Showing posts with label bom. Show all posts
Showing posts with label bom. Show all posts

Wednesday, January 1, 2020

312 ㅡ ♕ Biarpun aku dilupakan, dijadikan pilihan kedua, dan dipermainkan oleh semesta.

1 Januari 2020, Kim Yeonji.

Aku mengawali tahun baruku dengan merasakan kekecewaan yang luar biasa. Aku sudah belajar untuk tidak lagi menaruh harapan kepada orang lain di tahun 2019. Tetapi menjelang 2020, aku lagi-lagi terlampau bahagia hingga aku lupa untuk menjaga hatiku. Kini hatiku jatuh lagi. Aku kembali menaruh harap pada sesuatu yang tak pasti. Sesuatu yang membuat aku tertatih lagi untuk kesekian kali. Tidak pernah terpikirkan olehku, bahwa aku bisa sesakit ini lagi.

Kedatangannya yang tiba-tiba membuat aku berpikir ini adalah pertanda kasih. Dia menjadikan aku seorang teman cerita. Dia membuat aku menjadi seseorang yang ceria. Dia membuat aku berpikir aku istimewa. Nyatanya semua hanya pura-pura. Ketulusan hatiku sirna begitu saja, apalagi ketika sekelilingnya bisa membuat dirinya lebih bahagia. Apalah aku ini yang hanya bisa tulus mengucap kata dan memperlakukan dia bak seseorang yang sempurna. Aku bukan siapa-siapa, maka tak pantas aku berharap lebih.

Lagi, lagi. Aku terluka lagi. Menjelang akhir tahun 2019, aku mulai melemah karena satu dan dua hal yang sempat membuatku terkejut. Meski begitu, aku tetap tegar dan berusaha untuk tetap kuat. Tetapi ketika orang yang sempat membuat hatiku remuk kembali memecahkan hatiku yang sudah aku rangkai sedemikian rupa, tangisku pecah dan pertahananku runtuh. Aku yang sudah bangkit, kini berada di titik terendah lagi. Aku terluka, kecewa, dan ingin menyerah, sebab aku mulai rapuh, tidak kuat menerima kesedihan yang datang bertubi-tubi. Oleh karena itu, aku akan menutup segalanya. Lebih baik aku menutup pintu hatiku rapat-rapat hingga tak ada yang berani masuk, bahkan mengetuk sekali pun tak akan aku persilakan. Aku akan mengunci kastil kecilku dengan baik. Aku akan menjaga hatiku dan hanya akan menerima perasaan yang aman. Aku tidak akan terbuai oleh kenyamanan yang fana. Aku tidak akan lagi berusaha untuk mencari dan menerima. Aku hanya akan merangkul diriku sendiri.

Jika kamu mengenal aku lebih dalam, kamu akan tahu seberapa aku selalu memberikan yang terbaik. Aku tidak ingin menganggap diriku adalah orang yang baik, tetapi aku berani menjamin bahwa aku selalu tulus, karena aku percaya, apabila aku tulus kepada orang lain, maka orang lain pun akan memperlakukan aku dengan tulus juga. Apakah karena aku terlalu tulus, mereka yang ada di sekelilingku menganggapku mudah dan lemah? Mereka berulang kali membuat aku merasa hancur sehancur-hancurnya. Mereka yang tidak pernah aku bayangkan bisa memperlakukan aku dengan rendah, ternyata memendam perasaan ingin menghancurkan diriku. Jujur saja, inilah alasan mengapa aku tidak berniat berjalan keluar kediamanku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya berusaha mencintai orang-orang terdekatku dengan sepenuh hati, tetapi mereka selalu melupakan aku... menganggap aku tidak pernah ada. Mereka hanya mengingat dan membutuhkan aku di saat mereka dalam kesusahan, tetapi di saat mereka bahagia, aku tidak pernah ada di sana. Bukan masalah, sebab hatiku sudah penuh, apabila mereka bahagia.

Aku tidak kecewa pada diriku dan hidupku. Aku sudah banyak belajar tentang kehidupan, sehingga aku bisa memunculkan perasaan bangga pada prinsip dan pilihan hidupku. Aku hanya kecewa pada perlakuan mereka kepadaku. Secara sengaja maupun tidak, aku tidak tahu dan tidak ingin peduli. Aku hanya khawatir, jikalau suatu hari mereka diperlakukan sama seperti bagaimana mereka memperlakukan aku, apakah mereka sanggup? Aku rasa mereka akan lebih terpuruk dariku. Mereka akan meronta-ronta, mempertanyakan kesalahan apa yang mereka perbuat kepada Tuhan. Aku tidak akan seperti itu, karena aku tahu Tuhan sayang padaku. Maka dari itu, aku diperkenalkan dengan begitu banyak perasaan yang tidak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya bisa terjadi padaku.

Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena sudah membuat aku memulai tahun dengan kecewa. Aku jadi bisa mempersiapkan diriku lebih baik lagi untuk menjadi seseorang yang lebih kuat dari sebelumnya. Perasaan dilupakan dan dianggap tidak ada memang adalah satu hal yang sangat menyakitkan, tetapi aku tidak akan memperlakukan mereka sama seperti apa yang sudah mereka lakukan padaku. Aku akan tetap berbagi kasih kepada siapa saja yang aku temui. Aku akan berbesar hati dan tetap belajar untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Aku tidak akan pernah berhenti untuk belajar di kehidupan ini. Setiap harinya aku akan terus berkembang karena aku tidak pernah takut dipermainkan oleh semesta, sebab aku percaya hatiku akan semakin kuat dan aku bisa mendapatkan apa yang sudah aku tanam selama hidupku. Jadi, aku hanya berharap aku tidak menyerah di tengah jalan. Tahun 2020 baru saja dimulai, biarlah kesedihan dan kekecewaan ini berakhir sampai di sini. Kuatkan aku dan bantu aku agar aku bisa tetap menjadi diriku yang tulus, bahagia apabila orang lain bahagia, dan bersyukur setiap harinya. Biarpun aku dilupakan, dianggap tidak ada, dijadikan pilihan kedua, dan dipermainkan oleh semesta, aku akan tetap bersyukur dan berjuang agar aku bisa menjadi seseorang yang lebih bahagia lagi.

Terima kasih sudah menjadi kuat. Tetap jadi dirimu yang tulus. Jangan pernah berubah hanya karena sekelilingmu meminta kamu untuk meredupkan cahayamu. Tetap pancarkan cahaya kasihmu dengan tulus. Kamu adalah seseorang yang penuh. Kamu dipenuhi cinta. Jangan lupa bahagia.











Friday, April 3, 2015

103 ㅡ ♕ 무슨 일 있어?

아무 소식이 없어도 아직까지 오늘 너의 메세지를 기다리고 있어 바보 처럼.

뭐야...영이야...너는 호구다. 넌 호구의 사랑 드라마 봤을때 무슨 생각이 떠올려? 바보. 니가 바보야. 영이는 호구다. 바로 제일 바보 여자다. 인정할께.

"영이야...왜 너의 브록을 계속 한국 포스트야? 왜? 무슨 일 있어?" 박봄은 물었다. 

"아니야...아무 일 없어. 심심해서 그래." 안영이는 대답했다.

힘들지 않아 난 확실히 내 마음을 알아. 그냥 이 느낌 싫어. 널 싫어하지도 않아...그냥 피곤해. 

이별하려고 왔어...고맙다 내 첫사랑.


니가 어디갔는지... 누구를 만났는지... 뭘 했는지... 나 한테 그 말은 말해 못했으면 괜찮아. 우리는 그냥 친구야 아니 우리 아무 사이도 아니니까. 그래서 난 듣기 필요하지 않아. 난 널 이해해... 노력 해볼게....

Friday, March 27, 2015

98 ㅡ ♕ Tak pernah menyesal, bertahan.

tak pernah menyesal, masih bertahan.
tak pernah menyesal, pernah bertahan.
tak pernah menyesal, aku bertahan.

The day gets special enough just by being able to see the person i love for a bit.

"Aku tau semua tentang dia dan seseorang itu..." Ahn terdiam melihat pesan yang tertera di telepon genggamnya. Ya, dari Pandae tentunya. "Aku sudah tau semuanya." Ketika hendak mengirimkan balasan, "Namun, aku sudah siap menerimanya. Selama ia bahagia, aku tak apa-apa untuk selalu berada di sampingnya meskipun hanya sebagai sahabat." Pandae melanjutkan. Seulas senyum menghiasi wajah Ahn yang saat itu baru pulang sekolah. "Nyaman. Buat ia nyaman di sampingmu senyaman-nyamannya. Karena seseorang yang nyaman satu dengan yang lainnya, akan selalu kembali. Ia akan selalu kembali kepadamu karena kau selalu dapat membuatnya nyaman. Dan kenyamanan mengalahkan segala-galanya. Percaya padaku. Bukan, aku bukan mau membuatmu berharap lebih. Namun, aku hanya ingin kebiasaan yang terlalu biasa untuk menyayanginya itu selalu ada dan kau akan bahagia karena kau membuatnya nyaman dan ia akan selalu merasa nyaman berada di dekatmu. Lalu? hmm...ya...tak ada yang tau dimana finish mu. Sehingga yang harus kau lakukan hanyalah tetap menyayanginya dan lakukan yang terbaik. But, don't be too kind and it's okay to fight." Ahn membalas panjang, menjelaskan.
"Terimakasih, Youngyi-ah...berkat dirimu, aku tak pernah menyesal masih bertahan. Ya...kebiasaan yang terlalu biasa." 

I was keeping it in all day, but now it exploded.

Ahn Youngyi baru saja keluar dari kamar mandi ketika OST Healer terdengar menggema di kamarnya. Nama Park Bom tertera di layar telepon. Ada apa ini? pikirnya Baru saja kurang dari 1 jam mereka bertemu. Secepat kilat ia memutuskan untuk menekan tombol jawab. "Ya Bom-ah, ada apa?" 

"Aku sedih sekali, Youngyi-ah........" Terdengar isak tangis dari ujung sana dan dengan sesekali menyedot ingus yang keluar, Bom berusaha menjelaskan semua yang terjadi setelah Youngyi pergi dari kafe 1 jam yang lalu. Kejadian begitu mengejutkan. Semua yang terjadi sudah dibayangkan akan terjadi oleh Youngyi. Mendengar semuanya dengan jelas, Youngyi merasa hatinya seperti tertusuk duri yang tak tau datang dari mana dan bagaimana ia bisa tertusuk duri tersebut. Darah mengalir keluar dari tubuhnya yang lemah. Youngyi sedih. Youngyi kesal. Youngyi marah. Tetapi, kemarahannya tak bisa menandingi kesedihan, kekesalan dan kemarahan Park Bom. Bom begitu baik dan perhatian. Bom begitu tulus menyayanginya yang begitu tak baik di mata orang di sekelilingnya. Namun, inikah balasannya? Wow, amazing guy. 

