Showing posts with label 04:31. Show all posts
Showing posts with label 04:31. Show all posts

Monday, April 13, 2020

339 ㅡ ♕ Aku tak berduri seperti mawar, tetapi mengapa rasanya hambar?

Terkadang, aku merasa bagaikan sekuntum mawar yang hanya bisa memberikan keindahan, tetapi tak seorang pun berniat memiliki.
Aku tak berduri seperti mawar, tetapi mengapa rasanya hambar ketika tak seorang pun berani menyambar?

Dihempas sekali, bukan masalah, cukup hanya menangis lirih.
Dua kali merasa terbuang, rasanya tak sanggup lagi mengulang.
Tak perlu menunggu hingga ketiga kali datang, sebab sudah berniat menghilang.

Bukan apa, aku pantas bahagia.
Aku juga pantas bahagia, bukan?

Tidak mendapatkan kasih yang sesuai porsi, terkadang memang membuat hati perih, tetapi aku katakan sekali lagi ... aku juga pantas dicintai.

Bukankah semua orang pantas dicintai?
Aku termasuk, ‘kan?

Berulang kali aku berusaha menghipnotis diri, mengatakan kepada hati, bahwa aku ingin berhenti dan mencoba mencintai siapa pun yang berminat tinggal dalam sanubari.
Namun, berulang kali pula rasanya hampa; mereka sama, hanya ingin singgah dan mencoba.

Apakah aku yang termakan perasaan sendiri yang ingin merasakan bagaimana dicintai?
Apakah aku yang tak berani melihat kenyataan bahwa sesungguhnya mereka tak ingin bergandengan tangan denganku?
Apakah aku yang selama ini bermimpi; seorang diri?

Mungkinyang pertamaberniat tinggal, tetapi kamu tahu, tak ada yang kekal, aku kehilangan akal hingga merasa dia berusaha mengenal.
Nyatanya, dia hanya mengulur waktu dan mencariku hanya ketika butuh.
Tak ingin berjalan, pun tak hendak berlari.

Jadi, maunya apa?

Di sini, aku yang bingung menempatkan diri; harus berdiri di sampingmu, atau berlari mengejarmu?
Di sana, kamu bahkan tidak peduli, hanya bermain sesuka hati.
Jika kukatakan hati ini terluka, akankah kamu berubah?

Permainanmu itu hanya membuat hati beku, sehingga lebih baik kamu biarkah berlalu.
Kamu tahu, sejak bertemu denganmu, aku mulai mengenal rindu.
Sejak kamu hadir dalam hidupku, pintu yang dulu sempat tertutup rapat, terbuka lagi dengan sendirinya.

Canda dan tawa menemani hari-hariku yang abu-abu, sebab aku tahu, kamu ada untukku berbagi rindu.
Titik air mata sedikit demi sedikit berkurang, membiarkan hati membuat ruang untukmu bertandang.
Terkadang, aku bahkan memimpikanmu dalam diam.

Hanya ini pertanyaanku;
Jika semua rindu yang kamu katakan palsu, untuk apa kamu berpura-pura ingin bertemu?
Jika semua cinta yang kamu jadikan kata hanya sebatas fana, untuk apa kamu katakan semudah kamu membalikkan telapak tangan?

Aku bukan mainan yang bisa kamu permainkan tanpa menjaga perasaan.
Aku bukan tempat berkeluh kesah yang kamu cari saat kamu ingin berlari tanpa berniat menjaga hati.
Adalah aku, mungkin, hanya aku, yang selama ini menganggapmu nomor satu.

Menarik dan mengulurkamu buat aku luluh, lalu tinggal aku sendiri berperang melawan ego yang aku miliki.
Aku sudah tidak ingin lagi, bisakah kamu berhenti?

Ini bukan cinta, melainkan derita.
Aku sudah lelah, ingin marah saja.

Aku tidak bisa memaksa untukmu menemukanku di tengah keramaian.
Aku tidak berani memintamu datang menemuiku di saat kamu benar ingin bertemu, bukan ada maksud tertentu.
Aku hanya ingin kamu tahu; aku bukan tempat persinggahan.

Bunda pernah memberi nasihat.
Kata beliau, jangan percaya kata-kata anak adam.
Bukan pendendam, hanya jangan membendung rasa yang mungkin akan dipendam.
Manis di bibir, harus tahu bagaimana cara air mengalir.
Jangan terbuai.

Oleh karena itu, aku menutup pintu, tak membiarkan siapa pun membuat luluh, sebab sejauh ini, mereka hanya berlalu.
Bukan karena aku enggan, hanya saja pengalaman mengajarkan diri harus mencari aman.
Pernah terluka, takut kembali luka.

Sudah lama aku tak menjalin cerita, mengatasnamakan romansa sebagai judul kisah.
Di saat aku ingin mulai membenahi diri dan keluar dari sini, aku dipertemukan dengannya, yang hanya ingin berjumpa tanpa ada rasa di setiap kata.
Sudah, aku lelah.

Untuk kamu, yang aku sebutkan di sini sebagai Yang Pertama;
Bagaimana jika kita sudahi saja karena aku sudah cukup lelah mempertanyakan perasaan yang kamu berikan secara terpaksa?
Jangan memaksa, aku hanya ingin kamu merasakan hal yang sama.

Jangan buat aku berhenti percaya cinta.
Jangan pegang aku hanya karena kamu ingin dikelilingi kaum hawa.
Jangan katakan sayang saat kamu hanya ingin terbang melayang bersama dayang-dayang.

Aku hanya gadis biasa; seseorang yang sangat perasa.

Aku lebih daripada itu.

