Showing posts with label chaerin. Show all posts
Showing posts with label chaerin. Show all posts

Wednesday, January 1, 2020

312 ㅡ ♕ Biarpun aku dilupakan, dijadikan pilihan kedua, dan dipermainkan oleh semesta.

1 Januari 2020, Kim Yeonji.

Aku mengawali tahun baruku dengan merasakan kekecewaan yang luar biasa. Aku sudah belajar untuk tidak lagi menaruh harapan kepada orang lain di tahun 2019. Tetapi menjelang 2020, aku lagi-lagi terlampau bahagia hingga aku lupa untuk menjaga hatiku. Kini hatiku jatuh lagi. Aku kembali menaruh harap pada sesuatu yang tak pasti. Sesuatu yang membuat aku tertatih lagi untuk kesekian kali. Tidak pernah terpikirkan olehku, bahwa aku bisa sesakit ini lagi.

Kedatangannya yang tiba-tiba membuat aku berpikir ini adalah pertanda kasih. Dia menjadikan aku seorang teman cerita. Dia membuat aku menjadi seseorang yang ceria. Dia membuat aku berpikir aku istimewa. Nyatanya semua hanya pura-pura. Ketulusan hatiku sirna begitu saja, apalagi ketika sekelilingnya bisa membuat dirinya lebih bahagia. Apalah aku ini yang hanya bisa tulus mengucap kata dan memperlakukan dia bak seseorang yang sempurna. Aku bukan siapa-siapa, maka tak pantas aku berharap lebih.

Lagi, lagi. Aku terluka lagi. Menjelang akhir tahun 2019, aku mulai melemah karena satu dan dua hal yang sempat membuatku terkejut. Meski begitu, aku tetap tegar dan berusaha untuk tetap kuat. Tetapi ketika orang yang sempat membuat hatiku remuk kembali memecahkan hatiku yang sudah aku rangkai sedemikian rupa, tangisku pecah dan pertahananku runtuh. Aku yang sudah bangkit, kini berada di titik terendah lagi. Aku terluka, kecewa, dan ingin menyerah, sebab aku mulai rapuh, tidak kuat menerima kesedihan yang datang bertubi-tubi. Oleh karena itu, aku akan menutup segalanya. Lebih baik aku menutup pintu hatiku rapat-rapat hingga tak ada yang berani masuk, bahkan mengetuk sekali pun tak akan aku persilakan. Aku akan mengunci kastil kecilku dengan baik. Aku akan menjaga hatiku dan hanya akan menerima perasaan yang aman. Aku tidak akan terbuai oleh kenyamanan yang fana. Aku tidak akan lagi berusaha untuk mencari dan menerima. Aku hanya akan merangkul diriku sendiri.

Jika kamu mengenal aku lebih dalam, kamu akan tahu seberapa aku selalu memberikan yang terbaik. Aku tidak ingin menganggap diriku adalah orang yang baik, tetapi aku berani menjamin bahwa aku selalu tulus, karena aku percaya, apabila aku tulus kepada orang lain, maka orang lain pun akan memperlakukan aku dengan tulus juga. Apakah karena aku terlalu tulus, mereka yang ada di sekelilingku menganggapku mudah dan lemah? Mereka berulang kali membuat aku merasa hancur sehancur-hancurnya. Mereka yang tidak pernah aku bayangkan bisa memperlakukan aku dengan rendah, ternyata memendam perasaan ingin menghancurkan diriku. Jujur saja, inilah alasan mengapa aku tidak berniat berjalan keluar kediamanku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya berusaha mencintai orang-orang terdekatku dengan sepenuh hati, tetapi mereka selalu melupakan aku... menganggap aku tidak pernah ada. Mereka hanya mengingat dan membutuhkan aku di saat mereka dalam kesusahan, tetapi di saat mereka bahagia, aku tidak pernah ada di sana. Bukan masalah, sebab hatiku sudah penuh, apabila mereka bahagia.

Aku tidak kecewa pada diriku dan hidupku. Aku sudah banyak belajar tentang kehidupan, sehingga aku bisa memunculkan perasaan bangga pada prinsip dan pilihan hidupku. Aku hanya kecewa pada perlakuan mereka kepadaku. Secara sengaja maupun tidak, aku tidak tahu dan tidak ingin peduli. Aku hanya khawatir, jikalau suatu hari mereka diperlakukan sama seperti bagaimana mereka memperlakukan aku, apakah mereka sanggup? Aku rasa mereka akan lebih terpuruk dariku. Mereka akan meronta-ronta, mempertanyakan kesalahan apa yang mereka perbuat kepada Tuhan. Aku tidak akan seperti itu, karena aku tahu Tuhan sayang padaku. Maka dari itu, aku diperkenalkan dengan begitu banyak perasaan yang tidak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya bisa terjadi padaku.

Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena sudah membuat aku memulai tahun dengan kecewa. Aku jadi bisa mempersiapkan diriku lebih baik lagi untuk menjadi seseorang yang lebih kuat dari sebelumnya. Perasaan dilupakan dan dianggap tidak ada memang adalah satu hal yang sangat menyakitkan, tetapi aku tidak akan memperlakukan mereka sama seperti apa yang sudah mereka lakukan padaku. Aku akan tetap berbagi kasih kepada siapa saja yang aku temui. Aku akan berbesar hati dan tetap belajar untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Aku tidak akan pernah berhenti untuk belajar di kehidupan ini. Setiap harinya aku akan terus berkembang karena aku tidak pernah takut dipermainkan oleh semesta, sebab aku percaya hatiku akan semakin kuat dan aku bisa mendapatkan apa yang sudah aku tanam selama hidupku. Jadi, aku hanya berharap aku tidak menyerah di tengah jalan. Tahun 2020 baru saja dimulai, biarlah kesedihan dan kekecewaan ini berakhir sampai di sini. Kuatkan aku dan bantu aku agar aku bisa tetap menjadi diriku yang tulus, bahagia apabila orang lain bahagia, dan bersyukur setiap harinya. Biarpun aku dilupakan, dianggap tidak ada, dijadikan pilihan kedua, dan dipermainkan oleh semesta, aku akan tetap bersyukur dan berjuang agar aku bisa menjadi seseorang yang lebih bahagia lagi.

Terima kasih sudah menjadi kuat. Tetap jadi dirimu yang tulus. Jangan pernah berubah hanya karena sekelilingmu meminta kamu untuk meredupkan cahayamu. Tetap pancarkan cahaya kasihmu dengan tulus. Kamu adalah seseorang yang penuh. Kamu dipenuhi cinta. Jangan lupa bahagia.











Sunday, March 15, 2015

88 ㅡ ♕ Mata Sembab Tanpa Sebab

Detik demi detik berdenting bagai dentingan piano yang lembut namun menggebu-gebu. Tanpa kau sadari, lembaran kertas tak selalu putih. Jam demi jam berlalu bagai kelinci yang cepat meninggalkan kura-kura di belakang. Tanpa sepengetahuan mu, kura-kura telah sampai di garis finish. Waktu demi waktu melangkah jauh darimu. Tanpa kau percaya bahwa waktu dapat menentukan akhir, semuanya hampir berhenti.

Seseorang berkata hari ini, "Jangan membuat kesimpulan sendiri." Bukan aku. Bukan aku yang membuat kutipan itu. Seseorang yang peduli menyampaikan, Lee Chaerin. Seseorang yang menyemangati. Seseorang yang tak mau ada kesakitan terjadi pada orang lain. Ia peduli.

Tak apa. Masuk ke kamarmu. Kunci pintunya. Dan tidurlah...kau mungkin lelah hari ini. Lelah meneteskan air mata tanpa alasan. Mata sembab tanpa sebab. Bodohnya dirimu. Tapi, apa boleh buat. Semua ternyata karena manusia punya hati. Begitu juga denganmu. Kau punya hati yang sedih. Kau punya hati yang menangis. Kau punya hati yang terluka. Kau manusia bodoh. Tetesan air mata penuh arti menetes satu per satu, tak deras namun melaju lurus melewati jalan berliku dalam hati

Kenangan masa lalu dapat menghantui jiwa. Kejadian masa lalu dapat mengingatkan hari akan waktu yang lelah berlari. Orang-orang masa lalu dapat membuat hati goyah. Kau hanya bisa menatap layar kaca kecilmu dengan perasaan gundah. Apa yang kau takutkan? tak akan terjadi apapun, kata orang itu. Apa yang kau tangisi? tak akan terjadi apapun, kata orang-orang itu. Apa yang kau pikirkan? tak usah dipikirkan, kata orang-orang dan orang itu. Kau terlalu banyak pikiran. Kau terlalu berpikir jauh. Benarkah? Aku tau, kau takut menatap hari esok. Tunggu dulu, bukannya selalu seperti ini? Memang tak pernah ada kabar. Memang tak pernah bercakap. Memang tak pernah tertawa bersama. Memang tak pernah dekat. so close yet so far....as always. Sudahlah. Jangan kau pikirkan. Sudahlah. Keluarkan semua. Sudahlah. Tangisan berhenti. Tidurlah. Tidur yang nyaman malam ini. Kau harus yakin bahwa someday you can be loved by someone...someday. Good night, Love!



