Showing posts with label chicken soup for the soul. Show all posts
Showing posts with label chicken soup for the soul. Show all posts

Thursday, July 5, 2018

249 ㅡ ♕ Kita tidak selalu dapat mengandalkan kesan pertama.

Tertantang
Toni-Michelle Nell
1

✦ Kang Shinwoo x Han Jisoo ✦

Kita tidak mencintai seseorang karena rupanya, pakaiannya, atau mobilnya yang keren, tetapi karena mereka menyanyikan lagu yang hanya kita yang bisa mendengarnya.
— Sumber tidak diketahui 

Aku wanita berusia 26 tahun, lajang, dan baru saja membeli rumah pertamaku. Rumah ini adalah pembelianku yang pertama sebagai orang dewasa. Setelah menandatangani dokumen terakhir, kuputuskan untuk mampir ke beberapa rumah teman sebelum pulang untuk berkemas.

Temanku yang satu ini bukan tipe orang yang formal, jadi ketika tiba di rumahnya, aku langsung saja masuk. Ketika sampai di sudut ruang tamunya, aku sedikit kaget ketika melihat seorang lelaki yang belum pernah kutemui sedang duduk di sofa. 

Ketika dikenalkan kepada laki-laki itu, Kang Shinwoo, aku tak bisa tidak memperhatikan betapa norak caranya berpakaian. Aku memang jauh dari modis, tetapi aku terpaksa bertanya-tanya apa yang dipikirkannya ketika keluar dari rumah pagi itu.

Setelah kami duduk di ruang tamu, mengobrol dengan asyik, kuperhatikan Shinwoo tidak banyak bicara. Ibuku selalu mengajariku bahwa orang-orang yang mendominasi pembicaraan bukan saja tidak sopan, tetapi kurang ajar. Jadi, aku selalu berusaha melibatkannya ke dalam obrolanku dan temanku. Apa pun yang kukatakan kepadanya, yang kudapat hanyalah jawaban terbata-bata dan patah-patah.

Setelah beberapa jam, aku pun pulang. Banyak sekali yang harus kubereskan dan hari kepindahanku tak terasa sebentar lagi tiba. 

Beberapa hari kemudian, aku pergi membeli tirai jendela untuk rumah baruku. Sesampainya di sana, aku baru sadar bahwa obeng yang kumiliki tidak akan bisa kugunakan untuk memasangnya. Jadi, pergilah aku ke rumah temanku itu kalau-kalau dia memiliki obeng atau bor yang dapat kupinjam dari suaminya. Sesampainya di rumah temanku, dia mengatakan tak keberatan meminjamkan bor, tetapi suaminya belum pulang ke rumah usai bekerja, dan dia tak tahu tempat suaminya menyimpan peralatan yang aku butuhkan itu.

Setelah terdiam sejenak, dia mengatakan Shinwoo sedang ada di ruangan lain, dan dia akan menanyakan apakah Shinwoo memiliki bor atau tidak. Beberapa saat kemudian, Shinwoo pun muncul. Kali ini masalah bicaranya jauh lebih buruk daripada terakhir kali kami bertemu. Aku tidak bisa berbuat lain kecuali memperhatikan bahwa dia lagi-lagi punya selera berpakaian yang benar-benar payah. Perlahan-lahan dia menyampaikan bahwa dia bukan hanya memiliki bor tanpa kabel, tetapi dia juga akan ikut denganku untuk membantuku memasang tirai itu... dan dialah yang akan menyetir.

Perutku mendadak mulas, aku tidak tahu harus mengatakan apa. 
Dapatkah dia melakukan pekerjaan itu? 
Bisakah dia menyetir? 
Haruskah aku mempercayainya? 
Lagi pula, dia benar-benar orang asing bagiku.

Aku menarik napas panjang dan mengiyakan. Aku tahu bila temanku bisa menyetujui, artinya lelaki ini pastilah mampu melakukannya. Kalau tidak, tentu temanku itu sudah memberitahuku. Sambil mengharapkan yang terbaik, aku pun naik ke mobil, duduk di sisi penumpang, dan kami berangkat menempuh perjalanan pendek menuju ke rumah baruku.

Setelah kami sampai, Shinwoo menarik sebuah peti perkakas dari dalam mobil dan mengikutiku masuk ke dalam. Aku harus mengatakan bahwa aku agak terkesan. Sebelum memasang masing-masing tirai itu, dia mengukur dan memberi tanda dengan sangat hati-hati agar tidak menggores jendela-jendela baruku yang indah.

Ketika dia berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya, aku mengikutinya dari belakang. Ketika itu aku sudah percaya penuh pada kemampuan kerjanya. Shinwoo bicara dengan jelas bila dia sedang membelakangiku. Hanya dalam percakapan sambil bertatap muka saja bicaranya jadi sulit dipahami.

Di jendela terakhir, dengan membelakangiku, dia mengatakan bahwa teman kami itu akan ada acara di luar pada hari Jumat. Dia bertanya apakah aku mau ikut serta. Tanpa ragu sedikit pun, aku mengiyakan. Aku sendiri terkejut, karena aku belum pernah melakukan itu sebelumnya.

Aku sama sekali tak pernah menyangka, meski jutaan tahun pun, bahwa Shinwoo akan menjadi kekasihku ketika pertama kali berjumpa dengannya. Beberapa bulan setelah kami menjalin kasih, aku membuat pengakuan kepada Shinwoo soal kesan pertamaku tentang dia. Shinwoo tertawa dan katanya dia jadi terbata-bata dan gagap hanya bila dia memandangku karena dia merasa aku adalah perempuan paling cantik yang pernah dilihatnya. Hatiku pun kembali... menghangat.