Aku pantas untuk diperjuangkan seutuhnya.
Aku tidak akan berdiri di sampingmu lagi, untuk kesekian kalinya aku katakan.
Aku pun tak akan berlari mengejarmu lagi, untuk hari ini, terakhir kali aku katakan.

Berakhir sudah, kisah antara aku dan diayang tak pernah nyata, sebab hanya aku yang meminta dia ada untuk menjadi rumah.
Niatku akan menutup hati setelah mempersilakan dia pergi, tetapi lagi-lagi ada yang mendekati meski belum ingin memiliki.

Sekali lagi, kucoba membuka hati, melihat masa depan walaupun samar.
Namun, entah apa yang membuat hati belum siap menanti, pun tak terlalu ada rasa seperti sebelumnya.

Aku sudah membuka, tetapi belum ada.

Thursday, November 29, 2018

305 ㅡ ♕ Nothing heals the past like time, and they can't steal the love you're born to find.

To: Han Jinhee

I look up from the ground to see your sad and teary eyes. You look away from me, and I see there's something you're trying to hide. And I reach for your hand, but it's cold. You pull away again, and I wonder what's on your mind. And then you say to me you made a dumb mistake. You start to tremble, and your voice begins to break. You say the cigarettes on the counter weren't your friends. They were my mates, and I feel the color draining from my face. And my friend said, "I know you love her, but it's over, mate. It doesn't matter, put the phone away. It's never easy to walk away, let her go. It'll be alright."

So I still look back at all the messages you'd sent. And I know it wasn't right, but it was fucking with my head. And everything deleted like the past, it was gone. And when I touched your face, I could tell you're moving on. But it's not the fact that you kissed him yesterday. It's the feeling of betrayal, that I just can't seem to shake. And everything I know tells me that I should walk away. But I just want to stay. And my friend said, "I know you love her, but it's over, mate. It doesn't matter, put the phone away. It's never easy to walk away, let her go. It'll be okay. It's gonna hurt for a bit of time. So bottoms up, let's forget tonight. You'll find another and you'll be just fine. Let her go."

But nothing heals the past like time. And they can't steal the love you're born to find. It'll be alright.

From: me

Tuesday, November 13, 2018

304 ㅡ ♕ I'm a shining solo.

To: me 

Innocent and delicate. I'm tired of pretending. I'm done.

What are you up to? Where are you? Did you eat? Good night.

Baby, darling, honey, I miss you. It's all useless.

You got me like. This is not a touching love story. No romance, no sincerity. I'm sorry, but I'm not sorry. From today on I'm a shining solo. 

Used to be your girl. Now I'm used to being the GOAT. You're sitting on your feelings. I'm sitting on my throne. I ain't got no time for the troubles in your eyes. This time I'm only looking at me, myself, and I. I'm going solo. I'ma do it on my own now. Now that you're alone, got you looking for a clone now. So low. That's how I'm getting down. Destined for this and the crown. Sing it loud like, this is not a touching love story. No romance, no sincerity. I'm sorry, but I'm not sorry. From today on I'm a shining solo. 

I'm a shining solo. I'm going solo.

After the relationship, romance, emotion, there's breakup, tears, regret, longing. I like being alone, because I should be true to myself. Like the flowing wind. Like the stars above the clouds. I want to go far away, I want to shine brightly. 

Now I'm going solo. I'm a shining solo. I'm going solo. 

From: Han Jinhee

Monday, November 12, 2018

303 ㅡ ♕ You were brave yesterday, you are brave today, and you’ll be braver tomorrow.

To: Han Jinhee in 2019

Hi, hello, 안녕.

This is gonna be a quick reminder for you. Even if there’s no one standing beside you right now, remember that I will always be there for you. You’ll be okay. You’ll do well. You’ll get to do what you love. You’ll be the best version of yourself, and no one could ever bring you down. If today you don’t feel like talking to anyone, then don’t force yourself. You don’t live to please others. I’ll remind you once again that you are perfect just the way you are. You are loved, and you deserve the whole world. If there are people who make you feel uncomfortable with yourself, leave them, darling. Why? Because you have to love yourself more. You are more than you think you are. You are stronger than you think you are. You’ll survive this world. 

No one could ever drag you down because you are now walking your own path. You’re now enjoying your life to the fullest. You can stand strong alone. You were brave yesterday, you are brave today, and you’ll be braver tomorrow. You don’t need anyone to stand beside you because even if you are alone, you can do everything you like and you can be happy. Being happy is a state of mind. You are happy. You have found your happiness. It’s within you. You have loved yourself even more now and that’s what makes you stronger than ever. You won’t be crying because of small things anymore. You’ll be fine with people come and go from your life. That’s a part of learning. That’s life.

This is gonna be the most important thing that I want you to remember. Please be with someone who loves you just the way you are. Be with someone who makes you happy for no reason. Be with someone who makes you feel loved. Don’t be with someone who only makes you lose your confidence. Don’t be with someone who values you only because of your looks, your stuffs, and your outfits, but be with someone who sincerely making an effort to get to know you better. Yes, effort, not just by words, but real efforts, not excuses. Be with someone who makes you feel special, not with someone who loves making others feel the same as you. Be with someone who sincerely wants to build dreams with you, not with someone who only placing you as an option. I know you. I know what kind of person you are. When you want to be with someone, you’ll go with that person no matter what happens, but it’s extremely hard to make you fall for someone since you actually don’t really believe in what they called love. Well, especially when a man already stepped on a boundary you have built, like making you lose your confidence by saying words you don’t like to hear, making you hate yourself, or just simply doing things you don’t like by being impolite, and I know when you don’t like it, you’ll leave everything behind, even if you have thought for a brief moment that you might end up with this person. No one knows what’s ahead, no one knows the future, but I’m sure you’ll end up with someone who makes you happy, not with someone who only makes you feel insecure. It’s not easy to make you fall head over heels because you’ve come to a realization that you love yourself more, so you want the person you’re dating to love you sincerely for who you are, not for what you are. You have the power. You are strong. That’s what I like about you. You are a strong character.

