Showing posts with label brown. Show all posts
Showing posts with label brown. Show all posts

Monday, April 13, 2020

339 ㅡ ♕ Aku tak berduri seperti mawar, tetapi mengapa rasanya hambar?

Terkadang, aku merasa bagaikan sekuntum mawar yang hanya bisa memberikan keindahan, tetapi tak seorang pun berniat memiliki.
Aku tak berduri seperti mawar, tetapi mengapa rasanya hambar ketika tak seorang pun berani menyambar?

Dihempas sekali, bukan masalah, cukup hanya menangis lirih.
Dua kali merasa terbuang, rasanya tak sanggup lagi mengulang.
Tak perlu menunggu hingga ketiga kali datang, sebab sudah berniat menghilang.

Bukan apa, aku pantas bahagia.
Aku juga pantas bahagia, bukan?

Tidak mendapatkan kasih yang sesuai porsi, terkadang memang membuat hati perih, tetapi aku katakan sekali lagi ... aku juga pantas dicintai.

Bukankah semua orang pantas dicintai?
Aku termasuk, ‘kan?

Berulang kali aku berusaha menghipnotis diri, mengatakan kepada hati, bahwa aku ingin berhenti dan mencoba mencintai siapa pun yang berminat tinggal dalam sanubari.
Namun, berulang kali pula rasanya hampa; mereka sama, hanya ingin singgah dan mencoba.

Apakah aku yang termakan perasaan sendiri yang ingin merasakan bagaimana dicintai?
Apakah aku yang tak berani melihat kenyataan bahwa sesungguhnya mereka tak ingin bergandengan tangan denganku?
Apakah aku yang selama ini bermimpi; seorang diri?

Mungkinyang pertamaberniat tinggal, tetapi kamu tahu, tak ada yang kekal, aku kehilangan akal hingga merasa dia berusaha mengenal.
Nyatanya, dia hanya mengulur waktu dan mencariku hanya ketika butuh.
Tak ingin berjalan, pun tak hendak berlari.

Jadi, maunya apa?

Di sini, aku yang bingung menempatkan diri; harus berdiri di sampingmu, atau berlari mengejarmu?
Di sana, kamu bahkan tidak peduli, hanya bermain sesuka hati.
Jika kukatakan hati ini terluka, akankah kamu berubah?

Permainanmu itu hanya membuat hati beku, sehingga lebih baik kamu biarkah berlalu.
Kamu tahu, sejak bertemu denganmu, aku mulai mengenal rindu.
Sejak kamu hadir dalam hidupku, pintu yang dulu sempat tertutup rapat, terbuka lagi dengan sendirinya.

Canda dan tawa menemani hari-hariku yang abu-abu, sebab aku tahu, kamu ada untukku berbagi rindu.
Titik air mata sedikit demi sedikit berkurang, membiarkan hati membuat ruang untukmu bertandang.
Terkadang, aku bahkan memimpikanmu dalam diam.

Hanya ini pertanyaanku;
Jika semua rindu yang kamu katakan palsu, untuk apa kamu berpura-pura ingin bertemu?
Jika semua cinta yang kamu jadikan kata hanya sebatas fana, untuk apa kamu katakan semudah kamu membalikkan telapak tangan?

Aku bukan mainan yang bisa kamu permainkan tanpa menjaga perasaan.
Aku bukan tempat berkeluh kesah yang kamu cari saat kamu ingin berlari tanpa berniat menjaga hati.
Adalah aku, mungkin, hanya aku, yang selama ini menganggapmu nomor satu.

Menarik dan mengulurkamu buat aku luluh, lalu tinggal aku sendiri berperang melawan ego yang aku miliki.
Aku sudah tidak ingin lagi, bisakah kamu berhenti?

Ini bukan cinta, melainkan derita.
Aku sudah lelah, ingin marah saja.

Aku tidak bisa memaksa untukmu menemukanku di tengah keramaian.
Aku tidak berani memintamu datang menemuiku di saat kamu benar ingin bertemu, bukan ada maksud tertentu.
Aku hanya ingin kamu tahu; aku bukan tempat persinggahan.

Bunda pernah memberi nasihat.
Kata beliau, jangan percaya kata-kata anak adam.
Bukan pendendam, hanya jangan membendung rasa yang mungkin akan dipendam.
Manis di bibir, harus tahu bagaimana cara air mengalir.
Jangan terbuai.

Oleh karena itu, aku menutup pintu, tak membiarkan siapa pun membuat luluh, sebab sejauh ini, mereka hanya berlalu.
Bukan karena aku enggan, hanya saja pengalaman mengajarkan diri harus mencari aman.
Pernah terluka, takut kembali luka.

Sudah lama aku tak menjalin cerita, mengatasnamakan romansa sebagai judul kisah.
Di saat aku ingin mulai membenahi diri dan keluar dari sini, aku dipertemukan dengannya, yang hanya ingin berjumpa tanpa ada rasa di setiap kata.
Sudah, aku lelah.

Untuk kamu, yang aku sebutkan di sini sebagai Yang Pertama;
Bagaimana jika kita sudahi saja karena aku sudah cukup lelah mempertanyakan perasaan yang kamu berikan secara terpaksa?
Jangan memaksa, aku hanya ingin kamu merasakan hal yang sama.

Jangan buat aku berhenti percaya cinta.
Jangan pegang aku hanya karena kamu ingin dikelilingi kaum hawa.
Jangan katakan sayang saat kamu hanya ingin terbang melayang bersama dayang-dayang.

Aku hanya gadis biasa; seseorang yang sangat perasa.

Aku lebih daripada itu.

Aku pantas untuk diperjuangkan seutuhnya.
Aku tidak akan berdiri di sampingmu lagi, untuk kesekian kalinya aku katakan.
Aku pun tak akan berlari mengejarmu lagi, untuk hari ini, terakhir kali aku katakan.

Berakhir sudah, kisah antara aku dan diayang tak pernah nyata, sebab hanya aku yang meminta dia ada untuk menjadi rumah.
Niatku akan menutup hati setelah mempersilakan dia pergi, tetapi lagi-lagi ada yang mendekati meski belum ingin memiliki.

Sekali lagi, kucoba membuka hati, melihat masa depan walaupun samar.
Namun, entah apa yang membuat hati belum siap menanti, pun tak terlalu ada rasa seperti sebelumnya.

Aku sudah membuka, tetapi belum ada.

Wednesday, January 1, 2020

312 ㅡ ♕ Biarpun aku dilupakan, dijadikan pilihan kedua, dan dipermainkan oleh semesta.

1 Januari 2020, Kim Yeonji.

Aku mengawali tahun baruku dengan merasakan kekecewaan yang luar biasa. Aku sudah belajar untuk tidak lagi menaruh harapan kepada orang lain di tahun 2019. Tetapi menjelang 2020, aku lagi-lagi terlampau bahagia hingga aku lupa untuk menjaga hatiku. Kini hatiku jatuh lagi. Aku kembali menaruh harap pada sesuatu yang tak pasti. Sesuatu yang membuat aku tertatih lagi untuk kesekian kali. Tidak pernah terpikirkan olehku, bahwa aku bisa sesakit ini lagi.