Kamu mungkin bertanya-tanya... bagaimana soal seleranya memilih pakaian? Ternyata, dia berpakaian seperti itu untuk menarik perhatianku.

Kukira kisahku ini bisa dijadikan contoh bahwa kita tidak selalu dapat mengandalkan kesan pertama. Andai saja saat itu aku mengandalkan kesan pertamaku, aku pasti sudah kehilangan kesempatan menjalin kasih selama delapan tahun dengan lelaki paling keren di planet ini.

Orang yang bahagia bukanlah yang berada dalam kondisi-kondisi tertentu, melainkan orang yang memiliki sikap tertentu.
— Hugh Downs



Tuesday, July 3, 2018

248 ㅡ ♕ Tak ada yang namanya kebetulan.

Kencan Petualangan Online x Perubahan Alamat
Laurel Hausman x Anji Limon Taylor
13 x 25

Kang Shinwoo x Han Jisoo

Tak ada yang namanya kebetulan; dan apa yang keliatan sebagai suatu kebetulan muncul dari suatu sumber takdir yang lebih mendalam.
— Johann Friedrich Von Schiller

Setelah terus-menerus “menjomblo” dan tak pernah kencan dengan siapa pun selama beberapa waktu, dengan pengecualian satu kali bencana, kuputuskan bahwa pernikahan bukanlah takdirku. Ketika menyetir pulang ke rumah dari tempat kerja di suatu malam, tiba-tiba aku menyadari sedang menatap sekilas ke langit lewat jendela depan dan berbicara kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak akan menikah.”

“Aku tidak sedang ingin bertemu seseorang. Aku sudah punya kehidupan yang menyenangkan. Seorang laki-laki hanya akan membuat hidup menjadi kacau. Lagi pula, kalaulah Tuhan menghendaki aku menikah, tidakkah menurutmu Tuhan lah yang akan membawakanku seseorang yang tepat pada waktunya?”

Temanku terlihat skeptis ketika memandangku lewat asap yang menguap dari cangkir cappucino kami. “Apakah tak pernah terpikirkan olehmu, bahwa Tuhan menghendaki kaulah yang mencari? Memang, kau sudah punya karier mengajar, rumah sendiri, seekor anjing Baegle, dan kemandirianmu, mungkin hubungan yang indah akan memperkaya hidupmu yang sudah nyaman.”

Aku menyimpan pernyataan itu di sudut kepalaku. Minggu-minggu berikutnya kadang-kadang kukeluarkan dan kukaji lagi, dan berdoa untuk itu, dan pernyataan itu pun kembali ke tempat persembunyiannya. Suatu hari, di tengah ritual mengeluarkan pernyataan itu, kuperhatikan bahwa kata-kata temanku itu semakin membesar. Dengan mengakar, pernyataan itu sudah menyebar seperti tanaman rambat, dan dalam cerita Alkitab tentang Ibrahim, yang mengutus pembantunya mencarikan istri untuk anak lelakinya, Ishak. Ibrahim tidak hanya duduk-duduk saja dan menggoyangkan-goyangkan ibu jari, menantikan perempuan muda mengetuk pintu kemahnya. Rencana melibatkan tindakan yang direncanakan.

“Baiklah, Tuhan,” pintaku. “Jika Engkau menginginkan aku mencari pasangan, lalu tunjukkan kepadaku bagaimana aku harus memulai pencarian, karena kukira bar, nightclub, dan di bawah batu bukanlah tempat yang Engkau kehendaki.”

Kembali ke tahun 1970. Aku berusia enam belas tahun dan sama sekali tak paham perihal kencan. Satu-satunya nasihat yang dibekalkan ibuku tentang anak laki-laki adalah, “Jangan pernah menelepon anak laki-laki duluan! Nanti kau dikira perempuan gampangan.”

Gampang dalam hal apa?
Dalam memecahkan soal matematika?

Aku menyimak nasihat ibuku, meski tak setuju. Ini kan zaman modern. Ibuku boleh saja sudah menasihatiku agar aku tidak menelepon laki-laki, tetapi dia kan tidak pernah menyebut perihal e-mail.

Suatu malam, aku mendapatkan e-mail dari seseorang yang bernama Kang Shinwoo. Dia bertanya apakah aku sudah menikah dan punya anak. Aku mulai mengetik jawaban, “Aku sedang kuliah menjadi seorang pendeta berijazah, yang kutekuni dengan sungguh-sungguh. Jadi, bila kiriman e-mail ini kurang pantas, aku akan menegurmu! Aku bukanlah perempuan yang sedang putus asa.” Keyboard komputerku benar-benar piawai! Teleponku lalu berdering.

“Halo, Han Jisoo. Ini Kang Shinwoo. Aku baru saja mengirimimu e-mail, tetapi aku sudah tidak sabar dan lebih baik telepon saja. Aku tahu kau dekat dengan Tuhan. Itulah sebabnya aku ingin bicara denganmu.” Aku tak bisa membayangkan apa yang ingin diobrolkan lelaki ini. Jadi, aku pun bersikap melindungi diri dan siap-siap menutup telepon, kalau itu memang diperlukan. Dia pun mulai bicara. “Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya, jadi aku akan berbicara apa adanya saja. Aku melihat website-mu tadi malam, dan setelah membaca biografimu, aku yakin kaulah perempuan yang telah lama kudambakan dalam doaku.” Shinwoo lalu bicara dalam bahasa yang dia yakin kupahami, yaitu ayat-ayat dalam Alkitab. “Jangan membatasi Tuhan, Jisoo. Karena, bersama Tuhan tidak ada yang mustahil.”