*****************

Oh Ri On: "Get up! How long are you going to stay holed up in the corner of your room?"
Oh Ri Jin: "Just please leave me alone..."
Oh Ri On: "How long do i have to leave you alone? Until you die?!"
Oh Ri Jin: "I beg you to let me go!"
Oh Ri On:

If you're the one hurting, is that it?
Then what about us?
What do i say to Mom who cooks all day for you? 
"She said she'll have a hard time by herself. Act like you don't know." Should i say that?
What should i say to our Father who sobs in secret because his heart is so torn up because of you?
"She said she'll be in pain by herself. Ignore her." Should i say that?
Why do you have to make it that we can't help you? Why?!
Who do you think you are?!
I understand. You work this out yourself.
I don't like a sister who just cries. I like a vigorous sister.
If you're not going to be one, then you're not my sister.

Oh Ri Jin: "Don't be like this...I rely on you so much. I became so strong because of you. I'm not scared of anything when i think of the fact that you've got my back. I was wrong. I won't be like that. So...don't say that you won't be my brother. Ever since i was young, those were the words i was most afraid of."


Oh Ri On: "Are you going to eat then?"

Oh Ri Jin: "Yes..."
Oh Ri On: "Are you going to say that you're hurt when you're hurting?"
Oh Ri Jin: "Yes..."
Oh Ri On: "Are you going to say that you're tired when you're tired?"
Oh Ri Jin: "Yes..."
Oh Ri On: "Then after eating, are you going to take Ri Na out for a walk with me?"
Oh Ri Jin: "Yes..."
Oh Ri On: "That's enough. Follow me then."

*****************

Oh Ri Jin: "Hey, Brother."
Oh Ri On: "Why, Sister?"
Oh Ri Jin: "You know that i'm really thankful to you, right?"
Oh Ri On: "I'm not so sure."
Oh Ri Jin: "The love that you were supposed to receive alone from our parents, thanks for sharing it with me.  Thankyou for becoming my family. And thanks for being a reliable brother."
Oh Ri On: "Hey, give me the planer (for smoothing wood). I need it to push the goosebumps out of me."
Oh Ri Jin: "I love you a lot, Oh Ri On. You know that, right?"
Oh Ri On: "Yeah...thanks for loving me."

*****************


Monday, March 9, 2015

83 ㅡ ♕ Satu-satunya...


When I try to write a poem,
I can only write your name


"Oh, ternyata kau dengannya? Aku mendukungmu."
"Aku sangat mendukungmu."
"Berjuang ya...sedikit lagi." 
"Senang sekali apabila kau jadi dengannya, kita bisa duduk-duduk bersama." 
"Apalagi you're a good drinker."
"Kemarin aku melihat kau sangat menjaganya, ia pun merasakan hal itu."



It might hurt and be hard
But I promise to protect you


Youngyi mengirimkannya sebuah pesan dalam gambar yang memang sudah biasa dikirimkannya. Biasanya, ia hanya mendapat balasan satu atau dua kata saja. Mungkin ia sedang sibuk dengan teman-temannya. Tak apa. Aku mengerti. Kalimat tersebut telah menjadi lagu sehari-hari yang Youngyi dengar. Namun, hari ini sedikit berbeda. 

"Kau disana? Apa yang kau lakukan disana?" Pertanyaan yang cukup panjang.
"Kau tak ikut gunting rambut bersama unnie-mu?" Cukup aneh.
"Itu pasti milik appa-mu kan?" Tak seperti biasanya. 

Hari ini ia banyak bertanya. 




When I look into your eyes, my trembling heart flutters
When I look at you, I feel like the world has stopped

Senyuman Youngyi menghiasi wajahnya yang tak selalu tersenyum itu dan hari ini, ia banyak tertawa. Terima kasih pada sahabat, Bom dan Chaerin. Begitu banyak hal yang dapat ia tertawakan hari ini, termasuk hati kecilnya ikut bahagia bersama. Tak boleh, memang tak boleh bahagia sekarang. Tetapi, tak apa mensyukuri apa yang terjadi dan tersenyum menyikapinya bukan? Tak boleh, memang tak boleh berharap kembali. Tetapi, tak apa membayangkannya ia ada bersama cinta bukan? 