So, don’t mind others. This is your world. This is your life. You can be whatever you want. Live this life by being who you are. God creates you with lots of talent and you are perfect for Him, so don’t let others bring you down. You don’t need people to value your existence, but you have to love yourself even more because no one is ugly, and no one’s life is bad. You just have to change your perspective of seeing things in life. If today you see yourself as a bad luck person, then go to your room, lock the door, and talk to God. You’ll find peace and you’ll be okay.

Trust me. Believe in yourself. In 2019, you are going to achieve something and when you re-read this letter, you’ll smile, because you’ve done something really great. I’m writing this when I’m just settled down everything. I’ve prepared plans for you in 2019 and I hope you like it. I hope you’ll enjoy life by doing all my plans. You don’t need anyone to make you happy, darling, because you have the power to be happy. You are such a nice person, and I know you’ll get everything nice in the future. Just so you know, I’m leaving all the toxic things, toxic people, toxic state of minds behind to come this far. You’ll be very happy in 2019, and don’t forget to thank me later.

From: me in 2018

Friday, November 2, 2018

302 ㅡ ♕ It’s enough to chase and be chased.

To: Han Jinhee

I’ve analyzed lots of stuff. All the things he did to you, all the words he said to you were completely something you avoid. The words he said sometimes become a little hurtful and what he did sometimes makes you feel uneasy. At first, you thought that would be interesting to try going out with a person like that, but deep in your heart, the score is zero. Am I right? At first, you thought he might be the one, but now you know he’s just a passerby. Well, things got complicated at some point, and there was the time when you seriously thought about everything. You thought you liked him when you actually not. You thought you have found your happiness when you actually not. You thought he might be the one for you, but he’s actually not. You two are most likely strangers to each other, I guess, so I think you don’t really have to explain everything in words since I know you don’t like going straight to something unclear. You also don’t like being the one who thought both of you had something when you two actually not, so I’m gonna let you leave him be.

You’ve learned more things about life. You are now loving yourself even more. You are more confident, and you’re more beautiful since you’re happier. It’s really a nice decision to stop everything and going back to where you used to be. Being alone is not a crime. You are stronger alone, so why bother wanting someone to stand beside you? It’s a nuisance. You are surrounded by lots of great people like your family, your friends, and all the people who taught you how to survive in this cruel world. So, all you need is yourself going really strong because you have the power to live proudly.

You know what, I think it’s a nice decision to forget everything and start doing things that make you happier. Even if it means you’re going back to your routine, but it’s better than keeping toxic people in your life and doing toxic thing that isn’t your style. It’s a perfect decision to start over. You’ll be okay. You’ve done well. You’re doing great. I’m proud of you.

It’s enough to chase and be chased. I know you’re tired of everything. Because of that, I want you to shut people out, and start thinking about your own future for now because I want you to be happier first. I want you to be that one person who resonates happiness to others. Well, if they think that you might reconsider everything, then they need to give up since I know you will never going back and you’ll never turn your head when you’ve decided to move forward. So, keep this in your mind that you can do it! You can be whatever you want. Build your dreams and make them all happen. Don’t forget to do everything with love because God loves you so much, so you have to love yourself even more.

From: me

Tuesday, October 2, 2018

301 ㅡ ♕ It’s my decision to decide.

To: Han Jinhee

Being in love isn’t like this. Wake up, and start analyzing some things. It’s about give and give, not give and take. If it’s about taking for granted, then it is not right to keep moving forward. You will have to stop everything and close the book. Stop writing another chapter that isn’t going anywhere, but only breaking your heart. You deserve to be a decision, not an option. You deserve to be loved.

It’s no use to going back doing all the sweet things since I know you’ve done thinking and you’ll start working on what’s written in your plans for 2019 soon. It’s too late. It’s now my decision to decide.

From: me

Monday, October 1, 2018

300 ㅡ ♕ Carilah dia yang mampu membangkitkan versi terbaik dari dirimu yang selama ini terlelap.

Teruntuk, diriku; yang seringkali merindu.
Ini pesanku untukmu, diriku.

Kamu harus tahu bahwa dirimu pantas dicintai.
Kamu lebih dari apa yang kamu bayangkan.
Kamu harus bahagia walau dengan air mata.

Kamu kuat.
Kamu yang terbaik.

Kamu pernah membayangkan indahnya dicintai sepenuh hati oleh seseorang, bukan? Ah, bukannya pernah lagi, melainkan aku tahu, kamu terlampau sering membayangkan hal itu hingga ketika tangan tak sampai, maka kamu terjatuh begitu dalam. Oleh karena itu, di sini aku akan menyadarkanmu bahwa nyatanya hidup tak akan sesuai dengan harapanmu, sebab Tuhan tidak akan memberikan segalanya yang kamu inginkan, tetapi Tuhan akan memberikan segalanya yang kamu butuhkan. Kamu harus tahu itu, aku.

Lantas, untuk apa kamu mendambakan kehadiran sosok yang hanya akan menjadi pelengkap hidupmu saja di saat kamu bisa hebat dan kuat tanpa siapa pun di sampingmu? Carilah dia yang mampu membangkitkan versi terbaik dari dirimu yang selama ini terlelap.

Percayalah padaku, kamu bisa bahagia.