Kata-kata itu langsung menghangatkan hatiku, dan meski perasaanku tentang pernikahan masih sama, aku mau mendengarkan semua yang dia katakan.

Pada tanggal 28 April 2007, kami berjumpa langsung ditemani kopi latte. Kami sama sekali tak kesulitan menandai masing-masing, karena sama-sama memajang foto kami yang terakhir. Kami mengobrol berjam-jam dan sepakat untuk bertemu lagi, dan lagi, dan lagi. Perlahan-lahan kami saling mengenal sebagai teman. Aku terkesan oleh budi baiknya, rasa hormatnya kepadaku, dan kenyataan bahwa dia menyukai anjing-anjingku. Kami memiliki banyak sekali kesamaan, namun dengan senang hati menerima perbedaan di antara kami masing-masing.

Setelah beberapa kali mengobrol dengan Shinwoo, aku dan dia memutuskan untuk mencoba menjalin hubungan jarak jauh. Karena jarak, dia banyak sekali memanfaatkan celah dan bertemu dengan orang-orang yang peduli dengan keadaanku. Kami semua perlu memastikan dialah lelaki yang diakuinya. Semua ini terjadi karena kami memilih untuk keluar dari segala sesuatu yang sudah biasa dan menjadi tradisi, untuk mempercayai Tuhan, dan mengambil risiko untuk mengenal lebih jauh perihal kencan online.

Kita mencintai bukan dengan menemukan orang yang sempurna, tetapi melihat ketidaksempurnaan dengan sempurna.
— Sam Keen






Thursday, May 17, 2018

244 ㅡ ♕ Setelah Beberapa Lama.

Setelah beberapa lama, kau akan mengerti perbedaan tipis antara menggandeng tangan dan membelenggu jiwa,

Dan kau akan mengerti bahwa cinta bukan berarti bersandar dan teman bukan berarti aman,
Dan kau mulai mengerti bahwa ciuman bukanlah kontrak dan hadiah bukanlah janji,
Dan kau mulai menerima kekalahanmu sambil mengangkat kepala dan membuka mata, dengan kelapangan dada seorang dewasa, bukan kesedihan seorang anak,
Dan kau belajar membangun semua jalanmu hari ini karena tanah hari esok sangat tak pasti, sulit direncanakan.

Setelah beberapa lama kau mengerti bahwa sinar mentari pun akan membakarmu kalau berlebihan.

Jadi, tanamilah kebunmu dan hiasilah jiwamu, jangan menunggu orang lain membawa bunga untukmu.

Dan kau mengerti bahwa kau bisa bertahan...
Bahwa kau sebenarnya kuat,
Dan kau sebenarnya berharga.

Saturday, March 14, 2015

87 ㅡ ♕ Youngyi-ah, bolehkah aku bertanya?

Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu...
Youngyi-ah...
Bolehkah aku bertanya...
Sedikit saja...


Makin tekun kau mendengarkan suara di dalam hati, 
makin terampil kau mendengar suara-suara di luar dirimu.
- Dag Hammerskjold