"Sudah cukup, Bom-ah. Sudah cukup kau mengorbankan dirimu demi dirinya. Kau hanya tertawa lebar dan tetap membela dirinya ketika semua orang membanjiri dirimu dengan pertanyaan tentangnya. Kau tetap menutupi semua tentang dirinya dengan kata-kata manis tanpa dosa. Ia tau kau peduli padanya. Ia tau kau menyayanginya. Ia tau semuanya. Tetapi ia pura-pura bodoh dan tetap melakukan ini padamu. Kau pun tak dapat melakukan apa-apa karena rasa sayangmu padanya selalu ada, begitu besar. Tidak, kau tidak salah. Tak ada yang salah menyayangi seseorang. Jangan salahkan dirimu menyayangi dirinya. Aku hanya ingin kau tau bahwa kau bukan orang yang boleh dan bisa diperlakukan seperti itu olehnya. Aku kesal dengan sikapnya. Aku marah. Orang yang selalu membuatmu seperti ini adalah dia. Sudah berapa kali ini? Kali ini, ia sudah kelewatan. Ia sudah melanggar aturan mainnya sendiri dan untuk apa kau tetap berada dalam permainan ketika permainan itu sudah berakhir? Semua chances telah diambil dan sudah tak ada lagi chances tersisa. Bukan kau yang harus diberikan kartu merah. Bukan kau yang harus meninggalkan permainan. Berikan kartu merah padanya dan katakan 'Kartu merah kuberikan padamu. Mengapa? Karena kau yang harus keluar dari permainan ini, karena ini adalah permainanku' Katakan dengan lantang dan kau boleh pergi dengan marah." Ahn berkata dengan nada sedikit meninggi, mungkin terdengar tinggi dari ujung telepon. 

"Aku mengerti, Youngyi-ah. Terimakasih ya, aku cukup senang karena aku merasa hatiku sedang marah. Aku sudah menangis cukup lama sebelum memutuskan untuk meneleponmu sehingga sedihku sudah mulai berkurang sekarang. Dan kata-katamu membuatku lega. Thank you." 

Tuesday, March 17, 2015

90 ㅡ ♕ 박봄에게

I’m walking and walking
Across the times, the memories, on this street
The flowers you bought me on the evening street
They’re still in the vase, withering away

The memories scatter with the blowing wind
I still miss you so much, I’m going crazy



힘들었다 오늘....우리 너무 힘들어. 박봄아...괜찮을거야. 울지마. 니가 울면 나도 아파. 행복해라. 그 남자 진짜 나쁜 사람이야. 우리 그 사실 다 알아...근데 어쩔수가 없어서 너 계속 혼자 울어 나 계속 너 한테 아무것도 몰라...그냥 너 혼자 울면 됐어....내 생각은. 그래서 울었다...알았는데 그만 울어 잘 살아. 니가 진실을 알고있어 근데 왜? 니가 그 사람 앞에 왜 이렇게 웃어? 뭐가 그렇게 재밌어? 난 널 잘 몰라. 음....조금 알아....니가 그 남잔 진짜 좋아해 근데 난 널 상처를 받고 볼수 없잖아. 그래서 이제.....그만해 봄아....그만 상처를 받아...



But I can’t hate you

I miss you, I miss you
Why am I hurting so much?
I’m silently crying, I love you
I need you, I need you
Nights without you feel so lonely


The clock keeps ticking

But our time has stopped
I quietly close my eyes
And think about your voice that I hear
It’s calling out to me again

I’ll hate you as much as I loved you

But I still miss you so much, I’m going crazy


Hari ini adalah hari yang melelahkan...kami sangat lelah. Park Bom-ah...semuanya akan baik-baik saja. Jangan menangis. Apabila kau menangis, hatiku juga sakit melihatnya. Bahagialah. Ia memang jahat. Kita tau semua kenyataannya...tetapi kita tak dapat melakukan apapun, kau selalu menangis sendiri, aku selalu tak tau apa yang harus aku lakukan...aku hanya membiarkan kau menangis sepuas-puasnya sendiri...ini pemikiranku. Sehingga setelah itu...kau tau semuanya, berhenti menangis dan hidup dengan baik. Kau tau semua kenyataannya tetapi mengapa? Di depan dirinya mengapa kau tertawa seperti ini? Apa yang begitu menarik? Aku tidak tau kau. Hmm....aku tau sedikit...kau begitu menyukai dirinya tetapi aku tak dapat melihatmu menerima luka darinya. Jadi sekarang......Stop Bom-ah....berhenti menerima luka itu...



I’m filled with scars, I’m a coward in this breakup

Please don’t leave me, you know



#nowplaying: Shannon - Hate You 


It still feels like you’ll appear

Why am I hurting so much?
I’m silently crying, I love you
I need you, I need you
Nights without you feel so lonely

Thursday, March 12, 2015

86 ㅡ ♕ Inikah Ketakutanmu, Youngyi-ah?