Girl, perfectly her, broken and hurt. Soft and asleep in the morning gray. Shake off the night and don't hide your face. The sun lights the world with a single flame. I want you to see this. Today and all of your days, I'll wear your pain, heal what I can in your troubled mind. Sometimes our bodies will hurt for some time, and the beauty in that can be hard to find. I want you to find it. So run, wake up and run, my little one. I wanna tear down these walls that can't hold you inside, rip out the cords and uncover your eyes. We'll make our escape in the dark of night. I need you to see this. Girl, you'll see the world, and you'll come to learn that falling in love is a strange work of art. All of your battles will shape who you are, and know that your scars are my favorite part. I want you to know this.

Good bye, to you.
From someone, me.

Saturday, September 29, 2018

299 ㅡ ♕ 나는 사랑받는 자격이 있어.

나 이제 그만할래. 혼자 그 마음 가지고 있어서 너무 힘들어다니까 그래서 나 이제 아무것도 안해도 돼지?

뭐 어때서? 나 혼자도 괜찮아. 원래 혼자였어. 익숙해졌어. 너 없이도 살수있어. 잘난 척 하지마. 잘난 척 좀 그만하라고. 너 별로야, 진짜 별로. 나도 널 이제 원하는 마음이 없어. 그래서 그만해 우리. 너 계속 이러면 난 너무 힘들어. 그만해 이제...

근데 이유는 뭘까? 아무리 생각해봐도 다 이해 할수 없어. 나 확실히 알았는데 나 꼭꼭 숨어서 누구도 문 열어 줄순 없어 근데 넌 들어가고 싶다고 말했어. 흔들렸어 그땐... 그래서 그 문 나도 모르게 너 한테만 열었어. 내가 시작부터 믿었었는데 너 들어가고 싶다는거 진심이야. 근데... 뭐지? 아니였나봐... 정말 지친다. 이제 너에게 못가. 나는 너 한테 그냥 좋은 친구만 생각해. 이렇게 널 위해 잠은 시간와 눈물도 너에게 줬어 지금까지 결국 너 한테는 그 모두 다 아무것도 아니지? 내 마음도 너에게 줬다는거 별로지? 그래서 네가 나빠. 더 더 나빠.

부족해서 미안해. 난 그냥 행복해지고 싶다는 여잔데 널 진심으로 좋아했었어. 날 사랑하는 사람이 없어. 아무도 없어. 항상 혼자라서 다시 시작할 생각이 없어 근데 네가 내 옆에 있잖아... 위러워하지도 않아. 그 외로움을 잊고 있어서 행복해졌어. 너 때문에 제일 예쁘게 미소를 나왔어. 아... 예뻐? 난 너 한테 그냥 친구였어 시작부터 그지? 내 말이 맞지? 그래서 네 눈에는 난 예뻐지도 않아.

날 안아 주지마. 날 잘해 주지마. 다 거짓말이야. 그만해... 제발. 처음부터 내 탓이였어. 나는 왜 널 위해서 문을 열었을까? 네가 원하는거 그냥 친구 사이잖아 근데 난 바보같이 너만 계속 바라보고 있어.

그래서... 이제 그만하라고. 그만해. 끝이야. 난 이제 더이상 상처를 살고 싶지 않아. 나는 사랑받는 자격이 있어. 이제 나는 남자들을 쉽게 믿어지지가 않아... 더 알아내야지 믿으면. 남자는... 내가 신뢰할수 없는 유일한 사람이야.

나는 너 한테 못가. 내가 못가니까... 네가 와주면 안돼? 네가 생각하는 그런 애가 아니야. 근데 널 좋아해서 미안해. 그동안 너무 감사했어. 누군가를 다시 진심으로 사랑 할수 있을까? 아... 다시는... 안해. 지친다. 함들어. 무서워.







Tuesday, September 4, 2018

297 ㅡ ♕ Aku tak akan menjadikanmu pemilih, tetapi diriku yang akan memilih.

Di saat aku tak mengharapkan kehadiranmu,
kamu datang dengan wajah sendu,
seakan mengungkapkan rindu; 
mengisyaratkan tak ingin melepasku.

Apa-apaan kamu ini, 
berulang kali jadikan aku Yang Tersisih; 
tak pernah malu,
membuat aku ragu.


Biasanya, aku yang bertanya kepada diriku sendiri;
Apakah aku, yang harus selalu memperjuangkan dirinya?
Apakah aku, yang harus selalu menjadikannya nomor satu?
Apakah aku, yang harus selalu menghujaninya dengan kasih sayang?

Apakah aku, yang harus selalu memberikannya perhatian?
Apakah aku, yang harus selalu mewujudkan impiannya?
Apakah aku, yang harus selalu memanjakannya dengan cinta?
Apakah aku, yang harus selalu merindu dan jatuh sakit?

Apakah aku, yang harus selalu... 
... dan segala pertanyaan lainnya masih kusimpan dalam hati.


Kita sudahi sampai di sini karena sebentar lagi, tangis tak akan mampu berhenti.
Kita akhiri sampai di sini sebab aku tak ingin dia lagi.

Aku bertahan dengan senyuman.

Kubiarkan dia bepergian, tanpa tahu arah pulang.
Kubiarkan dia terjaga, tanpa tahu aku menunggunya pulang.
Kubiarkan dia berkelana, tanpa tahu aku menahan kerinduan.
Kubiarkan dia terluka, tanpa tahu aku sudah jatuh dan patah.

Kubiarkan dia pergi, tanpa tahu hatiku tersakiti.


Di saat aku sudah berhenti; menutup hati, berjuang pergi, berjanji tak akan kembali, kamu datang tanpa permisi, membuat hatiku lagi-lagi perih; pertanda aku masih di sini, setia menanti. 
Jangan tertawa, aku tak sedang bercanda.