Kau tak pernah mengenalnya dalam. Memang...ketika ia baik padamu rasanya begitu indah. Memang...ketika ia peduli padamu rasanya begitu tak tertahankan. Meskipun ia sebenarnya tak pernah melakukan itu. Meskipun itu semua hanyalah pikiran mu yg selalu ingin kau buat terjadi dalam hidupmu. Kau tak tau bagaimana rasanya menyayangi seseorang. Kau tak tau bagaimana harus peduli pada seseorang. Kau tak tau bagaimana harus memperlakukan seseorang. Kau tak tau bagaimana harus menanggapi semua itu. Apakah kau takut? Kau begitu takut sampai-sampai kau lupa akan semua yang dulu pernah kau lakukan. Apakah kau tak ingat? Ingatkah kau, Youngyi...dulu kau pernah mencoba. Dulu kau pernah berusaha. Dulu kau pernah menyayangi. Lalu...Mengapa sekarang semuanya sirna dari hidupmu? Ketika ia marah, kau tak tau harus berkata apa. Ketika ia sedih, kau bingung kapan waktu yang tepat untuk merangkul. Ketika ia bahagia, kau selalu bertanya kapan kau bisa tertawa bersamanya. Apakah perasaan ini? Ini aneh. Memang aneh dan kau mulai mempertanyakan sesuatu. Benarkah ia peduli padamu? Aku tak tau tentang itu. careless...super careless. Bagaimana kalau kau pun tak peduli juga? Kau bisa. Kau mampu. Aku tau. Benarkah ia melihatmu sebagai seorang perempuan? Ya, tentu saja. Teman perempuan. Nothing more and nothing less...that's it. Bagaimana kalau kau pun juga menganggapnya hanya sebagai teman laki-laki? Aku tau kau memang menganggapnya sebagai teman laki-laki. Hanya teman laki-laki karena sama seperti dulu...kau tak pernah mengenal seseorang dengan dalam. Sedang berbohong kah kau saat ini? No, i'm not lying. Kau memang menganggapnya hanya sebagai salah satu teman laki-laki mu. Mengapa? Karena kau begitu takut mengenalnya. Karena kau begitu takut tak bisa lepas. Karena kau tak tau harus melakukan apa. Karena kau sangat bingung, Karena begitu banyaknya pertanyaan yang memenuhi hari-hari tanpa suara. Ya, i know. Kau memang pernah berbohong tentang ekspektasi. Tetapi kali ini, Mungkinkah ini kejujuran? Aku pernah melihatmu terpaku menatapnya kosong tanpa memandang masa depan. Kau terpaku. Kau terlihat bingung. Kau terlihat bodoh...maafkan aku. Lalu...Benarkah ia menyadari keberadaanmu?...ia sadar. Namun, hanya sebatas itu. Benarkah ia mengkhawatirkan mu? Ketika kau harus berjalan cukup jauh menuju tempat dimana kau harus berjalan, ia hanya menoleh dan melambaikan tangan tanpa ada sedikit kekhawatiran akan perjalanan jauh yang harus kau lalui. "Hati-hati ya..." Is it hurt to even just saying something short like that? Tak pernah sepatah kata pertanyaan, "Sudah sampaikah kau?" Tak pernah ada kata-kata terucap. Kau tak kecewa, aku tau. Kau selalu berkata pada dirimu, kau selalu menghipnotis dirimu untuk tetap sendiri melakukan semua itu. "Aku memang selalu seperti ini bukan? So what's new? Memang tidak pernah ada yang menemaniku, rela berkorban demi diriku dan berada di sisi ku...It's okay...Aku, sudah terbiasa." Kau hanya bisa tersenyum memandang langkahmu menjauh dan menjauh dari tempat dimana ia berada. Kau bukan siapa-siapa. Kau hanya teman perempuan. Benarkah ia menyimpan perasaan? Kau benar-benar tak tau. Ini jujur. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tak asing namun kau tau jawabannya bermakna tak asing bagimu. Well...kau memang dekat dengannya. But...so close yet so far. Kau tak pernah menyentuh sesuatu di dalam dadanya yang dingin. Kau harus menunggu, menunggu dan menunggu jawaban yang tak asing itu terucap dari bibirnya. Kau bingung. Kau takut. Dua hal itu selalu terngiang-ngiang dalam benakmu bukan? Ya memang. Setiap kali mereka berbicara tentangmu dengannya...kau merasakan sesuatu yang salah dalam dirimu. Kau ingin tau bagaimana ia menanggapi itu. Namun, sayangnya...kau tak pernah melihat apapun. Adakah keinginanmu untuk menemui jawaban itu? Ya. Kau sudah siap. Kau tak mau menunggu suatu pertanyaan terjawab yang mana jawaban itu tak asing di telingamu. Kau ingin tau. Kau harus tau...sehingga kau bisa dewasa menerima kenyataan. Yang terpenting, sehingga kau bisa menatap matanya kembali seperti dulu. Lalu, kau dapat mulai bercakap, tersenyum dan tertawa bersamanya kembali seperti dulu. Seperti pada awalnya semua itu belum dimulai. We were so happy.

Tak ada yang perlu ditakuti dalam hidup ini, Semua hanya perlu dipahami.
- Marie Curie

#nowplaying:아픔의 흔적  (A Trace of Pain) - Healer OST

Thursday, March 12, 2015

86 ㅡ ♕ Inikah Ketakutanmu, Youngyi-ah?

"Kau kenapa hari ini Pandae? Aneh sekali tingkahmu..." Ahn yang duduk tepat di hadapan seorang laki-laki tinggi, tanpa lemak dengan kacamata ala korean boy menghiasi wajah yang sedikit menarik itu menatapnya heran. "Wah...makanan ini enak sekali!" Laki-laki bernama Pandae itu tertawa sendiri, tak menghiraukan Ahn yang sedang menatapnya lekat. "Oh! Galau Syndrome detected." Ahn menyeringai, kemudian menyantap tali panjang berkuah yang tersedia di atas meja.

"Kita tak boleh dihujani masa lalu." Lubuk hati menyentuh pikiran sendu Ahn.


************************************
Masa lalu ada di belakang kita, cinta ada di depan dan di sekeliling kita.
- Emme Woodhull-Bache

************************************

Pandae yang sedari tadi memang bertingkah aneh tiba-tiba melingkarkan lengannya yang panjang di bahu Park Bom. Ya, Park Bom selalu ada kemanapun Youngyi pergi. Ini aneh? tidak juga. Ya sudahlah. Ahn Youngyi tersenyum lembut menatap keduanya yang sedang tertawa, bermain. 
"Oh ya, kalau dilihat-lihat yang paling anteng-anteng saja hanya kau, Youngyi. Aku tak pernah melihatmu dengan pria, Youngyi-ah." Sebuah suara berat terdengar membuyarkan lamunan Youngyi akan keinginan diperlakukan seperti Park Bom disana. "Hmm...? Pria?" Ahn tertegun. "Yoondo? Youngyi pernah dengan Yoondo bukan ketika ia masih menjadi Song Joohee." Park Bom mengambil alih keadaan untuk menjawab sambil terkekeh kecil. "Wah wah, lihatlah temanmu yang satu ini. Mengapa kau membawa masa lalu? Tidakkah harusnya kita melihat masa sekarang?" Laki-laki dibelakang kemudi yang tadi bertanya kini menambahkan pertanyaan lagi dan lagi. Ia, Bebe. "Maksudku, aku tak pernah melihat Youngyi bersama dengan seorang laki-laki." Bebe menambahkan sambil memutar setir mobil menuju ke kafe yang dituju. "Ya...kita tetap harus menerima masa lalu untuk masa depan yang lebih baik." Youngyi terdiam dan hanya bisa tersenyum menanggapi semua pertanyaan dan pernyataan yang tertubi-tubi menghantam kepala dingin dan hati panas Youngyi. Bebe dan Bom mengambil alih keadaan, membicarakan Youngyi di dalam mobil. Cara yang tepat untuk menghilang dari situasi semacam ini bagi Youngyi adalah dengan mengalihkan pandangannya ke sisi poninya yang terurai, melihat jalanan dari layar kaca mobil yang sedikit gelap. "Ya.." Ia menjawab pelan. "Aku pun tak tahu mengapa..." Senyuman halus ciri khas dari perempuan bernama Ahn Youngyi ini terlihat kembali. 