"Kau kenapa hari ini Pandae? Aneh sekali tingkahmu..." Ahn yang duduk tepat di hadapan seorang laki-laki tinggi, tanpa lemak dengan kacamata ala korean boy menghiasi wajah yang sedikit menarik itu menatapnya heran. "Wah...makanan ini enak sekali!" Laki-laki bernama Pandae itu tertawa sendiri, tak menghiraukan Ahn yang sedang menatapnya lekat. "Oh! Galau Syndrome detected." Ahn menyeringai, kemudian menyantap tali panjang berkuah yang tersedia di atas meja.

"Kita tak boleh dihujani masa lalu." Lubuk hati menyentuh pikiran sendu Ahn.


************************************
Masa lalu ada di belakang kita, cinta ada di depan dan di sekeliling kita.
- Emme Woodhull-Bache

************************************

Pandae yang sedari tadi memang bertingkah aneh tiba-tiba melingkarkan lengannya yang panjang di bahu Park Bom. Ya, Park Bom selalu ada kemanapun Youngyi pergi. Ini aneh? tidak juga. Ya sudahlah. Ahn Youngyi tersenyum lembut menatap keduanya yang sedang tertawa, bermain. 
"Oh ya, kalau dilihat-lihat yang paling anteng-anteng saja hanya kau, Youngyi. Aku tak pernah melihatmu dengan pria, Youngyi-ah." Sebuah suara berat terdengar membuyarkan lamunan Youngyi akan keinginan diperlakukan seperti Park Bom disana. "Hmm...? Pria?" Ahn tertegun. "Yoondo? Youngyi pernah dengan Yoondo bukan ketika ia masih menjadi Song Joohee." Park Bom mengambil alih keadaan untuk menjawab sambil terkekeh kecil. "Wah wah, lihatlah temanmu yang satu ini. Mengapa kau membawa masa lalu? Tidakkah harusnya kita melihat masa sekarang?" Laki-laki dibelakang kemudi yang tadi bertanya kini menambahkan pertanyaan lagi dan lagi. Ia, Bebe. "Maksudku, aku tak pernah melihat Youngyi bersama dengan seorang laki-laki." Bebe menambahkan sambil memutar setir mobil menuju ke kafe yang dituju. "Ya...kita tetap harus menerima masa lalu untuk masa depan yang lebih baik." Youngyi terdiam dan hanya bisa tersenyum menanggapi semua pertanyaan dan pernyataan yang tertubi-tubi menghantam kepala dingin dan hati panas Youngyi. Bebe dan Bom mengambil alih keadaan, membicarakan Youngyi di dalam mobil. Cara yang tepat untuk menghilang dari situasi semacam ini bagi Youngyi adalah dengan mengalihkan pandangannya ke sisi poninya yang terurai, melihat jalanan dari layar kaca mobil yang sedikit gelap. "Ya.." Ia menjawab pelan. "Aku pun tak tahu mengapa..." Senyuman halus ciri khas dari perempuan bernama Ahn Youngyi ini terlihat kembali. 

"Aku tak pernah dekat dengan laki-laki. Laki-laki tak pernah mendekatiku. Begitulah hidupku. Aku tak percaya mereka, belum. Aku belum berani mengenal mereka, ya. Apakah mereka pun begitu? Mereka tak percaya padaku? Aku tak menarik. Aku tahu. Aku bingung bagaimana harus percaya dan mulai mengenal mereka. Aku tak punya daya tarik. Aku redup. Aku takut. Aku tak tahu harus bagaimana. Bagaimana cara mengenal mereka kembali? Aku lupa bagaimana caranya. Aku lupa bagaimana rasanya. Aku lupa semuanya. Orang-orang dalam masa laluku telah bahagia. Satu per satu dari mereka telah menemukan kebahagiaan yang terbaik. Aku tak iri, ya bohong. Aku sedikit iri. Bagaimana mereka dapat memulainya kembali? Apakah mereka pernah lupa bagaimana cara memulainya? Atau tidak? Aku rasa mereka tak lupa. Mereka hebat. Aku ingin mulai berjalan. Aku ingin mulai tertarik. Aku ingin menggapai kebahagiaan. Aku ingin melakukan semuanya. Tapi, aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak tahu harus berbuat apa. Apakah ini yang dinamakan ketakutan? Apakah ini yang dinamakan jalan buntu? Bisakah aku sembuh? Bisakah aku memulainya kembali? Inikah ketakutakanmu, Youngyi-ah? Inikah ketakutanmu selama ini yang tak bisa kau sembuhkan sampai detik ini? Hati itu terlalu mati untuk memulai. Otak ini terlalu rusak untuk berfikir. Badan ini terlalu bingung untuk melangkah. Haruskah aku tetap berada di tempat ini, memandangi diriku sendiri yang sangat tak menarik? Aku mohon, aku hanya ingin sembuh. Aku hanya ingin menemukan jawaban dari semua pertanyaanku..." Helaan napas panjang terdengar dari sisi Ahn Youngyi sebelum melangkahkan kaki turun dari mobil Bebe dan menuju ke pintu masuk kafe.


Hatimu sakit? Harusnya sih tak apa.
Lukamu belum sembuh? Pelan-pelan semuanya akan berakhir.
Kau bingung? Aku juga tak tahu.
Kau takut? Aku lebih takut.
Kau tak menarik? Aku terlupakan.
Kau suka berbohong? Aku tidak, hipnotis yang kulakukan.
Pernahkah kau rasakan hal yang sama? Mungkin kita bisa berteman. 