Bagaimana, jika kita ubah sudut pandang kamu menjadi aku?
Bagaimana, jika kamu berada di posisi aku?
Bagaimana, jika kamu menjadi aku, yang senantiasa menjaga rindu, menantikan kehadiranmu, tanpa tahu, di mana kamu?
Bagaimana?

Di saat kamu membutuhkan aku, maka cari aku, tetapi kamu harus tahu, aku mungkin saja tak sedang menantikan kehadiranmu.
Di saat kamu menginginkanku, maka kejar aku, tetapi kamu harus tahu, aku bisa saja sudah tak lagi menginginkanmu.

Jangan mengira, aku akan selamanya setia, menunggumu berubah rasa di setiap langkah.
Jangan menduga, aku akan selalu ada, setiap kamu membutuhkan aku ada di sisimu selamanya.
Jangan membual karena aku tak lagi kenal, dirimu dalam khayal.


Saat menjadi aku, jangan lupakan kebiasaanku menanyakan kabarmu, meski kamu menjawab hanya di saat kamu membutuhkan aku.
Saat menjadi aku, jangan lupakan kebiasaanku menjadi pendengar, meski kamu tak sadar, aku memperlihatkan tatapan nanar, memerhatikanmu yang liar.

Ingatlah, satu hal, aku tak akan mencarimu dan berdiri di sampingmu lagi sebab aku tahu, kamu hanya berlari menemuiku saat kamu kesepian, mereka tak ada untukmu.
Ingatlah lagi, aku tak akan menjadikanmu pemilih, tetapi diriku yang akan memilih.

Monday, September 3, 2018

296 ㅡ ♕ Aku, untuk kesekian kalinya, tidak akan lagi mencoba berharap.


Aku bingung,
seharian termenung.

Katakan padaku yang sesungguhnya,
bisakah kamu duduk dan mulai bicara?

Sebenarnya, kamu ingin berpulang atau hanya mengulang?
Aku bukan jalan pintas; pun bukan sosok yang bisa membawamu terbang,
tetapi aku bisa menjadi seorang gadis yang mencintaimu tanpa batas.


Kali ini, aku kembali mengingatkan hatiku bahwa aku tidak akan mencoba berharap. Aku akan membiarkan semua berjalan sesuai dengan waktunya. Tak akan ada yang memaksa untuk bersama. Tak akan ada yang mempercepat yang seharusnya. Tak akan ada yang berusaha menuju akhir, dan hanya akan membiarkan waktu bergulir; apa adanya. Aku, untuk kesekian kalinya, tidak akan lagi mencoba berharap.

Sunday, September 2, 2018

295 ㅡ ♕ Kubiarkan kamu hanya angan, yang kini menjadi kenangan.


Memandangmu dari kejauhan, 
aku memang menjadikanmu harapan, 
tetapi detik ini kukatakan;
aku akan menyimpan, 
membuang seluruh kenangan, 
dan melepasmu dari jangkauan.



Aku tergoda, karena kamu ada di saat aku merasa hidupku hanyalah kesialan semata.
Aku terjatuhkarena kamu menemaniku menyusun kembali hati yang sempat patah hingga utuh.
Aku terbuaikarena kamu memberiku seringaian yang menggugah hati.

Aku merasa, menjadikanmu asa, tetapi kusadari kamu terpaksa.
Aku suka, anganku kamu tak memberi luka, tetapi kamu hanya menganggapku sebagai salah satu rentetan angka.
Aku di sini, menantimu kembali, meskipun sejak awal kamu tak pernah di sini.



Kamu tidak pernah satu kali pun mencariku di tengah keramaian.
Kamu tidak pernah satu kali pun berbalik dan memelukku dalam diam.
Kamu tidak pernah satu kali pun menyuarakan kata suka, yang teramat kunantikan sebagai bentuk kejujuran.

Kamu tidak pernah suka, tetapi mengapa kamu buat aku terlena.
Kamu tidak pernah cinta, tetapi mengapa kamu perlakukan aku bak punya rasa.
Kamu tidak pernah menoleh, tetapi mengapa kamu buat aku meleleh.
Kamu tidak pernah, hanya aku.

Kesalahanku, meyayangimu sepenuh hatiku, tanpa tahu, kamu mungkin saja membawa luka yang tak mampu kusembuhkan lagi.
Ketidakberuntunganku, memilihmu di tengah keramaian kotaku, membuat hatiku risau, padahal sudah pasti sekarang kamu sedang tertidur pulas.

Kubiarkan kamu hanya angan, yang kini menjadi kenangan.
Akan aku tenggelamkan di dasar samudera terdalam, dalam diam, dan berjanji tak akan kembali menyelam.
Inginku melupakanmu, mengganti presensimu dengan yang baru, meski sulit bagiku.

Aku menjadikanmu yang pertama, tetapi kamu tidak melakukan hal yang sama.
Jika suatu hari kamu menoleh ke belakang dan mendapati aku tak lagi berdiri di sana, jangan kamu berusaha mengajakku kembali, sebab aku tak akan memilihmu untuk yang kedua kali.

Sunday, August 26, 2018

288 ㅡ ♕ Lantas, untuk apa aku tetap mengukir kisah dengan mampir yang berulang kali kujadikan hampir?

MAMPIR ☓ HAMPIR: TERAKHIR
Aku, menyatakan kehilangan, kepergian, dan berpulangnya hati ke tempat semula
Ditulis oleh Vanny | 606 kata

Terakhir kalinya,
aku mengulum senyum,
menebar harum,
berharap kau maklum,
karena,
melalui bibir ranum,
aku berkata,
tak akan lagi tersenyum.