"Aku tak pernah dekat dengan laki-laki. Laki-laki tak pernah mendekatiku. Begitulah hidupku. Aku tak percaya mereka, belum. Aku belum berani mengenal mereka, ya. Apakah mereka pun begitu? Mereka tak percaya padaku? Aku tak menarik. Aku tahu. Aku bingung bagaimana harus percaya dan mulai mengenal mereka. Aku tak punya daya tarik. Aku redup. Aku takut. Aku tak tahu harus bagaimana. Bagaimana cara mengenal mereka kembali? Aku lupa bagaimana caranya. Aku lupa bagaimana rasanya. Aku lupa semuanya. Orang-orang dalam masa laluku telah bahagia. Satu per satu dari mereka telah menemukan kebahagiaan yang terbaik. Aku tak iri, ya bohong. Aku sedikit iri. Bagaimana mereka dapat memulainya kembali? Apakah mereka pernah lupa bagaimana cara memulainya? Atau tidak? Aku rasa mereka tak lupa. Mereka hebat. Aku ingin mulai berjalan. Aku ingin mulai tertarik. Aku ingin menggapai kebahagiaan. Aku ingin melakukan semuanya. Tapi, aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak tahu harus berbuat apa. Apakah ini yang dinamakan ketakutan? Apakah ini yang dinamakan jalan buntu? Bisakah aku sembuh? Bisakah aku memulainya kembali? Inikah ketakutakanmu, Youngyi-ah? Inikah ketakutanmu selama ini yang tak bisa kau sembuhkan sampai detik ini? Hati itu terlalu mati untuk memulai. Otak ini terlalu rusak untuk berfikir. Badan ini terlalu bingung untuk melangkah. Haruskah aku tetap berada di tempat ini, memandangi diriku sendiri yang sangat tak menarik? Aku mohon, aku hanya ingin sembuh. Aku hanya ingin menemukan jawaban dari semua pertanyaanku..." Helaan napas panjang terdengar dari sisi Ahn Youngyi sebelum melangkahkan kaki turun dari mobil Bebe dan menuju ke pintu masuk kafe.


Hatimu sakit? Harusnya sih tak apa.
Lukamu belum sembuh? Pelan-pelan semuanya akan berakhir.
Kau bingung? Aku juga tak tahu.
Kau takut? Aku lebih takut.
Kau tak menarik? Aku terlupakan.
Kau suka berbohong? Aku tidak, hipnotis yang kulakukan.
Pernahkah kau rasakan hal yang sama? Mungkin kita bisa berteman. 


Aku takut, aku memang sendiri.

Perbedaan antara mencoba (try) dan kemenangan (triumph) hanyalah secuil tenaga (umph)
- ANONIM

Tuesday, March 10, 2015

84 ㅡ ♕ Ketertarikan, bahagia yang sederhana.

"Ketertarikan itu adalah hal yang wajar." Begitulah sepotong kalimat penuh arti terucap dari bibir Ahn, seorang perempuan yang dikatakan manja oleh orang-orang di sekelilingnya hari ini. Tak menyangka kalimat seperti itu dapat diucapkannya, ia mengedipkan mata berulang kali tanda ia kaget. "Semua orang di dunia ini pasti pernah merasa tertarik satu dengan yang lainnya."

"Hmmm...ciptaan Tuhan banyak macamnya sih." Ia menambahkan dan membuat seseorang di ujung telefon genggam terkekeh, terdengar suara berat dengan nada yang selalu dapat membuat orang yang mendengarnya tertawa dan merasa nyaman.

Ya, itu adalah hal yang wajar. Ketertarikan akan sesuatu adalah hal yang sangat wajar. Namun, benarkah ketertarikan pada seseorang merupakan hal yang benar? Coba kita lihat. Youngyi-ah, kau tertarik dengannya? Ya. Aku memang tertarik. Buktinya? Semua yang dilakukan orang itu selalu benar di mataku. Lalu, apa yang kau rasakan? Aku senang hanya dengan memandangnya tertawa. Hmm...pernahkan ada keinginanmu untuk memilikinya? Ya, tak berani bicara bohong, pernah. Pernahkah kau paksakan? Tidak. Tentu tidak. Mengapa? Bolehkah kini Ahn Youngyi mulai berbicara? Ketika kau merasakan ketertarikan itu, kau akan belajar dewasa. Kau akan mengetahui keadaan bagaimana yang harus kau lalui. Ketika kau mengerti akan keadaan itu, maka bersiaplah rasa sayang itu muncul. Ketika rasa itu muncul, kau tak akan sanggup menyakitinya. Menyakitinya dalam arti kau paksakan kehendakmu dan menentang keadaan yang semestinya. If you know what i mean. Tidakkah kau sakit karena tak mendapatkannya? Kau akan belajar dan belajar dan belajar sampai kau benar-benar dewasa bahwa jawaban itu pasti, Tidak. Kau tak akan sakit. Kau pasti bertanya, "Mengapa?" jika kau belum benar-benar memahami. Ya, jawaban dewasanya adalah tidak. Kau akan terus ingin berada di sampingnya dan memandangnya tertawa karena rasa sayang itu tak akan pernah hilang, meskipun kau tak memilikinya. Kau akan bahagia hanya dengan tertawa bersamanya. Kau akan bahagia hanya dengan bercanda gurau dengannya. Kau akan bahagia hanya dengan memandangnya tenang di sampingmu, dalam hidupmu. Sayang dan suka adalah 2 hal yang berbeda. Apa yang harus kau lakukan pada akhirnya? Syukuri hal itu. Karena kau telah mengerti arti yang sesungguhnya. Karena kau pernah merasakannya. Karena kau tulus. Karena kau telah dewasa. Ingatlah, setiap kali kau berada di sampingnya...bersiaplah untuk kembali jatuh hati. Mengapa? Karena rasa sayang tak akan pernah hilang.