Kedatangannya yang tiba-tiba membuat aku berpikir ini adalah pertanda kasih. Dia menjadikan aku seorang teman cerita. Dia membuat aku menjadi seseorang yang ceria. Dia membuat aku berpikir aku istimewa. Nyatanya semua hanya pura-pura. Ketulusan hatiku sirna begitu saja, apalagi ketika sekelilingnya bisa membuat dirinya lebih bahagia. Apalah aku ini yang hanya bisa tulus mengucap kata dan memperlakukan dia bak seseorang yang sempurna. Aku bukan siapa-siapa, maka tak pantas aku berharap lebih.

Lagi, lagi. Aku terluka lagi. Menjelang akhir tahun 2019, aku mulai melemah karena satu dan dua hal yang sempat membuatku terkejut. Meski begitu, aku tetap tegar dan berusaha untuk tetap kuat. Tetapi ketika orang yang sempat membuat hatiku remuk kembali memecahkan hatiku yang sudah aku rangkai sedemikian rupa, tangisku pecah dan pertahananku runtuh. Aku yang sudah bangkit, kini berada di titik terendah lagi. Aku terluka, kecewa, dan ingin menyerah, sebab aku mulai rapuh, tidak kuat menerima kesedihan yang datang bertubi-tubi. Oleh karena itu, aku akan menutup segalanya. Lebih baik aku menutup pintu hatiku rapat-rapat hingga tak ada yang berani masuk, bahkan mengetuk sekali pun tak akan aku persilakan. Aku akan mengunci kastil kecilku dengan baik. Aku akan menjaga hatiku dan hanya akan menerima perasaan yang aman. Aku tidak akan terbuai oleh kenyamanan yang fana. Aku tidak akan lagi berusaha untuk mencari dan menerima. Aku hanya akan merangkul diriku sendiri.

Jika kamu mengenal aku lebih dalam, kamu akan tahu seberapa aku selalu memberikan yang terbaik. Aku tidak ingin menganggap diriku adalah orang yang baik, tetapi aku berani menjamin bahwa aku selalu tulus, karena aku percaya, apabila aku tulus kepada orang lain, maka orang lain pun akan memperlakukan aku dengan tulus juga. Apakah karena aku terlalu tulus, mereka yang ada di sekelilingku menganggapku mudah dan lemah? Mereka berulang kali membuat aku merasa hancur sehancur-hancurnya. Mereka yang tidak pernah aku bayangkan bisa memperlakukan aku dengan rendah, ternyata memendam perasaan ingin menghancurkan diriku. Jujur saja, inilah alasan mengapa aku tidak berniat berjalan keluar kediamanku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya berusaha mencintai orang-orang terdekatku dengan sepenuh hati, tetapi mereka selalu melupakan aku... menganggap aku tidak pernah ada. Mereka hanya mengingat dan membutuhkan aku di saat mereka dalam kesusahan, tetapi di saat mereka bahagia, aku tidak pernah ada di sana. Bukan masalah, sebab hatiku sudah penuh, apabila mereka bahagia.

Aku tidak kecewa pada diriku dan hidupku. Aku sudah banyak belajar tentang kehidupan, sehingga aku bisa memunculkan perasaan bangga pada prinsip dan pilihan hidupku. Aku hanya kecewa pada perlakuan mereka kepadaku. Secara sengaja maupun tidak, aku tidak tahu dan tidak ingin peduli. Aku hanya khawatir, jikalau suatu hari mereka diperlakukan sama seperti bagaimana mereka memperlakukan aku, apakah mereka sanggup? Aku rasa mereka akan lebih terpuruk dariku. Mereka akan meronta-ronta, mempertanyakan kesalahan apa yang mereka perbuat kepada Tuhan. Aku tidak akan seperti itu, karena aku tahu Tuhan sayang padaku. Maka dari itu, aku diperkenalkan dengan begitu banyak perasaan yang tidak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya bisa terjadi padaku.

Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena sudah membuat aku memulai tahun dengan kecewa. Aku jadi bisa mempersiapkan diriku lebih baik lagi untuk menjadi seseorang yang lebih kuat dari sebelumnya. Perasaan dilupakan dan dianggap tidak ada memang adalah satu hal yang sangat menyakitkan, tetapi aku tidak akan memperlakukan mereka sama seperti apa yang sudah mereka lakukan padaku. Aku akan tetap berbagi kasih kepada siapa saja yang aku temui. Aku akan berbesar hati dan tetap belajar untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Aku tidak akan pernah berhenti untuk belajar di kehidupan ini. Setiap harinya aku akan terus berkembang karena aku tidak pernah takut dipermainkan oleh semesta, sebab aku percaya hatiku akan semakin kuat dan aku bisa mendapatkan apa yang sudah aku tanam selama hidupku. Jadi, aku hanya berharap aku tidak menyerah di tengah jalan. Tahun 2020 baru saja dimulai, biarlah kesedihan dan kekecewaan ini berakhir sampai di sini. Kuatkan aku dan bantu aku agar aku bisa tetap menjadi diriku yang tulus, bahagia apabila orang lain bahagia, dan bersyukur setiap harinya. Biarpun aku dilupakan, dianggap tidak ada, dijadikan pilihan kedua, dan dipermainkan oleh semesta, aku akan tetap bersyukur dan berjuang agar aku bisa menjadi seseorang yang lebih bahagia lagi.

Terima kasih sudah menjadi kuat. Tetap jadi dirimu yang tulus. Jangan pernah berubah hanya karena sekelilingmu meminta kamu untuk meredupkan cahayamu. Tetap pancarkan cahaya kasihmu dengan tulus. Kamu adalah seseorang yang penuh. Kamu dipenuhi cinta. Jangan lupa bahagia.











Monday, July 30, 2018

261 ㅡ ♕ Adakah seseorang yang setidaknya menempatkan kebahagiaanku di atas kebahagiaannya?

AHN YOUNGYI ☓ HAN JINHEE
I just want to say, I have loved seriously. 
Written by Vanny | 1,081 words

It's so torturing to control myself as I'm about to breakdown, 
this is my own fault,
that past is a wound that can never be healed,
but, will you save me?


Selamat malam. Namaku Han Jinhee, dan ini adalah kisahku. Sebuah kisah yang kusampaikan dari hati. Jadi, biarkan kedua matamu membaca kisah ini dengan hati. Mari bicara dari hati ke hati.


Suatu hari aku bermimpi. Mimpi itu begitu nyata. Aku tidak berkedip, dan cahaya yang berpendar dari dalam diriku juga tak redup. Kedua sudut bibirku terangkat hingga membentuk seulas senyuman cerah. Hari itu, aku bahagia.

Aku tidak sedang melakukan apa yang orang lain ingin aku kerjakan. Aku sudah menjadi diriku sendiri dengan memilih jalan yang kuyakini bisa membuatku bahagia. Aku tidak berada di dalam sangkar emas, melainkan aku sudah berani terbang menembus awan. Aku tidak lagi mencari jati diriku, tetapi aku sudah membangun hidupku sendiri.

Namun, meskipun aku sudah nyaris memiliki segalanya, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Atau, sebenarnya sesuatu itu belum kutemukan. Aku tidak mengerti apa itu mencintai dan dicintai. Sejak terakhir kali aku menerbangkan balon yang berisikan harapanku akan sebuah kisah yang kuharapkan bisa menjadi sesuatu yang berharga dalam kisah hidupku, aku tidak berani mulai mengenal siapapun. Aku sempat menutup diri karena aku sadar bahwa hatiku rapuh dan aku pun lemah. Lemah dalam hal menahan diri untuk tidak memberikan hatiku ketika aku sudah merasa nyaman. Oleh karena itu, aku tidak ingin menjadi bodoh dan membiarkan sang penerima hati meruntuhkan pertahananku.

Seringkali aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku tidak pantas dicintai? Apakah ketulusanku tidak pernah sampai kepada siapapun yang kuberikan hati? Dan seringkali aku terdiam, merenung memikirkan kenyataan bahwa aku selalu memberikan segalanya kepada orang lain hingga berakhir tak memiliki apapun yang tersisa untuk kebahagiaanku sendiri. Aku mencoba untuk selalu tulus dalam segala hal, dan kulakukan itu bukan untuk mendapatkan balasan, karena memang pada dasarnya, aku melihat kehidupan seperti sedang bercermin. Jika aku memberikan ketulusanku kepada mereka yang ada di sekelilingku, maka aku juga akan mendapatkan kebahagiaan yang sama. Tetapi, terkadang aku mempertanyakan sesuatu. Kapan kebahagiaan itu datang menghampiriku? Aku, yang menempatkan kebahagiaan mereka di sekelilingku lebih dari kebahagiaanku sendiri, hanya ingin diberikan kesempatan untuk sekali saja merasakan hal yang sama. Adakah di luar sana seseorang yang setidaknya menempatkan kebahagiaanku di atas kebahagiaannya?

Tidak perlu berpikir lama, aku menggeleng pelan. Entahlah, mungkin aku hanya bisa bermimpi karena mana mampu aku memperkirakan sesuatu untuk datang sesuai seperti apa yang kuinginkan. Aku tidak sempurna, tetapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka yang aku sayangi; bagi mereka yang ada di sekelilingku. Aku memang jauh dari kata sempurna karena aku hanyalah seorang perempuan biasa yang tidak memiliki apapun selain ketulusan hati. 

Aku pernah mencintai. Bahkan, aku sering mencintai. Mencintai mereka yang senang melemparkan lelucon hingga aku tertawa. Ya, aku memang mudah tertawa karena kau tahu, hidup ini akan menjadi semakin indah, jika kau tertawa bersama dengan mereka yang sedang gembira. Tetapi, sering ikut tertawa bukan berarti aku tidak pula banyak menitikkan air mata. Aku juga mencintai mereka yang mencariku saat mereka bersedih, dan mulai menceritakan kisah pedih mereka yang membuatku ikut menitikkan air mata. Tidak apa, jika di kala bahagia mereka tidak kembali, karena aku sudah cukup senang; karena aku bahagia mengenal hatiku, bahwa aku senang ketika mereka membutuhkanku sebagai tempat untuk menenangkan hati. Aku pun mencintai mereka yang tersenyum kepadaku, karena kau tahu, dengan tersenyum, kau bisa mulai mengenal orang lain, dan aku memang tidak pandai bicara, aku tidak seperti mereka yang bisa membuka pembicaraan kapanpun dan dimanapun, tetapi aku dapat mengatakan dengan penuh kepercayaan diri bahwa aku pandai tersenyum. 

Aku pernah mencintai hingga rasanya kedua bibirku tidak dapat berhenti tersenyum. Aku pernah mencintai dengan tulus. Namun, ketulusanku tak sampai ke destinasi yang tepat. Pada akhirnya, garis finish tidak berujung bahagia, melainkan patahnya hati menjadi keluh yang kutangisi setiap malam kala semua orang terlelap. Sejak saat itu, aku menutup pintu rapat-rapat, dan berharap tak ada satu orang pun yang datang. Aku tidak berani mengenal, mana mampu aku berteman. Ada ketakutan tersendiri yang tidak dapat aku katakan pada siapapun. Ada keresahan tersendiri yang tidak dapat aku jelaskan, bahkan kepada diriku sendiri rasanya tak mampu aku merangkai kata untuk membuat diri mengerti. Ada keberanian yang tak pernah aku tunjukkan, dan hanya kupendam dalam diri. Aku mencoba untuk pulih seorang diri. Aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan kekhawatiran yang sejak saat itu mengisi relung hatiku.

Lalu, suatu hari, seseorang mengetuk pintu, dan tanpa membuat keputusan terlebih dahulu, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Ketika aku mengatakan bahwa aku tidak mengerti apa yang harus dan tidak harus kulakukan; apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan, semua itu benar adanya. Tidak ada kebohongan kuberikan karena kau tahu, rasanya aku memang tidak paham apa yang sebenarnya harus kulakukan sebab sebelumnya pun aku hanya bergantung pada sebuah perasaan yang kubawa seorang diri hingga ke garis finish. Aku takut, aku resah, aku memang bodoh. Aku bukan seseorang yang mengerti betul apa arti dari kata cinta, karena definisi dari kata itu sendiri hanya kubuat dari pengalamanku, dan perjalanan yang selama ini kulakukan belum memberikanku penjelasan yang berarti akan makna dari kata tersebut. 

Malam itu, aku duduk berhadapan dengannya, dan kutatap kedua bola matanya dengan saksama. Aku memperlihatkan senyuman terbaikku, dan berkata, "Aku telah membukakan pintu untukmu walaupun aku tidak tahu apakah kamu memang ingin bertamu atau tidak. Ah, mungkin kamu hanya ingin bertamu, dan tidak berniat meninggalkan jejak ... entahlah, aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan karena untuk beberapa saat, aku mulai mempertanyakan banyak hal. Aku pernah mencintai, tetapi rasanya selalu sama karena pada akhirnya, aku tahu, aku yang akan menyerah. Jangan buat aku menyerah, boleh? Aku resah, aku cemas, dan aku khawatir. Aku mengenal hatiku, tetapi tidak hatimu. Jika kamu tidak ingin memberikan tempat di hatimu untuk aku singgahi, lebih baik tidak kamu biarkan aku berpikir aku memiliki kesempatan untuk bahagia barang sedetik saja. Atau, hanya aku yang berpikir demikian? Aku tidak paham, tetapi bisa jadi. Aku bukan perempuan yang sempurna, dan aku bukan perempuan yang kuat. Aku mencoba membuka pintu ketika kamu ingin masuk, dan kuberikan senyuman terbaik yang bisa kuberikan untukmu. Aku berusaha menjadikanmu satu-satunya, tetapi aku tidak paham, apakah benar kamu juga melakukan hal yang sama? Sejak merasakan patah untuk pertama kalinya, aku berusaha keras untuk tidak rapuh lagi; tidak mudah jatuh, tetapi harus kukatakan, aku memang jatuh dengan hati yang serupa, tetapi tak sama. Apakah kamu bersedia mengulurkan tangan?"