Aku rindu dia;
yang selalu membuatku penuh tanya,
yang bahagia tanpa aku di sisinya,
yang tak menjadikanku kesayangannya.

Bintang di langit;
sampaikan salamku padanya,
bisakah kau menjaganya,
karena aku akan berhenti untuk selamanya.


Di sebuah kedai, dengan secangkir kopi, sang puan ditemani sunyi. Puluhan persona berjalan ke sana kemari demi mencari sebuah tempat yang nyaman ditinggali. Berbeda dari mereka, aku menatap keluar jendela, menghela napas berat, mengusap kembali hati yang teramat rapat, memanggilmu dengan bahasa isyarat, berharap kau mampu merasakan kerinduanku yang tersirat. 






Aku berdiri;
di tengah keramaian,
tak berusaha mencari aman,
hanya ingin menemukan kedamaian.

Aku berada;
di lingkungan yang riskan,
merasa tersingkirkan,
karena tidak dipedulikan.


Melalui mata, aku mencoba mengeluarkan suara, walau paham betul, tak mungkin sampai ke sana. Melalui tarikan napas, aku menghempas keraguan, menyuarakan keputusan, tak akan lagi dilingkupi tangisan. Melalui hati yang mulai tertutup, aku menutup segala kemungkinan, tak berusaha menginginkan, pun tak akan menyulitkan. Semua sudah kujadikan putusan, walau masih berniat melepas tanya, tentang kau dan hiruk pikuk kota, di manakah engkau gerangan, di saat aku cemas kau berada di titik mengkhawatirkan? Tak usah bertanya, siapakah aku ini, yang hanya berdiri di sini, mana mampu menemani, dirimu yang bahkan tak ingin ditemani? Aku, menyatakan kehilangan, kepergian, dan berpulangnya hati ke tempat semula. Aku sudah memulai, tetapi tak sesuai. Bukan membuai, malah terbuai. Alhasil, aku tak akan berpegang lagi padamu yang entah berniat menjaga, atau hanya mencoba. 


Tetapi;
ini menyenangkan,
juga menyedihkan,
biar jadi pengalaman.

Maka;
tak lagi memanggil sayang,
hanya ingin mencipta kenang,
berusaha mengubah masa tayang.


Aku teringat. Kala itu, kau datang, hanya bertandang, berniat menyambang, merasa tak butuh tambang, tak ada maksud memiliki lambang telah berhasil datang. Aku bernyanyi dengan suara sumbang, yang kuyakini bisa membuatmu terbang, tetapi malah menyisakan lubang, di hati terdalam, hanya karena sebuah salam. Aku yang terlalu suka hingga lupa, kau bisa saja membawa luka, pada akhirnya. Maka dari itu, aku tak akan lagi merasa butuh dan mengeluh, bila kau tak luluh, karena aku yang melulu merasa perlu untuk mengabarkanmu. Tentangku yang tak pernah terbesit dalam pikiranmu, tentangku yang tak juga hadir dalam mimpimu, tentangku yang tak mampu membuatmu ingin mengunjungiku, biar itu kau simpan dalam kotak kenangan, karena aku tak akan lagi berpegangan, pada sebuah kepalsuan akan kasih yang mungkin kau berikan.



Aku;
ditemani sepi,
dilingkupi sunyi,
seorang diri.

Aku;
berada di keramaian,
tinggal aku sendirian,
sebab kau bepergian.


Waktu untuk melepasmu sudah mampir, karena sejak awal memang hanya hampir, tetapi kali ini, yang terakhir. Meski aku menggebu, kau menempatkanku dalam kelabu, dan tak berniat berlabuh. Lantas, untuk apa aku tetap mengukir kisah dengan mampir yang berulang kali kujadikan hampir? Tak ingin kupaksakan, memang tak bisa mengatakan, tetapi aku akan meluruskan. Aku bukan perempuan, yang bisa memanggilmu tuan, hanya karena kau berikan umpan. Aku tidak sama seperti mereka, yang bisa menerka, apakah engkau suka. Aku tahu butuh waktu, tetapi bukan berarti, mencariku hanya karena butuh. Aku tidak sempurna, tak secantik purnama, tetapi aku punya nama, yang bisa menunggumu lama, bila kau berhati sama. 


Harum kopi menguar,
memanggilku keluar,
agar pikiranku tak lagi liar,
karena mataku berpendar,
mencari dia yang tanpa sadar,
menempatkanku di luar radar.

Pahit seperti kopi,
perihnya hati,
yang tak sengaja tersakiti,
oleh dia yang hanya meneliti,
bukan ingin menempati,
dan tak minat untuk berjanji.


Hanya itu yang aku punya. Tak ingin lagi dimanja, semua hanya pura-pura, menggunakan permainan kata. Iya, bukan? Oleh karena itu, sudahi saja. Selamat tinggal, lembayung senja.

Saturday, August 25, 2018

287 ㅡ ♕ Aku akan menjadi harapan untuk masa depan.






Malam ini, aku memutuskan untuk berdiri, dan memilih untuk tak lagi tersenyum lirih. Detik ini, aku akan menyatakan kepada dunia bahwa aku berhak untuk bahagia. Meski tak mengerti apa arti kebahagiaan, tetapi aku akan mencoba memperjuangkan. Aku akan mencari, dan terus berdiri walau hati ingin berhenti. Aku bisa, karena aku mampu. Aku sanggup, karena aku berjuang. Aku tulus, karena aku tak mengeluh. Aku yakin, karena aku percaya. Semuanya akan baik-baik saja.