Cinta bukanlah cinta bila berubah setiap kali ada perubahan. 
- William Shakespeare

Jadi....? Pernahkah kau merasa tertarik dengan seseorang? Apakah ketertarikan itu sama dengan yang dirasakan Ahn Youngyi? Persis? Jika Ya, mari bersama-sama dengan Ahn Youngyi menjadi dewasa setiap harinya dalam menyikapi perasaan ketertarikan ini. Jika Tidak, mungkin kau bisa melihat kembali benarkah itu suatu ketertarikan...ataukah hanya suatu keinginan untuk lepas dari kesendirian?

"Ketertarikan pada seseorang adalah hal yang wajar."
"Bahagia itu sederhana."

Saturday, January 10, 2015

51 ㅡ ♕ Runaway, Break The Chicken Soup's Bowl!

Aku ingin lari darimu,
Tapi bila kau tak datang dan menemukanku...
Aku akan mati.
- Shirley Bassey.


Dia adalah seorang pelari. Dia bukan pelari dalam pengertian biasanya. Dia lari dari cinta. Cinta membuatnya sangat ketakutan, dan tidak tahu mengapa. Ada sesuatu tentang perasaan yang sebegitu indah yang menimbulkan rasa takut pada dirinya yang tidak seperti hal lainnya. Mustahil merasakan yang indah tanpa mengetahui bahwa kita akhirnya akan terluka. Begitulah yang selalu ada di pikirannya selama ini.

Salah satu harapan tertingginya di dalam hidup adalah hidup dengan si dia yang istimewa. Orang yang membuat kita merasa betah karena berada bersamanya. Orang yang membuat hati kita mencair dengan penampilan yang biasa saja. Orang yang memahami bahwa dia adalah pelari, dan tetap menantikannya dengan sabar sampai dia lelah, dan menoleh ke wajah yang sudah pernah dia hadapi - bahwa cinta akan menjadi lebih kuat seiring waktu.

Dan dengan orang yang tepat, cinta bisa berkembang menjadi sesuatu yang melampaui impianmu yang paling tinggi. 

Dia akhirnya bertemu denganku. Aku memandangnya sebagai cinta dalam hidupku. Untuk sementara waktu, paling tidak. Maksudku, masih ada sedikit sisa keinginannya untuk berlari. Aku menyadari itu dan berulang kali aku memberinya ruang. Tak ada ikatan. Tak ada batasan. Ketika dia datang, aku menyambutnya, dan menyediakan hatiku untuk dia sandari. Aku memaafkan, tetapi tidak melupakan. Untuk itu aku tahu dia merasa bersyukur. Dia membutuhkan pengingat, meskipun aku kadang-kadang terlalu samar mengingatkan. Ketika dia mundur dan menatap mataku, yang mudah dilakukan ketika orang jatuh cinta, dia melihat nyeri yang diakibatkan oleh ulahnya. Itu sudah cukup untuk membuatnya lari selamanya, karena yang paling tidak diinginkannya adalah membuat orang lain terluka. Terutama menyakiti seseorang yang mungkin begitu dia cintai. Tapi bila dia lari dariku dengan niat tak pernah kembali, dia pernah mencobanya sekali, kami berdua hanya menjadi pecundang.

Begitulah kami belajar sesuatu dari melarikan diri dari cinta sejati. Tidak mungkin. Cinta sejati tidak akan mengejar ke mana pun kita pergi. Cinta sejati ada di dalam diri kita. Cinta itu menjadi bagian dari hidup yang harus diakui. Memang sudah seharusnya begitu.

Hari-hari berlalu, kini dia sudah semakin jarang berlari. Kalaupun berlari, dia tak pernah menyimpang terlalu jauh dari rumah, karena di hatinya yang paling dalam, dia tahu aku juga mencintainya. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini sebelumnya. Ya ampun, aku tak pernah bisa begini. Cinta bisa jadi apa saja, tetapi ujung-ujungnya, cinta menjadi sebatas apa yang kita perbolehkan - bukan menjadi yang kita ciptakan. 

Tidak ada tempat untuk berpaling lagi ketika kau menemukan tujuanmu, dan itulah hal yang menyenangkan. Karena, asal tahu saja, dia sudah lelah berlari.




Jay Rylant
("aku" <-> "dia") 






Friday, January 9, 2015

50 ㅡ ♕ The Selfie Life of Chicken Soup

Lebih baik pernah mencintai lalu patah hati ketimbang 
tak pernah mencintai sama sekali
- Alfred Lord Tennyson.