Sunday, March 4, 2018

242 ㅡ ♕ When you start loving somebody else, only then, I will let you go.

Loving me, it isn’t hard. Now, come hug me, as you are.
Though our future remains uncertain, it’s that very vagueness that I like.
Why do things other than our love matter? Can you imagine our lives without each other? Surely we can love on. 

When you start loving somebody else,
When I get used to the life without you,
When that time comes,
When the end is the only way,
Only then,
I’ll let you go.

Loving you, it isn’t hard. Just one more smile, one more touch will do. 
Loving each other, it isn’t hard. If we start everyday as if it’s our first gaze. 
Why do things other than our love matter? Can you imagine our lives without each other? Surely we can love on. 

Whether you want it or not, I will love and be faithful to you.
Only when I fall and can’t walk anymore, when that time comes, when the end is the only way, only then, I’ll let you go.

I have given up,
I have told myself to stop,
I have done my best,
But, you never see my effort even once,
So, I decided to not know you,
Even though, deep inside my heart,
I can’t not know you.
Nonetheless,
This is for the best.
I’m gone for good.
Ahn Youngyi, drowning in her 2017 thoughts of him.

Friday, February 23, 2018

241 ㅡ ♕ Aku, Ahn Youngyi, yang masih merindukanmu di tahun 2018.

“Sometimes I wish I could go back in life. Not to change things, just to feel a couple things twice.” — Drake

Malam ini, hujan.
Bersamaku, langit merindukanmu. 

Alih-alih menutup kepala dengan menggunakan kedua tangan untuk menghalau titik air yang mulai membasahi sekujur tubuhku, aku membiarkan isak tangis dari Sang Langit menyentuh raga dan hatiku. 

Aku menengadah, menutup mata, dan membayangkan wajahmu. Enggan memanggil kembali sebuah kisah yang sudah lama terpendam, tetapi dengan berat hati kukatakan: “Aku merindukanmu.” Rindu berupa lembaran kertas yang tertumpuk menjadi sebuah surat, dengan goresan bolpoin dari hati.

Laki-laki berperawakan lebih tinggi dariku yang setiap langkahnya membawa pesona, meninggalkan seberkas cahaya dalam kedua bola mataku setiap kali memandang. Popularitas membuat namamu melambung, dan membuatku harus berpikir dua kali untuk mendekat. 

Kamu, yang tak bisa kusentuh.

Aku ingat. Saat itu, aku melihatmu berjalan di lorong sekolah. Dalam diam, aku memotret paras menawanmu untuk kujadikan penyemangat hidup. Bahagia bukan main walau hanya memandang dari kejauhan. 

Oh, Tuhan. 
Jantungku berdetak heboh. 
Apakah aku sudah jatuh? 
Jatuh hati, rupanya.

Mereka menertawakanku yang diam-diam selalu memujamu tanpa pernah berhenti. Keras kepala, tidak tahu malu, di mana harga dirimu?—tidak ada yang membela, hanya makian yang dilontarkan ketika raga berkumpul bersama para persona tak punya hati.

Mereka, yang tidak percaya cinta.

Tahukah kamu, seseorang yang tidak dapat kumiliki, ketika mereka menggunakan segala cara untuk menyadarkanku bahwa kamu tak akan pernah menyadari presensiku, apa yang aku katakan kepada mereka? 

“Ketertarikan adalah bahagia yang sederhana.”

Maka, banyak pertanyaan mereka berikan dengan maksud ingin mencari kelemahanku. Masih dalam usaha ingin menyadarkanku bahwa kamu tidak akan pernah berniat menemukanku di tengah keramaian. 

Kamu, adalah sebuah bintang yang bersinar terang.
Aku, hanyalah seorang pengagum bintang.

“Tidakkah kamu sakit karena tak mendapatkannya?” 

Sebuah pertanyaan kudapatkan, dan aku tersenyum. 

“Kamu akan belajar, belajar, dan belajar sampai kamu benar-benar dewasa. Sampai kamu yakin bahwa jawaban itu pasti: Tidak. Kamu tidak akan sakit, jika kamu benar-benar memahami.”

“Mengapa?” 

Mereka meminta alasan sebagai jawaban. 

“Kamu akan selalu ingin berada di sampingnya dan memandangnya tertawa karena rasa sayang tidak akan pernah hilang, meskipun raga tak kamu miliki. Kamu akan bahagia hanya karena tertawa bersamanya dari kejauhan.”

Kemudian, aku menegaskan pernyataan yang aku buat nyata. 

“Suka dan sayang adalah dua hal yang berbeda. Ingatlah, setiap kali kamu berada di sampingnya ... bersiaplah untuk kembali jatuh hati. Mengapa? Karena rasa sayang tak akan pernah hilang.”

Aku menjelaskan jawabanku dengan menggunakan ‘kamu’ karena aku ingin kamu yang tidak pernah bisa kugapai, kamu yang selalu kunantikan kehadirannya, dan kamu yang pernah hadir dalam hidupku sebagai bintang, tahu seberapa besar keinginanku untuk hanya menatapmu dari jauh.

Tidak pernah ada keraguan dalam mengambil sebuah keputusan. Mulai dari meyakinkan diri untuk memantapkan hati sebelum mulai menyukai, sampai kepada perpisahan secara sepihak yang aku tetapkan sebagai keputusan untuk berhenti memandangmu sebab pedih dalam dada mulai kurasakan.

“Tanya hatimu, tetapi pakai otakmu. Perasaan, pemikiran, dan kenyataan di sini adalah tiga hal yang berbeda.” 

Aku mengatakan kalimat itu untuk menampar diriku sendiri. Berulang kali kukatakan agar hatiku benar-benar pedih hingga air mata pun membasahi kedua pipi. Aku menangis.

Setelah kudapati diriku jatuh terlalu dalam, dan kamu tidak juga menolehkan kepala untuk mencoba menyelamatkanku, aku meyakinkan diriku bahwa aku tak akan lagi mencoba berharap. Aku belum benar-benar berharap. Aku hanya ingin mencobanya. Namun, semua itu tak akan kulakukan lagi.

Kini, aku tak akan lagi berdiri di sampingmu, terdiam mendukungmu dalam kesedihanku. Aku akan memberanikan diri untuk berjalan maju. Berjalan maju ke tengah-tengah keramaian sampai kamu menemukanku. 

Aku tak akan menunggu lagi.
Aku tak akan berusaha lagi.
Aku tidak lelah.
Aku tidak menyerah.
Aku tidak menangis.

Aku hanya harus mengistirahatkan hatiku karena terlalu sering berusaha mengerti semua tentangmu. Aku masih berusaha mengerti. Aku belum benar-benar mengerti. Aku tidak pandai, tetapi aku mau berusaha mengerti.

Luka lama masih membekas, walaupun tak membuatku meringis lagi. Luka baru tak memberi bekas, namun kenangan akan bagaimana aku mendapatkan luka itu akan selamanya menyayat hati. Lukaku masih belum sembuh. Namun, kini aku menjadi lebih kuat menghadapi kenyataan pahit.

Aku akan pergi.
Cari aku.

Jika tidak, maka aku akan benar-benar pergi meninggalkanmu tanpa menoleh ke belakang, dan ketika kamu merasa kehilangan lalu mencariku ... maka saat itulah aku akan mulai menanyakan hatiku kembali.

“Apakah kamu masih berdiri di sana menunggunya datang mencarimu? Ataukah kamu sudah berjalan pergi dari kerumunan itu karena terlalu sakit?” 

Suara hatiku yang tak mau didengar oleh siapa pun terekam jelas dalam benak. 

Jawabanku adalah, “Aku tidak lagi di sana—menunggunya.”

Kenyataan telah bertemu dengan sang akhir, lalu mengapa tak aku akhiri juga mimpiku yang hanyalah sebuah angan-angan semata? Kini, aku tak tahu bagaimana cara membedakan mimpi dan kenyataan. Mengapa? Karena terlalu sering bermimpi dalam diam, dan bercerita dalam tangis.

Terima kasih untuk hari-hari yang kamu ciptakan bagiku untuk bermimpi. Mungkin banyak hal yang tak dapat kamu percaya dalam hidup ini, tetapi percayalah bahwa kamu pernah menjadi cinta pertama seseorang. 

Salam hangat untukmu, 
Aku, Ahn Youngyi, yang masih merindukanmu di tahun 2018.

Wednesday, November 22, 2017

232 ㅡ ♕ 세상이 참 잔인하다... 너무 힘들게 살아...

난 ... 너 오늘 봤어 ... 봤었는데 그냥 내 자리에서 있었어 ... 
왜냐하면 넌 날 잊어 버렸네 ...
난 ... 널 잊어 보릴수 없었다 아직까지 ... 
난 ... 누구랑 얘기 하고싶어 ... 얘기하고 싶었는데 아무도 없어서 말못해 ... 
아무도 듣고싶어 내 재미없는 얘기 ...
난 ... 아무것도 없어서 그래 ... 내 옆에 아무도 없어

근데 난 괜찮아 ... 익숙해 졌어
근데 난 울지도 않아 ... 아프지 않아
근데 난 솔직히 말하면 아무도 없어 ... 
거짓말 했어도 아무도 오는거야...

그래서 괜찮아 ... 괜찮아질거야 ...
그래서 좋은 일있을거야 ...
그래서 좋은 사람이 될수있어 ...
그래서 행복 할수있어 ...

난 ... 그냥 행복 해지고싶어.

Tuesday, September 8, 2015

135 ㅡ ♕ Adios, Epilogue.

Han Yi An: Who's welcoming you to keep coming here?
Lee Eunbi: Han Yi An!
Han Yi An: Don't call my name! Don't appear in front of me anymore! I don't want to look at you anymore.

adios, bye.

Monday, August 17, 2015

134 ㅡ ♕ Selamat Beristirahat, Ahn Youngyi.

25-08-2014 to 09-04-2015

File not found. Ahn Youngyi is no longer exist.

Ahn Youngyi, selamat tinggal. Aku tidak akan pernah melupakan kenangan kita, mana mampu. Tak akan mampu melupakan sedetikpun titik air yang jatuh melewati pipi. Tak akan berani melupakan sedetikpun ujung bibir yang tertarik menimbulkan seulas senyum hingga pipi menyentuh mata yang membuat mata pun menarik senyum bahagianya. Kita sedekat nadi, dulu. Kita sejauh matahari, sekarang. Aku melupakanmu, ini yang akan menjadi bahan pembicaraanku hari ini. Tidak, tak akan melupakanmu itu bukan bohong. Hanya saja ini caraku melepas sendu bulan yang kulewati menjadi dirimu, gadis yang tak pernah berekspektasi selama 7 bulan kau berjalan. Akhirnya, kau sampai di sana dan bagaimana perasaanmu setelah berjalan dalam waktu yang cukup lama? Lelah, aku tahu dan kelelahan itu telah kau lewati dalam 5 bulan pertama dalam lembaran kertas putih yang baru kau sisipkan sticky notes dan kau lepaskan tinta hitam menari di atasnya. Aku melupakanmu dalam piluh yang kurasakan. Aku melupakanmu dalam kelam malam yang kuhabiskan menitikkan bulir air yang terbawa gravitasi deras bagai aliran sungai padam. Aku tak akan melupakan perasaan yang masih ada di tempatnya dalam dasar laut kelabu milikku. Jangan takut, tak pernah akan kuhapus dirimu dalam bagian hidupku. Selamanya kau memiliki tempat di dalam lubuk hatiku sesempit apapun persediaan tempat itu bagimu. Kenangan hanya akan menjadi sebuah kenangan. Tetapi percayalah ketika aku menjadi dirimu yang lalu, aku merasakan banyak hal dalam hidupku yang mana tak mampu kutuliskan kembali dalam lembaran epilog buku yang kubuat selama 7 bulan perjalanan panjangku menuju sesuatu yang kini menghantamku dalam diam. Tak bersuara. Tak berdetak. Tak tahu apa. Tak tahu dimana. Tak tahu mengapa. Aku melupakanmu dalam diam. Aku melupakanmu dalam keheningan malam. Aku mengingatmu dalam canda dan gelak tawa. Aku mengingat setiap kata yang terucap meski diriku hanyalah seorang yang tak dikenal sekarang. Jauh, jauh di sana. Lupa, sudah melupakanku. Aku kembali menulis ini bukan untuk menusukmu dengan kalimat tajam mematikan. Aku tak mampu. Aku masihlah seorang yang tak berani melangkah. Tak berani memulai apapun, meski semua akhir mana mampu ditebak. Hanya saja, aku sudah cukup bangkit dari kepedihan luka yang hampir sembuh. Maka dari itu, aku mengerahkan segala keberanian yang tersisa dalam diriku untuk menitikkan tinta hitam di atas kertas putih menulis akhir dari sebuah akhir. Selamat tinggal, Ahn Youngyi. Kau bisa membawa segala yang bukan milikku pergi bersamamu. Tinggalah dalam diam, jalani harimu dengan hangatnya pagi dan tidurlah dengan balutan keheningan malam. Aku tak mampu terus membawa apa yang bukan milikku di pundak, berat rasanya. Jadi, selamat tinggal kusampaikan padamu Ahn. Bawalah apa yang bukan menjadi milikku, tidurlah dalam sinar malam yang menerangi jalanmu menuju mimpi yang kau buat nyata. Kini tak apa Ahn untuk bermimpi. Kau bukan diriku. Aku bukan dirimu. Dua hal yang berbeda. Tidak, kita tidaklah sama. 