Berulang kali aku terjatuh, lama-lama aku menjadi rapuh. Meski begitu, rasanya aku tak akan berniat lagi untuk memberikan hatiku yang utuh kepada siapa pun, karena seluruhnya hanya milikku seorang. Aku tak akan lagi berbagi, karena semua hanya berujung perih. Maka dari itu, aku akan menutup buku, menyimpannya sebagai cerita pilu, dan tak kubiarkan diriku menerima hati siapa pun yang ingin berkunjung. Aku akan melepaskan, membiarkan semuanya yang bukan menjadi milikku pergi dari hidupku, dan mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku tak akan kembali mencintai dan dicintai. Biar aku hanya hidup untuk diriku sendiri, karena meski berdiri seorang diri, aku tak perlu mengulang perih. Hanya ingin mengurangi kepedihan, aku tak butuh pujian dan harapan. Aku hanya membutuhkan sebuah kehidupan dengan diriku sebagai pemeran utama.



Aku akan mulai menghitung mundur. Sebentar lagi, hari-hari berat yang kualami akan berakhir, menyisakan diriku dan mimpi yang akan aku buat nyata di tahun depan. Tak lagi berharap, aku tak akan berani lagi, karena kali ini, aku akan menjadi seseorang yang diharapkan. Aku akan menjadi harapan untuk masa depan. Sulit memang, terasa pahit di hati, tetapi pada kenyataannya, bahkan hingga jatuh ke parit pun, aku lagi-lagi masih sanggup berdiri.



Aku harus;
memuji diriku,
menyayangi diriku,
sebab akulah yang,
bertanggung jawab atas;
kehidupanku,
kebahagiaanku.

Friday, August 24, 2018

286 ㅡ ♕ Apakah itu arti kebahagiaan? Tentang perasaan, pengabdian, penghargaan, kebebasan, atau harapan?

SONG JINHEE ☓ SONG JAEHEE
Life hurts a lot, so please burn my sad days
Written by Vanny | 1,106 words


Tidak membandingkan, 
pun tidak ditulis demi mencari hidup siapa yang lebih menyedihkan.
Murni hanya ingin mengetahui, 
siapa yang lebih banyak berjuang, 
memperjuangkan kebahagiaan yang mereka katakan ada,
 tetapi sebenarnya di mana?



Ini adalah sebuah kisah dua saudara: Jinhee dan Jaehee.


Di dekat jendela, seorang anak perempuan duduk dengan tenang. Mengeluarkan sebuah buku harian, ingin menghiasi kertas yang masih bersih dengan tinta hitam. Titik-titik air mulai membasahi jendela karena Sang Langit tengah menangis, menjadikan hari itu penuh tangis bagi dia yang tengah menuliskan kisah hidupnya seorang diri. 


Namanya Jinhee. Rambutnya tak lagi pendek di atas bahu, sebab katanya, perempuan lebih cantik, jika berambut panjang. Maka, berniat untuk tampil berbeda dari biasanya, mahkotanya sudah panjang melebihi bahu sampai ke punggung, dan hari itu, surai kemerahan itu dibiarkan tergerai. Wajahnya oval dengan sepasang intan kecokelatan yang apabila kedua sudut bibir terangkat ke atas membuat kelopak mata berperan penting; membuat mata ikut tersenyum. Sipit, keturunan memang. Sudah begitu sejak lahir. Pipi pun tak tinggi, tetapi cukup naik ketika ia tersenyum sepenuh hati. Giginya tak sebaik yang disangka, alhasil pengikat besi dipasang agar benar adanya sang dara bisa menjadi apa yang mereka katakan dengan: cantik.

Suatu hari, ia berandai, apabila suatu hari nanti, ia bisa terbang bebas, keluar dari sangkar emas. Berteman dengan semua yang bisa membuatnya tertawa, disenangi banyak orang, dijadikan seseorang yang berarti, dan terlebih, ada yang menanyakan seberapa pedih hatinya, walaupun asal.

Putih. Warna yang membuat sosok Jinhee mengenal arti sebuah perasaan yang menghangatkan sanubari. Putih, mewakili sebuah awal. Tahu betul, kala itu, ia terbang; senang, meski tak bahagia, karena saat itu, mana ada yang tahu apa arti dari kebahagiaan. Bahkan, tak berapa lama, sayapnya patah, menyisakan luka, yang membekas, meski tak ada penyesalan.

Abu-abu, mewakili awal dari segala penderitaan. Abu-abu, mewarnai dunianya. Keputusan diambil. Bukan dari hati, melainkan dari mereka. Tidak apa, meski ada kekecewaan pada diri, ketika tak mampu mengikuti lingkungan berjuang mati-matian. Tidak apa, meski ada kesedihan pada diri, yang tidak menyukai pekerjaan yang dilakukan. Tidak apa, meski ada tangis dan air mata, tetapi setidaknya sudah berusaha. Dua, tidak, hampir tiga tahun berlalu begitu saja. Tanpa melakukan kegiatan menyenangkan, tak berada dalam lingkup manapun, tak bisa lagi mengembalikan waktu, dan keseharian dihabiskan berperan menjadi orang lain, tanpa sepengetahuan siapa pun. Jangan tanya, apakah lelah menghampiri, karena ia pasti lari, ingin kabur dari hari, menyisakan perih bagi kedua pemberi.

Tidak bisa menyuarakan isi hati tak menyukai yang dilakukan, sebab kaki belum bisa berdiri sendiri. Tak mampu menolak, sebab tak ada pilihan lain. Kau tahu? Bagaimana rasanya dibiarkan memilih, tetapi pilihan sudah ada di depan mata? Walaupun pilihan kau ambil, pada akhirnya, mereka yang memiliki andil. Setidaknya, dari situ, ia mengenal hidup.