Aku bukan orang penggugup tetapi rasanya aneh saja bagiku untuk merasa gugup pada pertemuanku dengan Kim Hanbin untuk kesekian kalinya. Akhirnya aku sadar tentang kenyataan yang sudah menghantuiku sejak pertama kali bertemu dengannya, suatu kenyataan yang sudah lama kucoba abaikan, suatu kenyataan yang harus kuakui, kenyataan yang berhak didengar olehnya, kenyataan yang perlu dipercayainya - Kim Hanbin adalah model standar yang kugunakan untuk menilai laki-laki lain.

Sedikit pun aku tidak tahu pertemuan kali ini merupakan awal perjalanan yang mencerahkan yang akhirnya akan memberiku pengetahuan bahwa mengikuti kata hati terbukti tidak cukup bila kita membiarkan rasa takut menimbulkan keraguan atau hambatan paling kecil sekalipun. 

Perjalanan berikutnya merupakan suatu pengalaman jatuh bangun. Pada masa-masa senang kami bisa ngobrol berjam-jam, tertawa-tawa, dan menikmati kebersamaan seakan-akan suka-duka dan segala sesuatunya di dunia benar-benar tak berarti. Aku merasa diriku benar-benar nyaman dengan upaya hasil  rekaanku sendiri - yaitu membuat dirinya senyaman, seaman dan sebahagia mungkin. Aku merasa sepasang matanya mengungkapkan bahwa dia membalas semua perasaanku.

Semua laki-laki yang pernah kukencani di masa lalu memiliki kualitas yang kudambakan (kecerdasan, rasa humor, ketampanan lahir/batin, dan kasih sayang), namun semua karakteristik itu belum pernah menyentuh hatiku. Aku butuh lebih dari semua itu. Aku butuh seorang laki-laki yang dengan kemampuannya yang unik menguatkan dan memberiku inspirasi secara mendalam, seorang laki-laki yang memaksaku menjadi orang yang lebih baik hanya karena dia tahu aku berhak atas yang benar-benar terbaik yang dapat kutampilkan, seorang laki-laki yang kesehatannya kupandang setara atau bahkan lebih penting lagi daripada kesehatanku sendiri. Semua itu kuyakini ada dalam diri Kim Hanbin meskipun sebenarnya tidak. Seorang laki-laki yang menyentuh hatiku.

Akhirnya kami pun pelan-pelan merenggang, membuatku bertanya-tanya mengapa lingkaran setan hangat-dingin ini terus berlanjut selama berbulan-bulan. Apakah itu karena kami berdua sama-sama takut untuk saling percaya dengan tanggung jawab yang menyertai yang dipersyaratkan oleh suatu hubungan yang erat? Mungkin seluruh instingku itu keliru dan dia sebenarnya belum pernah merasakan seperti yang kurasakan terhadapnya. Apapun alasan yang sebenarnya, perasaanku terhadapnya tidak berbuah sedikit pun. Anehnya, aku tak peduli apa alasan sebenarnya; yang penting bagiku adalah dia bahagia dan aman. Meski aku begitu mendambakan untuk jadi orang yang membuatnya menyunggingkan senyum yang tak tertandingi itu, aku akan puas bila tahu dia tersenyum dan diperlakukan seperti emas (sebagaimana layaknya dia) oleh orang lain.

Meski berbagai hal kemudian menjadi sama sekali berbeda dari yang kuperkirakan, aku mendapatkan pelajaran berharga dari pengalaman-pengalamanku bersama Kim Hanbin. Sejujurnya saja, meski aku sudah menyebut Kim Hanbin sebagai "seseorang yang terlepas", aku yakin rasa takut dan bimbang yang ada dalam diriku yang akhirnya memisahkan kami. Itulah yang membuat Han Yeoreum, "Yang Tak Pernah Lekang" ini menjadi lebih berarti ketimbang apapun. 

Kendati aku senang bila bisa kembali ke masa lalu dan bisa mengubah apa yang telah terjadi di antara kami, Aku tak memendam penyesalan. Aku mengikuti kata hati, dan meski dia tidak benar-benar membalas perasaanku, bagaimanapun dia berhak mendapatkan kebaikanku. Aku sadar bahwa bila orang seistimewa Kim Hanbin datang ke dalam hidupmu, demi dirinya kau juga akan mengikuti hatimu dan mempertaruhkan segalanya sebagai perempuan. Kalau tidak, kau akan membiarkan rasa takut membatasi masa depanmu, membuatmu hanya menggengam kenangan tentang "seseorang yang terlepas" atau lebih buruk lagi, kenangan-kenangan "Yang Tak Pernah Lekang" yaitu kenangan tentang seseorang yang tidak ingin kau ingat tapi tidak bisa kau lupakan karena kau begitu tulus memperjuangkannya. 


Jeffrey Nathan Schirripa
female ver. story
 

Tuesday, January 6, 2015

47 ㅡ ♕ Believe in Chicken Soup

Kita dapat mengenali seseorang lebih jauh dengan satu jam bermain dengannya ketimbang setahun bercakap-cakap degannya.
- Plato

Dan ketika dia membicarakan pemahaman, aku menengadah dan melihat pelangi mengilas dengan cahaya warna-warni di atasku.
- Black Elk

Orang yang bahagia bukanlah yang berada dalam kondisi-kondisi tertentu, melainkan orang yang memiliki sikap tertentu.
- Hugh Downs

Kita mencintai bukan dengan menemukan orang yang sempurna, tetapi melihat ketidaksempurnaan dengan sempurna.
- Sam Keen

Orang memaafkan sejauh dia mencintai.
- La Rochefoucauld


Mengapa tidak berani menentang arus? Bukankah ada buah di sana?
- Frank Scully

"Aku tidak sedang ingin bertemu seseorang. Aku sudah punya kehidupan yang menyenangkan. Seorang laki-laki hanya akan membuat hidupku jadi kacau. Lagi pula, kalaulah Tuhan menghendaki aku menikah, tidakkah menurutmu Dia lah yang akan membawakanku seseorang yang tepat pada waktunya?