Just like how winter passes and spring comes
I believe you will come to me as well

***************************************

Oh Ri Jin: "Then...what is your name? What is...your name?"
Cha Do Hyun: "I, the one with this face and this gaze, am Cha Do Hyun."

***************************************

Oh Ri Jin:
Are you watching, Cha Do Hyun?
Are you listening, Cha Do Hyun?
You were going to eat medicine again, weren't you?
You're caught red-handed. Don't even think about lying.
The fact that you're watching this video right now means that you're having a hard time again 
and is about to rely on medicine.
I'm not saying that medicine is bad.
You said so yourself.
Whatever it is, you want to overcome it with me.
That you wanted to erase the bad memories with good memories with me.
So what is my point?
I'm saying, today let's go ride the snowflake train and make a lot of good memories.
So that you can get rid of all the medicine in your drawer,
and completely fill it with good memories instead.
Are you ready? I'm ready!

Ah, and i have something to confess.
Uh...me not being able to confess to you all that time 
was because i was being conscious of my duty as a doctor and professional.
Don't be surprised by this either!

Cha Do Hyun: I won't...
Oh Ri Jin:
Don't!
I like you.
I...
really...
like you a lot, Cha Do Hyun.





My one and only person
My treasure-like person who is like a dream
My first person who blossoms like a flower
Just looking at you makes me tear


Cigarettes. Smoke. Wine. Beer. 
I'm not saying those are bad medicine for your life. 
You're always lying to me. 
I know...
You did say that you want to stop.
But, you never say that you want to overcome it with me. 
You never say that you want to erase the bad memories with good memories with me.
So what is my point? 
Whatever it is, i have something to confess...
Uh...me not being able to confess to you all that time 
was because i was being happy in my comfort zone, seeing your smile from a far.
Don't be surprised by this either!


I'm attracted.




I only have you
I’ll be okay if only I have you
My first person, the only one in my life
Just looking at you makes me tear





kill me heal me, 17.


Saturday, March 7, 2015

81 ㅡ ♕ Pipimu merah sekali.

"Jangan lupa datang nanti malam, Youngyi-ah" Bongsoo menepuk pundak Youngyi sambil bercanda. "Usahakan oke?" 
"Baiklah, akan aku usahakan."

Youngyi POV
Aku takut untuk pergi pada awalnya. Aku sangat takut ketika kau mulai berbohong bahwa kau tak datang ke tempat itu. Kau bilang bahwa kau akan datang ketika ada waktu. Ya, baiklah aku mengerti. Aku hanya dapat mengatakan hal itu. Namun dalam hati kau harus tau bahwa aku sangat mengharapkan untuk bertemu denganmu disana. Bercakap-cakap denganmu. Bersenda gurau denganmu. Menunjukkan rasa peduli ku padamu. Menunjukkan rasa perhatian ku padamu. Itu semua adalah bentuk rasa sayangku padamu. 

21:15
Aku sampai bersama dengan dua sahabat karib yang menghiasi hari-hari sekolah menengahku. Dengan perasaan sedikit takut, perasaan tak enak...kami melangkah masuk ke dalam ruangan berasap penuh kata kasar. Aku segera mencari sesosok yang kukenal, pastinya dia. Mataku tertuju padanya dan tak lepas duduk tepat di sebelahnya. Teman-teman yang ada disana menyediakan sebuah tempat duduk tepat di sebelahnya. Aku sangat bahagia. Aku meneguk beberapa gelas minuman pahit penuh es batu. Berbincang-bincang dengannya yang setengah pusing. Bercanda dengannya yang sedang aneh. Menepuk tangannya yang jahil ingin mengambil sebuah kotak dengan cover yang mengerikan. 

"Tidak, jangan! Pipimu sudah cukup merah. Aku tak mau melihatmu seperti itu. Jadi hentikan!" Aku hanya bisa tersenyum semanis mungkin untuk membuatnya jatuh hati padahal sudah jelas tak akan terjadi hal seperti itu.

"Hehehe..." Seseorang itu hanya terkekeh memandangku lekat. "Oke?" Aku memantapkan kalimatku. Namun, tidak ada jawaban darinya. Ia hanya tersenyum dan tertawa sendiri, tanda ia telah terbang ke langit ke tujuh.

22:45
Aku berjalan menuju lift dengan Hyorin dan Bora. Kami berbincang-bincang mengenai sesuatu dan segera naik mobil, pulang bersama dengan Hyorin sang suara emas. Jemariku menggelitik handphone, "Tolong jaga dia. Aku khawatir."