Aku takut, aku memang sendiri.

Perbedaan antara mencoba (try) dan kemenangan (triumph) hanyalah secuil tenaga (umph)
- ANONIM

Monday, March 9, 2015

83 ㅡ ♕ Satu-satunya...


When I try to write a poem,
I can only write your name


"Oh, ternyata kau dengannya? Aku mendukungmu."
"Aku sangat mendukungmu."
"Berjuang ya...sedikit lagi." 
"Senang sekali apabila kau jadi dengannya, kita bisa duduk-duduk bersama." 
"Apalagi you're a good drinker."
"Kemarin aku melihat kau sangat menjaganya, ia pun merasakan hal itu."



It might hurt and be hard
But I promise to protect you


Youngyi mengirimkannya sebuah pesan dalam gambar yang memang sudah biasa dikirimkannya. Biasanya, ia hanya mendapat balasan satu atau dua kata saja. Mungkin ia sedang sibuk dengan teman-temannya. Tak apa. Aku mengerti. Kalimat tersebut telah menjadi lagu sehari-hari yang Youngyi dengar. Namun, hari ini sedikit berbeda. 

"Kau disana? Apa yang kau lakukan disana?" Pertanyaan yang cukup panjang.
"Kau tak ikut gunting rambut bersama unnie-mu?" Cukup aneh.
"Itu pasti milik appa-mu kan?" Tak seperti biasanya. 

Hari ini ia banyak bertanya. 




When I look into your eyes, my trembling heart flutters
When I look at you, I feel like the world has stopped

Senyuman Youngyi menghiasi wajahnya yang tak selalu tersenyum itu dan hari ini, ia banyak tertawa. Terima kasih pada sahabat, Bom dan Chaerin. Begitu banyak hal yang dapat ia tertawakan hari ini, termasuk hati kecilnya ikut bahagia bersama. Tak boleh, memang tak boleh bahagia sekarang. Tetapi, tak apa mensyukuri apa yang terjadi dan tersenyum menyikapinya bukan? Tak boleh, memang tak boleh berharap kembali. Tetapi, tak apa membayangkannya ia ada bersama cinta bukan? 




Just like how winter passes and spring comes
I believe you will come to me as well

***************************************

Oh Ri Jin: "Then...what is your name? What is...your name?"
Cha Do Hyun: "I, the one with this face and this gaze, am Cha Do Hyun."

***************************************

Oh Ri Jin:
Are you watching, Cha Do Hyun?
Are you listening, Cha Do Hyun?
You were going to eat medicine again, weren't you?
You're caught red-handed. Don't even think about lying.
The fact that you're watching this video right now means that you're having a hard time again 
and is about to rely on medicine.
I'm not saying that medicine is bad.
You said so yourself.
Whatever it is, you want to overcome it with me.
That you wanted to erase the bad memories with good memories with me.
So what is my point?
I'm saying, today let's go ride the snowflake train and make a lot of good memories.
So that you can get rid of all the medicine in your drawer,
and completely fill it with good memories instead.
Are you ready? I'm ready!

Ah, and i have something to confess.
Uh...me not being able to confess to you all that time 
was because i was being conscious of my duty as a doctor and professional.
Don't be surprised by this either!

Cha Do Hyun: I won't...
Oh Ri Jin:
Don't!
I like you.
I...
really...
like you a lot, Cha Do Hyun.





My one and only person
My treasure-like person who is like a dream
My first person who blossoms like a flower
Just looking at you makes me tear


Cigarettes. Smoke. Wine. Beer. 
I'm not saying those are bad medicine for your life. 
You're always lying to me. 
I know...
You did say that you want to stop.
But, you never say that you want to overcome it with me. 
You never say that you want to erase the bad memories with good memories with me.
So what is my point? 
Whatever it is, i have something to confess...
Uh...me not being able to confess to you all that time 
was because i was being happy in my comfort zone, seeing your smile from a far.
Don't be surprised by this either!


I'm attracted.




I only have you
I’ll be okay if only I have you
My first person, the only one in my life
Just looking at you makes me tear





kill me heal me, 17.


Saturday, March 7, 2015

81 ㅡ ♕ Pipimu merah sekali.

"Jangan lupa datang nanti malam, Youngyi-ah" Bongsoo menepuk pundak Youngyi sambil bercanda. "Usahakan oke?" 
"Baiklah, akan aku usahakan."

Youngyi POV
Aku takut untuk pergi pada awalnya. Aku sangat takut ketika kau mulai berbohong bahwa kau tak datang ke tempat itu. Kau bilang bahwa kau akan datang ketika ada waktu. Ya, baiklah aku mengerti. Aku hanya dapat mengatakan hal itu. Namun dalam hati kau harus tau bahwa aku sangat mengharapkan untuk bertemu denganmu disana. Bercakap-cakap denganmu. Bersenda gurau denganmu. Menunjukkan rasa peduli ku padamu. Menunjukkan rasa perhatian ku padamu. Itu semua adalah bentuk rasa sayangku padamu. 