Temanku terlihat ragu-ragu ketika memandangku lewat asap yang menguap dari cangkir cappucino kami. "Apakah tak pernah terpikir olehmu bahwa Tuhan menghendaki kaulah yang mencari? Memang, kau sudah punya karier mengajar, rumah sendiri, seorang anjing Baegle, dan kemandirianmu. Mungkin hubungan yang indah akan memperkaya hidupmu yang sudah nyaman."

Dengan mengakar, pernyataan itu sudah menyebar seperti tanaman rambat dan, dalam cerita Alkitab tentang Ibrahim, yang mengutus pembantunya mencarikan istri untuk anak lelakinya, Ishak. Ibrahim tidak hanya duduk-duduk saja dan menggoyang-goyangkan ibu jari, menantikan perempuan muda mengetuk pintu kemahnya. Rencananya melibatkan tindakan yang direncanakan.

Aku menetapkan untuk memulai kencan online. Puluhan laki-laki telah aku temui demi menemukan seseorang yang tepat untukku. Aku berniat untuk menghentikan kencan online ku apabila dalam seminggu ini memang tidak ada yang cocok denganku. Pada tanggal 30 Juli 2007, aku berjumpa dengannya ditemani oleh kopi latte. Kami sama sekali tak kesulitan menandai masing-masing, karena sama-sama memajang foto kami yang terakhir. Kami ngobrol berjam-jam dan sepakat untuk bertemu lagi, lagi dan lagi, dan lagi, dan lagi.  Perlahan-lahan kami saling mengenal sebagai teman. Aku terkesan oleh budi baiknya, rasa hormatnya padaku, dan kenyataan bahwa Ia menyukai anjing-anjingku. Kami memiliki banyak sekali kesamaan. Namun, dengan senang hati menerima perbedaan di antara kami masing-masing

Pada hari Natal 2008, dia melamarku, dan kami menikah pada tanggal 4 April 2009.
Semua ini terjadi karena kami memilih untuk keluar dari segala sesuatu yang sudah biasa dan jadi tradisi, untuk mempercayai Tuhan, dan mengambil resiko untuk melakukan kencan online, bergiga byte dari telepon Princess-ku yang berwarna pink.


Laurel Hausman


Paskah menyiratkan keindahan, keindahan hidup baru yang langka. 
- S.D. Gordon

Orang-orang selalu mengatakan, "Kau akan langsung tahu begitu saja, dan itu akan terjadi ketika kau sedang sama sekali tidak mengharapkannya." tetapi aku tak percaya pada mereka.

Kini, setelah ratusan kencan, "mereka" memang benar. Kau akan tahu begitu saja, dan itu terjadi pada saat kau paling tidak mengharapkannya. Setelah berpacaran lama dengan teman kuliahku di Midwest, aku tak pernah berpikir akan menemukan cinta seperti itu lagi. Namun, setelah bertemu David, aku sadar bahwa aku bisa jatuh cinta lagi. Beberapa bulan setelah kami mulai berpacaran, kusampaikan kepada David.

"Terima kasih ya, sudah ada di acara makan malam di luar acara Paskah itu."  
"Terima kasih juga sudah menjadi dirimu." Jawabnya.

Natalia K. Lusinski


Monday, January 5, 2015

46 ㅡ ♕ Feel The Chicken Soup

Kita mengetahui sedang jatuh cinta jika kita tak bisa tidur karena kenyataan jauh lebih indah daripada mimpi-mimpi kita.
- Dr. Seuss

Tidak ada di dunia ini yang semanis cinta. Dan persis di sebelah yang termanis itu adalah benci.
- Henry Wadsworth Longfellow

Cinta bukanlah sesuatu yang kautemukan. Cinta yang datang menemukanmu.
- Loretta Young

Ambillah kesempatan! Seluruh hidup ini memuat kesempatan. Orang yang berjalan paling jauh biasanya adalah orang yang berani dan mau berusaha.
- Dale Carnegie

Tak ada yang perlu ditakuti dalam hidup ini. Semua hanya perlu dipahami.
- Marie Curie

Setiap orang punya nasib masing-masing; yang harus dilakukan hanyalah mengikutinya, menerimanya, ke mana pun nasib membawanya.
- Henry Miller

Tak ada yang namanya kebetulan; dan apa yang kelihatan sebagai suatu kebetulan muncul dari suatu sumber takdir yang lebih dalam.
- Johann Friedrich Von Schiller

Ada dua macam pijar, yang pertama langsung menyala dengan sekali jentik, tetapi lekas padam. Yang lainnya adalah yang memerlukan waktu menyala, tetapi begitu menyala...apinya abadi, jangan lupa itu.
- Timothy Oliveira

Kita berdua sudah ditulis di bintang-bintang, kekasihku, yang memisahkan kita hanyalah waktu, waktu untuk membaca peta di dalam hati kita, untuk menemukan jalan kembali untuk bersatu lagi.
- Unknown

Jangan sekali pun pernah menyerah.
- Winston Churchill 

Hellooooo! I'm reading a book hehe! It's "Chicken Soup for The Soul: True Love". I haven't done reading this all and i'll take my time to enjoy. Cerita-cerita inspiratif yang menarik buat dibaca. I'm Chicken Soup for The Soul fan so yeah love it soooo muchos.
Byeyeom!

Good Luck!