Selamat tidur, Ahn Youngyi. Aku menyayangimu. Tidurlah yang nyenyak, gadis yang tak pernah berekspektasi. 

"Good things happen when you least expect them" Moto hidup yang kau ajarkan padaku. Terimakasih. Thanks for the love you give. Thanks for the moment you make me feel. Thanks for making me feel most alive.

I don't need any sweet love songs, it's broken heart. Tak berkeping-keping, hanya saja rusak. Tak ada lem, hanya sebuah papan untuk dipajang sebagai lukisan.

Thanks, love!

Thursday, April 9, 2015

108 ㅡ ♕ Ketika Mimpi Berakhir.

Kenyataan telah bertemu dengan sang akhir, lalu mengapa tak kau akhiri juga mimpimu yang hanyalah sebuah angan-angan semata? Kini kau tak tahu bagaimana cara membedakan sebuah mimpi dan sebuah kenyataan. Mengapa? Terlalu sering bermimpi dalam diam.



Ahn Youngyi meletakkan kedua telapak tangannya yang mungkin dapat dikatakan mungil itu di atas kedua kelopak matanya yang sipit, ya kecil. Ia menutup matanya dan menata pikirannya yang selama ini terlalu bising. Ahn mencoba mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa dari dirinya yang baru pulang sekolah itu untuk menghela napas panjang. Mengapa menghela napas? Ahn berusaha membuat dirinya benar-benar merasa lelah, sangat lelah.

Terlalu lelah...hingga tak kuat membuka kedua bola matanya. Terlalu lelah hingga tak sanggup membuka satu mata hatinya. Terlalu lelah untuk mulai melihat orang-orang yang silih berganti hadir dalam hidupnya. Terlalu lelah untuk tersenyum menatap sesuatu itu yang hambar dalam hidupnya. Terlalu lelah untuk kembali menitikkan air mata hati. Terlalu lelah untuk kembali berjalan menuju sesuatu di ujung sana. Karena kau lelah, mengapa tak kau beristirahat dulu sekarang? Meskipun kau tak akan pernah kembali berjalan lagi untuk waktu yang cukup lama, kini kau dapat berhenti berusaha berjalan karena kaki mu sudah cukup lelah berlari. Garis finish sudah dilewati. Meskipun tak kau dapati medali emas, mengapa tak kau berhenti berlari? Garis akhir telah kau temui. Kini saatnya kau oleskan penahan sakit bagi kakimu yang memar. Tak masalah kau beli dan oleskan sendiri. Siapa yang membutuhkan orang lain untuk melakukan itu ketika kau memiliki kedua tangan yang dapat kau gunakan? Sendiri, tak apa. Kau memang selalu begitu bukan? Tak masalah. Dulu sebelum  kau mulai berlari dalam keceriaan melangkahkan kakimu yang mungil, kau tetap dan selalu sendiri bukan? Jadi sekarang setelah kau temui garis akhir itu, tak apa kembali kepada tempatmu berada sebelumnya.

Terlalu cepat...rasanya semua terlalu cepat berlalu. Baru kemarin rasanya mengakhiri masa-masa tingkat dua. Ketika bunga baru mulai bermekaran. Ketika perasaan tak lagi beku. Ketika perasaan sakit mulai menemui penyembuh luka lama yang berbekas. Ketika perasaan berusaha menghilangkan bekas luka yang memang sampai kapanpun tak dapat hilang. Perasaan senang berada dalam ruangan tingkat tiga yang sama. Perasaan takut jujur pada diri sendiri bahwa rasa itu ada. Perasaan gugup bercerita pada kedua sahabat. Perasaan tak percaya yang terlukis di wajah mereka di sekeliling yang mulai bertanya tentang kalian. Perasaan tenang berhasil duduk bersama denganya berjam-jam. Perasaan bahagia dapat bercanda kecil dengannya. Semua terasa begitu cepat. Semua terasa seperti baru terjadi kemarin. Tak tau kini semua hampir berakhir, uh-oh...sudah berakhir.

Terlalu pedih...rasanya terlalu pedih. Pedih. Kau tau bukan rasa pedih ketika sebuah luka kembali mendapat luka. Tak sakit lagi. Memang tak sakit lagi. Hanya pedih. Terlalu pedih sampai kau tak dapat menitikkan air mata lagi. Terlalu pedih sampai kau tak ingin menatap matanya. Terlalu pedih sampai kau tak mampu menatap bayangannya yang lewat begitu saja, tak perdulikanmu. Terlalu pedih sampai tak ingin kau dengar semua tentang dirinya kembali. Bukan, bukan dia yang memberimu luka. Dirimu sendiri lah yang menyebabkan sebuah goresan kecil berarti itu tergores pedih sebagai luka. Siapa yang menyuruhmu terjatuh? Siapa yang menyuruhmu menetapkan hati untuk jatuh sedalam-dalamnya? Jangan...jangan terjatuh, sakit. Jangan...jangan jatuh terlalu dalam, tak ada yang rela mengulurkan tangan untuk menarikmu dari lumpur kotor. Tak hati-hati kau berjalan, begitulah pasti kata mereka. Kalau kau tau kau akan merasakan kepedihan yang luar biasa....kau tak akan pernah membuka pintu dan berjalan keluar rumah...sehingga kau tak akan terjatuh dalam lubang yang dalam. Begitulah pikiran semua orang...begitu juga pikirmu. Maka dari itu, jangan kau salahkan dirimu karena terjatuh dalam lubang kotor nan dalam. Jangan kau bohongi dirimu untuk tetap menunggu seseorang membantumu bangkit. Jangan kau lukai kembali luka yang belum kau bersihkan itu untuk mulai memandang orang lain dalam tatapan meminta bantuan. Jangan kau lewati hari-hari sepi mu dengan rasa sedih. Jangan kau tampakkan rasa pedih itu. Kau harus mencari cara tercepat untuk keluar dari lubang itu karena semakin lama kau disana....semakin dalam tempat itu menarikmu jatuh.

Terlalu lama...tak boleh kau terlalu lama. Tak boleh kau terlalu lama berharap seseorang yang sudah lewat namun tak memberikan tangannya untuk menarikmu keluar dari situ. Tak boleh kau terlalu lama memikirkan seseorang lain yang akan menarikmu kembali bangkit. Tak boleh kau terlalu lama berharap dalam kepalsuan akan mimpi yang kau buat nyata karena semua mimpi hanyalah angan-angan tanpa malu. Tak boleh kau terlalu lama berharap dalam ketidakpastian akan sebuah kenyataan yang adalah mimpi dalam mimpi berjalanmu...sleepwalking. Berjalan dalam mimpi. Ya, semua terasa nyata. Namun, sadarkan dirimu karena itu masih hanyalah sebuah mimpi yang kau buat nyata.

Terlalu jauh...tak boleh kau terlalu jauh masuk ke dalam mimpimu yang tak lain hanyalah sebuah kisah karanganmu. Kini kau telah mendapatkan akhir dari kenyataan hidupmu. Mengapa tak kau jadikan itu sebagai akhir bagi mimpimu? Kenyataan adalah mimpi. Mimpi adalah kenyataan. Dua hal itu kau buat sama, itulah mengapa harapan itu selalu ada di tempat yang sama selama ini. Kisah nyata telah menemui akhir. Sepertinya....tiba saatnya kisah mimpi menemui akhir. Kau takut untuk bermimpi lagi? Ya, aku mengerti. Kalau begitu....jangan pernah tertidur untuk bermimpi. Kalau begitu....jangan pernah terbangun untuk kenyataan. Tutup pintu dan diamlah di dalam...jangan keluar dari sana karena apabila kau melangkah keluar, kau akan bertemu dengan banyak orang dan kau tak dapat beristirahat dalam diam bagi dirimu sendiri. Tutuplah pintu rapat-rapat, hati.

Terlalu banyak...hal yang terjadi selama ini yang hanya dapat dijadikan kenangan bagi dirimu seorang. Terlalu banyak hingga kau tak mampu menghitung ulang. Terlalu banyak sampai rasanya dirinya tak dapat mengingat satu pun. Tak ingin mengingat, bisa jadi. Tak akan mengingat, pasti. Terlalu banyak sampai kau kini tak ingin menuliskan dirinya kembali dalam lembaran kertas berwarna. Terlalu banyak bagian-bagian kecil dari pajangan hati yang kau berikan untuknya sebagai puzzle emas. Terlalu besar pajangan hati yang kau berikan padanya sebagai sebuah hadiah perasaan. Tak tau, ternyata ia tak lain adalah seorang pemecah kaca. Tak menerima pajangan kaca. Terima memang namun sebagai pemecah kaca, ia harus menunjukkan tenagannya untuk memecahkan pajangan kaca hati itu dan membuatnya menjadi sebuah kaca yang baru. "Aku tak dapat menjual kaca hati ini padanya karena aku tak dapat memberikan pajangan hati ini seperti aku memberikan pajangan yang sama dulu kepada seseorang yang lain." Begitu katanya pada seorang pelanggan berbadan besar, sangar terlihat namun hati hangat. "Oh begitu...aku sudah tau." Kata Ahn Youngyi ketika seorang berbadan besar yang tak lain bernama Bebe, teman Ahn menjelaskan ungkapan seseorang itu ketika Bebe bertanya tentang Ahn Youngyi kemarin. Youngyi berusaha tersenyum tipis, "Ya...aku sudah menebaknya dan sudahlah tak apa. Tak sakit, lihat saja air mata pedih tak mampu keluar." Ahn menerima setiap kata demi kata yang keluar dari bibir Bebe yang berbisik itu dengan sangat pedih. Kembali rasanya terlalu pedih, sampai-sampai rasa itu mati dalam kebekuan detak jantung. Tak apa...terlalu pedih. Tak apa...memang kuat, tak apa. Mungkin kuat...tak apa.

Terlalu takut....apa yang Ahn Youngyi takutkan selama ini menjadi kenyataan. Apa yang selama ini Youngyi katakan pada dirinya hanya menjadi bumerang baginya. Ia terlalu bahagia karena dapat berada dekat dengannya sehingga tak sadar lampu itu tak pernah berubah hijau. Agustus...September...April...lampu itu tak pernah berubah warna sekalipun. Ahn terlalu senang tak tertabrak mobil ketika melewati lampu merah tanda berhenti itu dengan menari. Lucky...beruntung mungkin untuk pertama kali. Tak ada mobil yang lewat....untuk kedua kali. Dan kini tabrakan maut terjadi dan Ahn baru sadar ia harus menjauhi jalan raya itu ketika kecelakaan terjadi di depan matanya. Bukan dirinya yang tertabrak mobil yang lewat. Bukan dirinya melainkan bayangannya yang selalu menari di depan. Tertabrak duluan. Ia kini sadar bahwa selama ini lampu itu tak pernah hijau, lampu bagi pejalan kaki itu selalu merah. Setidaknya, ia sadar ia pernah diberikan kesempatan untuk merasa aman dan nyaman untuk berjalan ketika lampu sedang merah tanpa harus terluka. Kalau kau mau tau, kini Ahn Youngyi terluka pedih karena bayangannya mengalami kecelakaan hebat dalam batin. Bayangannya kehilangan banyak hal. Kaki untuk melangkah maju menuju rasa bahagia. Tangan untuk meraba sesuatu yang ada di depan. Mata untuk melihat mereka di sekeliling. Hati untuk memandang lurus dalam diam, spesies yang berbeda. Mimpi untuk memulai semua kisah. Kenyataan untuk kembali hidup. Ahn kini tak tau apa perbedaan mimpi dan kenyataan. Ahn kehilangan rasa kecap, kebas. Ahn kehilangan keahlian dalam warna, buta. Ahn takut berjalan karena memang tak dapat berlari pergi. Ahn takut meraba karena tak dapat merasakan benda hidup bernapas. Ahn takut melihat karena mata kini hitam gelap. Ahn takut memandang lurus karena hati kini telah beku. Ahn takut bermimpi karena takut terjatuh dari tempat tidur yang empuk. Ahn takut pada kenyataan karena semua itu hanyalah mimpi yang tak berujung. Ahn sangat takut, terlalu takut. Banyak hal hilang dalam dirinya. Namun satu yang pasti....ia tau kini bagaimana rasanya benar-benar jatuh dan bagaimana rasanya benar-benar terluka karena kecelakaan bayangan diri. Ia tak benci seseorang itu, mana mampu. Mengapa tak kau tabrak bayangannya lebih awal? Mengapa kau menjaganya dari kecelakaan yang harusnya terjadi padanya? Mengapa tak dari awal kau katakan padanya bahwa lampu sedang merah bagi pejalan kaki? Mengapa....? Sehingga Ahn Youngyi tak perlu terlalu sering menari. Sehingga Ahn youngyi tak perlu terlalu senang menari. Sehingga Ahn Youngyi tak perlu terlalu mencintai sebuah tarian. Sehingga Ahn youngyi dapat berperilaku seperti layaknya seorang pejalan kaki.


Terima kasih untuk hari-hari yang kau ciptakan bagiku untuk bermimpi. Mungkin banyak hal yang tak dapat kau percaya dalam hidup ini, tapi percayalah bahwa kau pernah menjadi cinta pertama seseorang. 

Wednesday, April 8, 2015

107 ㅡ ♕ 잘가...

그만 하자 영이야...

다 울면 됐어. 아무 말이 이제 없었다 그 사람 한테....
그냥...

고마워 내 인생이 와주셔서 정말 고마워.
미안해 내가 만약 널 귀찮게 해드려 정말 미안해.
니가 자신 있구나 그래서 나 한테 너의 뒷모습을 보여 주겠다.
괜찮아....조심해 가....난 이제 널 안 기다려...천천히 가.
아프지 마...잘가....안녕...

Youngyi menarik napas panjang sebelum melangkah mundur ke belakang...selangkah mundur. Hari demi hari terhitung tepat, langkah mundur semakin jauh tak tau sekarang sudah jauh disana. Melangkah mundur bukanlah sebuah kekalahan. Melangkah mundur bukanlah sebuah kesalahan. Melangkah mundur selangkah demi selangkah bukanlah sebuah keputusasaan. Melangkah mundur selangkah demi selangkah bukanlah sebuah kebencian. Melangkah mundur adalah sebuah kedewasaan yang kau alami ketika sebuah mimpi tak lagi nyata dan sebuah kenyataan tak lagi akan menjadi mimpi. Kenyataan yang tak dapat kau percaya sebelumnya, cobalah untuk percaya. Terlebih percayalah pada dirimu sendiri karena ketika kau percaya pada dirimu sendiri, tak akan ada langkah mundur yang kecewa. Tak akan ada langkah mundur yang berat kau lewati. Yang ada hanyalah, kebiasaan yang terlalu biasa. Tak akan kau lupa pernah menyayangi sebuah boneka dengan begitu dalam. Tak akan kau lupa karena adalah sebuah kebiasaan bagimu untuk memeluk boneka itu ketika kau sampai di rumah. Kebiasaan yang terlalu biasa. Melangkah mundur bukanlah berhenti memberi melainkan berhenti melangkah maju dan tetap di tempatmu berada. Mengapa? Karena rambu lalu lintas yang terlihat untuk pejalan kaki menunjukkan sebuah tanda merah. Tak tau sampai kapan lampu merah itu ada di sana. Namun, satu yang pasti....ketika kau jadikan hal untuk memberi dan menunjukkan rasa sayangmu itu adalah sebuah kebiasaan...tak masalah lampu merah itu bagimu. Kau memang berhenti berjalan tapi kau tak berhenti memandang...dari kejauhan dari sebrang sana. Diam-diam, tanpa melakukan apapun. Hanya diam tak bergerak maju. Hanya berhenti berusaha melangkah maju dan belajar membaca tanda dari sebuah lampu. Butuh waktu yang lama pastinya untuk belajar pelajaran mengenai rambu lalu lintas itu, namun pelan-pelan dapat kau lakukan. Tak kau paksakan dirimu, hanya jangan melangkah maju ketika lampu sedang merah karena mobil-mobil yang lewat dapat menabrakmu jatuh.

Tuesday, April 7, 2015

106 ㅡ ♕ 비랑 같이 울었다.

오늘 너의 눈이 계속 피했어. 왜? 내가 널 그만 좋아해서 만약 내가 너의 눈이 봤으면 난 널 또 빠져서 겁이나.

힘들어...맨날 맨날 혼자 울어 바보 처럼. 무슨 이유는 모르겠지만. 난 어떻게 하면돼? 난 이제 어떻게 살아...? 이 감정은 어떻게 지워?

날 사랑하면 안되는거야? 왜....? 왜 나 안돼? 널 좋아 하는거 진심이야...정말 진심이야. 진심인데 넌 왜 내 마음이 안보일까? 난 너 한테 다 보여주고 싶어. 노력 했었는데...이게 안되는것 같아서 그만 두고...나는 니 게임은. 미안해...나 먼저 떠났어...난 못참아...너무 아파서 나 먼저 갈께.

"영이야...왜 혼자 울어? 비가 있잖아. 너 비랑 같이 울어도 돼. 그래서 혼자가 아니야...그냥 비랑 같이 울어....그냥 같이...."


Monday, April 6, 2015

105 ㅡ ♕ 나는 안호구다.

너의 어제 메세지를 난 방금 봤어...니가 뭘 보내.
어제는 난 하루종일 너 때문에 핸드폰을 안봤어.
마음이 아파서 그래.





내 생각은 맞았다. 너 나 안 걱정했어. 나 뭘 했는지...누구를 만났는지...어디갔는지...하나도 안 궁금했어...이제 나 알았으면 된다고. 마음이 너무 아파 오늘도 너 때문에 많이 울었어....드라마 때문에 응...너 때문에 아니야. 니가 왜? 난 너 때문에 왜 울어? 니가 뭔데 내 인생이 이렇게 만들고....? 어...? 니가 뭔데?




그래서 나도...이제 하나도 안궁금해...난 널 걱정 안해. 
힘들다. 이 말은 내 입을 또 왔네. 힘이 없어서 학교 다니면 웃음을 못했지만 웃어야지 날 위해서. 말 했잖아...널 위한건 아니야 날 위해서 그래. 니가 이 말은 들었으면 좋겠다...그래서 니가 날 빨리 미워...날 미워도 좋아...그래서 난 진짜 진짜 그만 두고 가. 아무것도 안해. 가만히 있을게. 달려가 아니야. 그냥...가만히 니 옆에 있을게.

Saturday, April 4, 2015

104 ㅡ ♕ 하나만 물어볼게.

오늘도 똑같다.

아무 소식이 없어. 널 아직 기다리고 있어. 바보 같아...




영이야...난 뭐 하나만 물어볼게. 너 언제 지겨워 졌니? 언제 피곤했니? 언제 그만 기다려 졌니? 언제....? 넌 계속 이러면 안돼. 상처를 받을거야. 정신이 들어!! 일어나! 이게 꿈 아니야. 사실이야. 받아...이 사실.

그 남자 널 좋아해....이게 바로 거짓말이야. 꿈인데...일어나. 더이상 너의 꿈은 살지마. 그만해. 괜찮아 그만 사랑하지마. 그만해 영이야....그냥 피곤하다고 말해.




"지친다..."
"피곤하다..."
"마음이 너무 아파서 널 그만 좋아한다고."
"피곤해서 널 그만 달려갈거야."
"난 안괜찮은데 이제 너의 소식이 듣기 싫어."
"난 널 좋아했지만 싫어..."

그냥 그 말은 다 그 사람 한테 말해...영이야. 넌 혼자 못참아. 정말 못해....다....말하면 됐어. 이제 그만 울어...빨리 일어나.

난 널 행복했으면 좋겠다. 행복해라 안영이. 웃러라 안영이. 잘 살아 안영이.