21:15
Aku sampai bersama dengan dua sahabat karib yang menghiasi hari-hari sekolah menengahku. Dengan perasaan sedikit takut, perasaan tak enak...kami melangkah masuk ke dalam ruangan berasap penuh kata kasar. Aku segera mencari sesosok yang kukenal, pastinya dia. Mataku tertuju padanya dan tak lepas duduk tepat di sebelahnya. Teman-teman yang ada disana menyediakan sebuah tempat duduk tepat di sebelahnya. Aku sangat bahagia. Aku meneguk beberapa gelas minuman pahit penuh es batu. Berbincang-bincang dengannya yang setengah pusing. Bercanda dengannya yang sedang aneh. Menepuk tangannya yang jahil ingin mengambil sebuah kotak dengan cover yang mengerikan. 

"Tidak, jangan! Pipimu sudah cukup merah. Aku tak mau melihatmu seperti itu. Jadi hentikan!" Aku hanya bisa tersenyum semanis mungkin untuk membuatnya jatuh hati padahal sudah jelas tak akan terjadi hal seperti itu.

"Hehehe..." Seseorang itu hanya terkekeh memandangku lekat. "Oke?" Aku memantapkan kalimatku. Namun, tidak ada jawaban darinya. Ia hanya tersenyum dan tertawa sendiri, tanda ia telah terbang ke langit ke tujuh.

22:45
Aku berjalan menuju lift dengan Hyorin dan Bora. Kami berbincang-bincang mengenai sesuatu dan segera naik mobil, pulang bersama dengan Hyorin sang suara emas. Jemariku menggelitik handphone, "Tolong jaga dia. Aku khawatir."

Aku takut ia pergi.
Aku takut ia melihat yang lain.
Aku takut ia mulai melihat seseorang selalu ada di sisinya.
Aku takut ia tak membutuhkan aku karena aku tak ada untuknya.
Aku takut ia mulai melihat seseorang yang lain dan bukan aku... 


08:49
Chaerin dan Bom menghiasi layar handphone ku.
"Maafkan aku...aku tak mampu menjaganya. Perempuan itu sangat dekat dengannya. Aku sangat pusing semalam." 
"Maafkan aku...aku tak mampu menjaganya. Aku pun harus dijaga disana. Aku sangat pusing semalam. Perempuan itu sangat menempel dengannya. Tapi, aku punya sesuatu untukmu. Ia tak suka dengan perempuan itu, fake drunk he said. Aku bertanya padanya, yang mana yang tak kau suka? Ia menjawab yang ini ia tak suka, yang itu ia tak tau."

aku mengerti


Tuesday, March 3, 2015

79 ㅡ ♕ 3 Hal Berbeda, Youngyi-ah.

03-03-2015: Ahn Youngyi.

File not found. Song Joohee is no longer exist.


Seorang gadis berambut pendek di atas bahu dengan riang duduk di lantai dingin depan kelas, bergabung bersama dengan teman-temannya yang lain. "Mari teman-teman kita mulai berlatih!" Ia tersenyum, menatap semua anggota kelompoknya itu. Jangan panggil aku Song Joohee. Ia sudah mati, ia hanyalah sebuah masa lalu yang telah menghancurkan hatiku hingga aku tak benar-benar berani mengenal spesies mereka. Mereka tidak mencintai. Mereka hanya membutuhkan. Aku hanyalah perempuan bodoh yang terlalu baik. Aku kini juga tak ingin benar-benar mengenal mereka. Sakit. Ahn Youngyi lahir dari rasa sakit itu. Sejak itulah Song Joohee mati terkubur dalam-dalam. "Baiklah ssaem, Ibu Ahn Youngyi." Sahut salah satu dari mereka sambil menyikut lengan gadis yang bernama Ahn Youngyi itu seraya tertawa lebar, menunjukkan keakraban. Ya, ia adalah sahabat karib Ahn Youngyi. Ia adalah Park Bom. "Apa kau senggol-senggol?!" Youngyi segera menyikut balik legan Bom sambil kembali meledek.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

drrt...drrt...

Youngyi merasa handphone-nya bergetar, tanda ada pesan masuk. Ia pun lekas mengecek pesan tersebut. Takut ada yang penting, pikirnya.


Bongsoo: "Youngyi, kau dimana? Aku sudah selesai dan ingin menemuimu." 


Wahhhh, Park Bongsoo! Ketikan secepat kilat menggelitik badan handphone dengan merek terkenal itu.


Youngyi: "Naiklah ke lantai atas. Aku disana."


Setelah menunggu beberapa menit, Seorang lelaki yang dikenal bernama Park Bongsoo ini akhirnya datang juga. Bom juga sangat senang bertemu dengannya. Seketika saat Bongsoo menghampiri Youngyi dan Bom yang sedang berbincang-bincang, Youngyi segera menarik tangan Bongsoo dan meninggalkan Bom bersama dengan teman-teman anggota kelompok lainnya disana.

"Aku penasaran. Sangat penasaran. Cepat katakan padaku!" Youngyi memukul-mukul tangan Bongsoo sedikit sambil menghentakkan kaki, tanda tidak sabaran. "Tapi, kau harus janji padaku kalau kau tidak akan sakit hati ketika mendengarnya. Oke?" Bongsoo mengingatkan."Ya. Apapun itu. Cepatlah!" Akhirnya Bongsoo mulai bercerita tentang informasi yang didapatnya......sakit sih, sedih sih, memang sih, tapi apa boleh buat. Pikiran Ahn Youngyi mulai membuat esai tentang perasaan campur aduknya saat itu."Jangan sedih, jangan galau, jangan terbawa perasaan." Cerita dongeng di siang hari yang dilantunkan Bongsoo mulai menemui akhir. "Kau berhak mendapatkan seseorang yang baik, mencintaimu apa adanya dan rela berkorban untukmu karena bukan kau yang harusnya berkorban untuknya. Bahasa kerennya sih...you deserve better, Youngyi-ah." Bongsoo menepuk pundak Youngyi yang hanya terdiam mematung. "Jangan sia-siakan hari-harimu untuk orang yang tidak menganggapmu apa-apa dan hanya bisa menyakitimu. Aku yakin ada laki-laki yang mencintaimu diam-diam tanpa sepengetahuanmu karena kau adalah perempuan yang baik." Youngyi merasa seperti dunianya runtuh saat itu. Namun, ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Bongsoo dan ia sudah berjanji bahwa ia harus kuat ketika ia siap mendengar semua cerita itu. "Ya, Bongsoo-ya. Sampai saat ini aku tidak pernah berharap apa-apa karena aku merasa tak bisa untuk mengharapkan sesuatu. Aku tidak berani berharap karena aku tau, sampai detik ini pun aku bukan siapa-siapa. Aku tidak sakit, hatiku tidak sakit. Ya....sedikit sih. Percayalah, hati ini sudah terlatih." Bongsoo melihat kebohongan di setiap kata yang terucap Youngyi, ia tahu Youngyi memaksakan diri. Namun, Bongsoo hanya ingin yang terbaik bagi Youngyi. "Aku percaya kau akan menemukan yang terbaik, Youngyi-ah." Youngyi tersenyum, tulus. "Terimakasih Park Bongsoo, kau memang sahabatku yang terbaik. Terimakasih atas informasi yang kau kumpulkan itu. Aku tau, aku tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintaiku. Aku juga dari awal tidak memintanya untuk mencintaiku. Aku hanya ingin berada di sampingnya, mendukungnya, melihatnya tertawa dan bahagia untuknya. Aku hanya ingin ia bahagia. Itu saja." Youngyi mulai menunduk sambil sesekali mengehala napas panjang sebelum melanjutkan kalimat panjang yang masih belum selesai itu. "Sebenarnya sudah sejak lama aku merasa bahwa ia mendorongku jauh darinya. Aku sudah lama merasa ia memberikanku sinyal merah tanda berhenti. Namun, aku belum benar-benar menetapkan hatiku untuk memberhentikan pertukaran pesan yang biasa aku lakukan dengannya setiap harinya, meskipun hanya sehari 2x." Youngyi terdiam setelah itu. Bongsoo melihat Youngyi dengan kening berkerut. "Lalu?" Sahut Bongsoo, membuyarkan pikiran Youngyi seketika. "Baiklah, aku tidak akan mengirimkan pesan lagi. Aku akan berhenti." Youngyi berlagak menetapkan hati. Terlihat dari wajahnya bahwa ia ingin sekali berhenti berusaha karena ia merasa sudah sangat berusaha selama ini, namun di satu sisi ia juga tak ingin berhenti karena ia belum lelah berusaha dan sangat menyayangi Mr.X, seorang laki-laki yang selama kurang lebih 30 menit dibicarakan oleh Youngyi dan Bongsoo. Helaan napas panjang juga terdengar keluar dari sisi Park Bongsoo. Ia menepuk pundak Youngyi sebelum berlalu meninggalkan Youngyi yang masih larut dalam perasaan, pemikiran dan kenyataan yang harus ia hadapi. "Tanya hatimu tapi pakai otakmu. Perasaan, pemikiran dan kenyataan di sini adalah 3 hal yang berbeda."


Perasaan, pemikiran dan kenyataan adalah 3 hal yang berbeda. Ya. Perasaan Youngyi yang mengatakan bahwa ia menyayanginya. Itu adalah perasaan yang benar-benar nyata. Namun, pembicaraan dengan Park Bongsoo yang berlangsung selama 30 menit itu membuatnya berfikir keras. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia berhenti berusaha? Haruskah ia berhenti menyayangi? Haruskah ia terus berusaha meskipun akhirnya hanyalah kenyataan pahit yang didapat? Pikiran Youngyi berlari maraton yang tak tau dimana garis akhirnya. Yang pasti, ada 2 jalan yang salah satunya harus dipilih oleh pelari itu agar mampu menjalani kehidupan nyata. Kenyataan mendorong Youngyi untuk menjatuhkan dirinya ke dalam jurang yang sangat dalam. Tidak sakit, hanya luka lecet yang didapat karena ia sangat suka olahraga ekstrim.

Apa pilihan Ahn Youngyi? Terus maju atau mundur? Akankah Ahn Youngyi membuat alur ceritanya sendiri dengan terus berusaha? atau akankah Ahn Youngyi berhenti berusaha dan menyayanginya seorang diri...?


Thursday, January 1, 2015

42 ㅡ ♕ xoxo

HAPPY NEW YEARRRRRR!!! BOOOOOOM xx yup 2:05 here and i'm still writing this. Sleepy yes. I spent my December 31st with my best, Bom. It was unexpected that she could come to my house and spent some time here before spending another time later with our friends on 12AM for celebrating new year. My parents indeed liked her as my friend lol be happy cause that means you're accepted as my bae.

Celebrating new year with friends tonight gave me a new and fresh feelings. I felt happy seriously happy. Idk it's just i love how people gather around together, laughing together and be happy together. I feel loved. PS; this is the first time i spend my new year with my friends hm i hope this isn't the last time and can continue for years later. Amen. Hehehe. 

Sometimes i feel envy cause people who hurts me get to be more happy now. They hurt people but they say for themselves that they're hurt as well. Well.....they're the one who be happy first than me. Sometimes just sometimes it scares me how people can get what they want once they hurt me. I mean it's like a nice thing to leave me behind and then be happy. That's crazy how life offers you so many things to let you down and hate other people. But here i am, never hate them for doing that. Let them be happy now and i'm sincere always, i never lie. It doesn't matter who's the one who feel the happiness first but the one who smiles till the end that matters. I wish it's me and it should be me!!! cause i know i deserved to be happy.....right? Gulps. Yeah! I am:)

Joohee sheepishly approached him who was standing alone by the river when she arrived. "Hi." Well and then she got his answer. She smiled like a kid hm hopefully without anyone knowing. She didn't talk much with him in that event of them but she was happy cause she got to meet him. Maybe he even never imagined how he could make someone's heart goin crazy but he did. "pssst...don't tell anyone about this." She told her heart and then laughed all alone. She drunk a little cause she was too happy. She couldn't get to drink more, no more beer there. Sighs. "Happy blah blah!" She lifted her hand up high to have a high 5 with him lol in the end they always played around. He pretended to comb his hair like a cool guy and she pretended to rub her eyes. But....they finally did the high 5 after a long time. "Happy blah blah too!" Super. Super happy indeed. She felt like it was the best nuyir event she had ever been in her life. It maybe didn't mean a thing for him....but for her it was everything. She couldn't imagine anything else. She could just stand up and tell him that she liked him. Likeyew.



Goodnight! xoxo

Saturday, October 18, 2014

23 ㅡ ♕ Moving Out

Hello! Today sucks. My mood changed like crazy. Even though we didn't really study today cause we had like education fair at school. Yup......there's this thing that i cannot forget. I keep thinking about it over and over again. No regret. No feelings of guilt. No hate. Indeed. But i don't know. There's like a missing piece in my puzzle.

Joohee walked through the hall with Chaerin and Bom, chit chatting about people. They entered the hall and started to look around. There, "야, 나 먼저 간다. 켄이가 왔어" she smiled brightly at us. "어 가~" we smiled back at her, thinking that she was so happy to be with him. "주희야......나도 먼저 간다." Joohee was a bit shocked that she would be left all alone there in a big hall. "다들 왔어서 그래. 날 따라와 그럼." She asked at Joohee. Immediately Joohee shook her head, "아니야, 난 괜찮아." Joohee left. She walked all alone, thinking what's the problem of being alone. Everything was fine. Then, Joohee found Taeyeon and Sangjin, "야!!!!" She rushed to approach them.

Maybe he doesn't know about this because she has her lips locked with password even some people ever tried to unlock it. She doesn't know how to express her feelings, that's her problem. February's diary still locked in her little box named heart. It was summer. It was so hot yet soooooo warm. It was amazing how she could be loved. It was new yet so crazy. She was the ugly duckling who was left behind by all her friends and all she knew was only studying till she die. She was a nerdy and only had one friend. She even never talked to him. Almost never. She was so glad. She was so happy. Everyone loves to be loved, so do her. At the moment she got a message from him, she jumped like a kid. It was spring. The spring season which was so warm hugging her tight. She felt fine with him. But both of them were so quiet to each other. It was autumn when they got the break problem. She wanted to make it right. She wanted both of them to be more mature at first. She wanted to make them better but maybe because of her problem...he accepted it as a demand about him to change. Her problem...her "cannot express her feelings" was a serious problem in that season. Clock ticked, time fly, day by day running like crazy...they already met another February moment. One year close. Both of them felt the click. One week before her best day, she got surprised by him. "난 널 좋아해" he said, he wrote everything on a book about what he felt for all the time. "우리 연애하자!" She smiled, nodding and "응." That was so awkward. It was the best day out of the best best day. She got him, he got her. 행복해. They even had their first hug there at the beach. But things never worked well for them, they kept being childish and at the end....they broke everything. The broken smile people. It was so snowy that time. That was the coldest winter ever for her. She didn't know if she was okay or not. But she just could show everyone her okay side because she seriously had so many things to think about....that time.

And guess what, that winter is never end till now. They meet their end. This is an end for them. For them. End. That winter. This winter. Forever winter.

They run on the different race. They turn at the different direction. They walk on the different path. They have different way to talk to each other. Silence, that's it. They're slowly but sure moving out from each other's heart. They talk in the silence. One here, one there. One away, one here. One there, one away. One sad, both of them sad. Or not :-) One day, one wanted to rebuild the broken smile with a smile. It healed. But one day, someone smiled more beautiful than her then the broken smile back. It deleted the feelings of how it healed before. It went away. It disappeared. Well. It was okay. She way okay with it. As long as she had tried to be good. She felt relieved. No problem. Take everything you want from me. Treat me whatever you want. Make me feel alone like no one is gonna be by my side. Make it happen. Hate me...Tell people all you want. Like you used to be. Good bye. :-(:-)

"나 먼저 간다, 안녕...."