Terkadang, hanya setetes air mata yang mampu ia berikan sebagai kasih yang diperuntukkan bagi diri. Menahan kekecewaan, meminta raga untuk bertahan, memantapkan hati untuk terus maju. Tak peduli badai, ia tetap akan berdamai. Tak perlu tahu tujuan, hanya ingin membanggakan. 

Tetapi, satu kali setiap hari, rasanya selalu ada yang hilang dalam dada. Sebuah pertanyaan kembali muncul tanpa aba-aba. 

Inikah hidup? 

Lalu, satu lagi. 

Apakah dirimu bahagia?

Jawaban yang diberikan bukanlah sebuah pernyataan, melainkan pertanyaan yang tidak sama sekali diketahui apa jawabannya.

Apakah itu kebahagiaan?

Mencoba melakukan banyak hal demi membanggakan orang lain. Apakah itu termasuk bahagia?
Mengerjakan hal-hal tak disukai demi kesenangan orang lain. Apakah itu termasuk bahagia?
Menjadi seseorang yang diinginkan orang lain. Apakah itu termasuk bahagia?

Sesungguhnya, semua masih abu-abu. Terasa abu-abu, dan memang abu-abu.

Banyak hal dilakukannya demi orang lain, hingga kini, ia lupa bagaimana caranya membahagiakan diri sendiri. Benar memang, kata mereka. Bahagia itu sederhana. Tetapi, apakah arti dari kebahagiaan itu sendiri? Ia tidak paham. Tak ada yang mengajari, karena hidup untuk orang lain.

Tidak ada yang berani mendekat. Mana ada yang terpikat. Bukan soal apa, hanya terkadang pikiran melayang terbang, mencari jawaban atas segala pertanyaan. Apa itu kebahagiaan? 

Sudah dan selalu bersyukur, tidak menyesal karena sejak tiga tahun lalu memilih kehidupan yang diinginkan orang lain. Meski pedih, tetap hati berjuang menahan dan melawan segala yang menghadang, demi memperjuangkan sebuah kertas yang menyatakan diri siap terjun ke masyarakat. 

Hanya saja, lagi-lagi, satu kali setiap hari, ia termenung, membayangkan hidupnya di kemudian hari. Terlalu lelah berjuang, pundak terasa berat. Ingin melepas, namun masih belum bisa bebas. Ingin sesekali dihibur, tetapi lebih memilih kabur, dan berakhir menjadikan tangis sebagai penghibur. 

Tidak pernah ada iri, karena tahu diri. Bersyukur selalu, karena tahu semuanya akan berlalu. Hanya saja, satu kali setiap hari, ia menitikkan air mata, meminta ditunjukkan kebahagiaan selamanya, bukan yang fana, dan hanya kepalsuan semata. 

Kembali lagi. 

Apakah itu arti kebahagiaan? 
Tentang perasaan, pengabdian, penghargaan, kebebasan, atau harapan?




Jaehee, yang membuat orang lain terpana, jatuh cinta, dan ingin menyapa.

Semua mata yang memandangnya selalu mengatakan bahwa ia cantik. Kulitnya putih. Ia menarik hati dan menawan. Mana ada lawan. Singkat cerita, semua orang menyukai Jaehee. Lebih senang bercengkrama dengannya, dibandingkan dia yang tidak pandai bicara.

Sejak putih abu-abu, banyak mata tertuju hanya kepadanya. Lawan jenis, apalagi. Banyak barang, banyak pengharapan diarahkan padanya. Sebuah pertanda, ia dianggap yang terbaik, pada masa itu. Bahkan, pergumulan yang dilaku masih ada yang berjalan hingga sekarang. Ia begitu disenangi hampir oleh semua orang yang ditemuinya. Berbeda sekali dengan yang tak pernah dianggap dan dicari hanya karena presensinya dibutuhkan untuk mendengar celotehan.

Menaiki tingkat selanjutnya, ia diperbolehkan memilih jalan sendiri. Mencari jati diri, dibiarkan pergi memutuskan. Hal itu membuat hingga akhir, ia selalu ingin kembali menuntut ilmu demi kesenangan dan kebahagiaannya. Berbeda dari dia yang tak mampu angkat bicara, tak bersuara, hanya mengikuti apa kata mereka.

Surat untuk menjadi bagian dari masyarakat telah didapat di tangan. Kebahagiaan lengkap sudah ketika sosok baru hadir ke dalam hidupnya. Ingin berdekatan, berusaha meminangnya. Inilah hidup, kata yang lebih tua. Menjalankan hari sesuai hati, menemukan tujuan dari segala jalan, membuat kebahagiaan sendiri nyata. Sosok baru yang di dalam kedua bola matanya terlukis potret wajah yang terkasih, membuat ingin memiliki kekasih. 

Bersyukurlah, sebab membuat orang lain jatuh hati, tak semudah membalikkan telapak tangan. Kata Jinhee, dalam hati. Maka, nikmati, hargai, dan jagalah cinta yang diberikan dia yang memandangmu dengan penuh kasih sayang; menjadikanmu kebahagiaan dalam hidupnya.



Hanya mampu berdiri di belakang, tersenyum hambar. 

Sudahi saja, sebab jika dilihat lebih dalam, maka kau pun akan ikut tenggelam dalam kepedihan hidup dia yang terlupakan kebahagiaannya. Padahal, hanya satu harapannya, ingin bisa menjadi orang terkasih bagi yang dikasihi. Hanya satu impiannya, ingin menjadi dia yang diimpikan seseorang yang dijadikan impian baginya. Namun, banyak hal membuat ia hanya mampu berkhayal. Pantas, ia tak ayal bahagia. 

Siapa pula yang berani bahagia? 
Dia, yang tidak mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya.