengambil alih keadaan, membicarakan Youngyi di dalam mobil. Cara yang tepat untuk menghilang dari situasi semacam ini bagi Youngyi adalah dengan mengalihkan pandangannya ke sisi poninya yang terurai, melihat jalanan dari layar kaca mobil yang sedikit gelap. "Ya.." Ia menjawab pelan. "Aku pun tak tahu mengapa..." Senyuman halus ciri khas dari perempuan bernama Ahn Youngyi ini terlihat kembali. 

"Aku tak pernah dekat dengan laki-laki. Laki-laki tak pernah mendekatiku. Begitulah hidupku. Aku tak percaya mereka, belum. Aku belum berani mengenal mereka, ya. Apakah mereka pun begitu? Mereka tak percaya padaku? Aku tak menarik. Aku tahu. Aku bingung bagaimana harus percaya dan mulai mengenal mereka. Aku tak punya daya tarik. Aku redup. Aku takut. Aku tak tahu harus bagaimana. Bagaimana cara mengenal mereka kembali? Aku lupa bagaimana caranya. Aku lupa bagaimana rasanya. Aku lupa semuanya. Orang-orang dalam masa laluku telah bahagia. Satu per satu dari mereka telah menemukan kebahagiaan yang terbaik. Aku tak iri, ya bohong. Aku sedikit iri. Bagaimana mereka dapat memulainya kembali? Apakah mereka pernah lupa bagaimana cara memulainya? Atau tidak? Aku rasa mereka tak lupa. Mereka hebat. Aku ingin mulai berjalan. Aku ingin mulai tertarik. Aku ingin menggapai kebahagiaan. Aku ingin melakukan semuanya. Tapi, aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak tahu harus berbuat apa. Apakah ini yang dinamakan ketakutan? Apakah ini yang dinamakan jalan buntu? Bisakah aku sembuh? Bisakah aku memulainya kembali? Inikah ketakutakanmu, Youngyi-ah? Inikah ketakutanmu selama ini yang tak bisa kau sembuhkan sampai detik ini? Hati itu terlalu mati untuk memulai. Otak ini terlalu rusak untuk berfikir. Badan ini terlalu bingung untuk melangkah. Haruskah aku tetap berada di tempat ini, memandangi diriku sendiri yang sangat tak menarik? Aku mohon, aku hanya ingin sembuh. Aku hanya ingin menemukan jawaban dari semua pertanyaanku..." Helaan napas panjang terdengar dari sisi Ahn Youngyi sebelum melangkahkan kaki turun dari mobil Bebe dan menuju ke pintu masuk kafe.


Hatimu sakit? Harusnya sih tak apa.
Lukamu belum sembuh? Pelan-pelan semuanya akan berakhir.
Kau bingung? Aku juga tak tahu.
Kau takut? Aku lebih takut.
Kau tak menarik? Aku terlupakan.
Kau suka berbohong? Aku tidak, hipnotis yang kulakukan.
Pernahkah kau rasakan hal yang sama? Mungkin kita bisa berteman. 


Aku takut, aku memang sendiri.

Perbedaan antara mencoba (try) dan kemenangan (triumph) hanyalah secuil tenaga (umph)
- ANONIM

Tuesday, March 10, 2015

84 ㅡ ♕ Ketertarikan, bahagia yang sederhana.

"Ketertarikan itu adalah hal yang wajar." Begitulah sepotong kalimat penuh arti terucap dari bibir Ahn, seorang perempuan yang dikatakan manja oleh orang-orang di sekelilingnya hari ini. Tak menyangka kalimat seperti itu dapat diucapkannya, ia mengedipkan mata berulang kali tanda ia kaget. "Semua orang di dunia ini pasti pernah merasa tertarik satu dengan yang lainnya."

"Hmmm...ciptaan Tuhan banyak macamnya sih." Ia menambahkan dan membuat seseorang di ujung telefon genggam terkekeh, terdengar suara berat dengan nada yang selalu dapat membuat orang yang mendengarnya tertawa dan merasa nyaman.

Ya, itu adalah hal yang wajar. Ketertarikan akan sesuatu adalah hal yang sangat wajar. Namun, benarkah ketertarikan pada seseorang merupakan hal yang benar? Coba kita lihat. Youngyi-ah, kau tertarik dengannya? Ya. Aku memang tertarik. Buktinya? Semua yang dilakukan orang itu selalu benar di mataku. Lalu, apa yang kau rasakan? Aku senang hanya dengan memandangnya tertawa. Hmm...pernahkan ada keinginanmu untuk memilikinya? Ya, tak berani bicara bohong, pernah. Pernahkah kau paksakan? Tidak. Tentu tidak. Mengapa? Bolehkah kini Ahn Youngyi mulai berbicara? Ketika kau merasakan ketertarikan itu, kau akan belajar dewasa. Kau akan mengetahui keadaan bagaimana yang harus kau lalui. Ketika kau mengerti akan keadaan itu, maka bersiaplah rasa sayang itu muncul. Ketika rasa itu muncul, kau tak akan sanggup menyakitinya. Menyakitinya dalam arti kau paksakan kehendakmu dan menentang keadaan yang semestinya. If you know what i mean. Tidakkah kau sakit karena tak mendapatkannya? Kau akan belajar dan belajar dan belajar sampai kau benar-benar dewasa bahwa jawaban itu pasti, Tidak. Kau tak akan sakit. Kau pasti bertanya, "Mengapa?" jika kau belum benar-benar memahami. Ya, jawaban dewasanya adalah tidak. Kau akan terus ingin berada di sampingnya dan memandangnya tertawa karena rasa sayang itu tak akan pernah hilang, meskipun kau tak memilikinya. Kau akan bahagia hanya dengan tertawa bersamanya. Kau akan bahagia hanya dengan bercanda gurau dengannya. Kau akan bahagia hanya dengan memandangnya tenang di sampingmu, dalam hidupmu. Sayang dan suka adalah 2 hal yang berbeda. Apa yang harus kau lakukan pada akhirnya? Syukuri hal itu. Karena kau telah mengerti arti yang sesungguhnya. Karena kau pernah merasakannya. Karena kau tulus. Karena kau telah dewasa. Ingatlah, setiap kali kau berada di sampingnya...bersiaplah untuk kembali jatuh hati. Mengapa? Karena rasa sayang tak akan pernah hilang.



Cinta bukanlah cinta bila berubah setiap kali ada perubahan. 
- William Shakespeare

Jadi....? Pernahkah kau merasa tertarik dengan seseorang? Apakah ketertarikan itu sama dengan yang dirasakan Ahn Youngyi? Persis? Jika Ya, mari bersama-sama dengan Ahn Youngyi menjadi dewasa setiap harinya dalam menyikapi perasaan ketertarikan ini. Jika Tidak, mungkin kau bisa melihat kembali benarkah itu suatu ketertarikan...ataukah hanya suatu keinginan untuk lepas dari kesendirian?

"Ketertarikan pada seseorang adalah hal yang wajar."
"Bahagia itu sederhana."