Aku takut ia pergi.
Aku takut ia melihat yang lain.
Aku takut ia mulai melihat seseorang selalu ada di sisinya.
Aku takut ia tak membutuhkan aku karena aku tak ada untuknya.
Aku takut ia mulai melihat seseorang yang lain dan bukan aku... 


08:49
Chaerin dan Bom menghiasi layar handphone ku.
"Maafkan aku...aku tak mampu menjaganya. Perempuan itu sangat dekat dengannya. Aku sangat pusing semalam." 
"Maafkan aku...aku tak mampu menjaganya. Aku pun harus dijaga disana. Aku sangat pusing semalam. Perempuan itu sangat menempel dengannya. Tapi, aku punya sesuatu untukmu. Ia tak suka dengan perempuan itu, fake drunk he said. Aku bertanya padanya, yang mana yang tak kau suka? Ia menjawab yang ini ia tak suka, yang itu ia tak tau."

aku mengerti


Saturday, October 18, 2014

23 ㅡ ♕ Moving Out

Hello! Today sucks. My mood changed like crazy. Even though we didn't really study today cause we had like education fair at school. Yup......there's this thing that i cannot forget. I keep thinking about it over and over again. No regret. No feelings of guilt. No hate. Indeed. But i don't know. There's like a missing piece in my puzzle.

Joohee walked through the hall with Chaerin and Bom, chit chatting about people. They entered the hall and started to look around. There, "야, 나 먼저 간다. 켄이가 왔어" she smiled brightly at us. "어 가~" we smiled back at her, thinking that she was so happy to be with him. "주희야......나도 먼저 간다." Joohee was a bit shocked that she would be left all alone there in a big hall. "다들 왔어서 그래. 날 따라와 그럼." She asked at Joohee. Immediately Joohee shook her head, "아니야, 난 괜찮아." Joohee left. She walked all alone, thinking what's the problem of being alone. Everything was fine. Then, Joohee found Taeyeon and Sangjin, "야!!!!" She rushed to approach them.

Maybe he doesn't know about this because she has her lips locked with password even some people ever tried to unlock it. She doesn't know how to express her feelings, that's her problem. February's diary still locked in her little box named heart. It was summer. It was so hot yet soooooo warm. It was amazing how she could be loved. It was new yet so crazy. She was the ugly duckling who was left behind by all her friends and all she knew was only studying till she die. She was a nerdy and only had one friend. She even never talked to him. Almost never. She was so glad. She was so happy. Everyone loves to be loved, so do her. At the moment she got a message from him, she jumped like a kid. It was spring. The spring season which was so warm hugging her tight. She felt fine with him. But both of them were so quiet to each other. It was autumn when they got the break problem. She wanted to make it right. She wanted both of them to be more mature at first. She wanted to make them better but maybe because of her problem...he accepted it as a demand about him to change. Her problem...her "cannot express her feelings" was a serious problem in that season. Clock ticked, time fly, day by day running like crazy...they already met another February moment. One year close. Both of them felt the click. One week before her best day, she got surprised by him. "난 널 좋아해" he said, he wrote everything on a book about what he felt for all the time. "우리 연애하자!" She smiled, nodding and "응." That was so awkward. It was the best day out of the best best day. She got him, he got her. 행복해. They even had their first hug there at the beach. But things never worked well for them, they kept being childish and at the end....they broke everything. The broken smile people. It was so snowy that time. That was the coldest winter ever for her. She didn't know if she was okay or not. But she just could show everyone her okay side because she seriously had so many things to think about....that time.

And guess what, that winter is never end till now. They meet their end. This is an end for them. For them. End. That winter. This winter. Forever winter.

They run on the different race. They turn at the different direction. They walk on the different path. They have different way to talk to each other. Silence, that's it. They're slowly but sure moving out from each other's heart. They talk in the silence. One here, one there. One away, one here. One there, one away. One sad, both of them sad. Or not :-) One day, one wanted to rebuild the broken smile with a smile. It healed. But one day, someone smiled more beautiful than her then the broken smile back. It deleted the feelings of how it healed before. It went away. It disappeared. Well. It was okay. She way okay with it. As long as she had tried to be good. She felt relieved. No problem. Take everything you want from me. Treat me whatever you want. Make me feel alone like no one is gonna be by my side. Make it happen. Hate me...Tell people all you want. Like you used to be. Good bye. :-(:-)

"나 먼저 간다, 안녕...."